Perkuat Peran Keluarga Melalui Bacaan

Tentang kepemimpinan, Jerry McClain mengatakan, The best example of leadership is leadership by

Editor: Dion DB Putra
net
Ilustrasi 

Oleh Emanuel Dapa Loka
Wartawan Lepas dan Penulis Biografi

POS KUPANG.COM - "Jangan hanya mau enaknya, tapi tidak mau anaknya". Begitu ungkapan nyeleneh yang kerap muncul tatkala melihat orangtua yang tidak peduli dengan pendidikan anak-anak mereka. Dengan aneka alasan, mereka membiarkan anak tumbuh sendiri tanpa "skenario" apa pun.

Untuk keadaan hari ini, "pendidikan anak tanpa skenario" benar-benar sudah kedaluwarsa. Tantangan dan impitan yang terbentang di mana-mana harus menyadarkan atau memaksa orangtua siuman terhadap pentingnya pendampingan atau pendidikan yang benar terhadap anak. Pendidikan yang dimulai dari keluarga harus punya visi. Bukankah anak lahir dalam keluarga? Dan hal yang harus benar-benar disadari, pendidikan yang paling ampuh adalah pendidikan dengan contoh.

Tentang kepemimpinan, Jerry McClain mengatakan, The best example of leadership is leadership by example atau contoh kepemimpinan yang paling baik adalah kepemimpinan dengan contoh. Mari mengadaptasi ungkapan Jerry tersebut menjadi The best example of education is education by example atau contoh pendidikan yang paling baik adalah pendidikan dengan contoh. Keinginan orangtua agar anaknya menjadi anak yang baik melalui teladan yang baik, serta-merta akan mengondisikan sang orangtua juga menjadi orang baik pula.

Salah satu contoh terbaik yang para orangtua bisa berikan kepada anak-anak adalah kebiasaan membaca. Malah, tanpa berlebihan bisa dikatakan, warisan maha penting yang harus diwariskan kepada anak-anak adalah kebiasaan membaca. Mengapa? Karena kegemaran membaca bisa menjadi modal amat penting bagi anak dalam mengarungi masa depan. Anak yang gemar membaca memerlukan sedikit saja improvisasi kreatif untuk mandiri.

Tidak sulit lagi mengarahkan seorang anak yang rajin membaca untuk menjadi penulis sebab dia telah memiliki tabungan wawasan dan pengetahuan tentang banyak hal. Imajinasinya pun sudah lincah dan kaya. Dia juga akan bisa memandang sebuah persoalan dengan perspektif yang luas sebab akalnya panjang, luas dan dalam serta lebih matang dibanding yang lain.

Kekurangan Bacaan?
Yang sering dikeluhkan adalah kurangnya bacaan. Siapa bilang? Bisa jadi benar di tempat tertentu, dan ini sangat kasuistik. Dengan keadaan minat baca yang rendah, kita sama sekali tidak kekurangan bacaan. Apalah gunanya bacaan berlimpah jika anak-anak kita tidak memiliki minat baca? Bacaan-bacaan itu akan teronggok begitu saja sampai akhirnya hancur dimakan ngengat lalu dibuang. Banyak anak yang sangat dekat dengan aneka bacaan, namun tidak memiliki keinginan membaca yang tinggi.

Dengan begitu, yang perlu dibenahi adalah minat baca. Orangtua dan kemudian anak harus merasa memetik manfaat dari membaca baru mereka mau membaca. Maka yang perlu dilakukan adalah kampanye tentang manfaat membaca. Hal ini harus dilakukan dengan intensif disertai contoh keuntungan konkret dari membaca itu. Bila perlu sampai ke tingkat RT diadakan lomba membaca yang merangsang minat baca anak-anak.

Kebanyakan dalam keluarga dan sekolah, membaca atau ajakan membaca tak ubahnya ajakan kosong. Mereka yang mengajak baik orangtua maupun guru sama sekali tidak menunjukkan minat baca-apalagi bisa menunjuk secara konkret keuntungan dari membaca berdasarkan pengalaman. Guru di sekolah, untuk pelajaran bahasa Indonesia atau pelajaran lain, acap menyuruh anak membuat klipping tentang sesuatu dari tulisan-tulisan di koran atau majalah.

Setelah anak-anak membuat dan mengumpulkan, klipping-klipping itu hanya ditumpuk tanpa bermanfaat sedikit pun untuk anak. Mestinya, melalui tugas tersebut, guru bisa memicu rasa ingin tahu anak didik, merangsang imajinasinya dan mendorong mereka membaca untuk mengeksplore minat sang anak.

Wartawan senior H. Witdarmono mendirikan Koran Anak BERANI untuk memicu dan memacu anak untuk membaca. Koran ini tidak memiliki banyak iklan, namun Witdharmono menerbitkannya selama lebih dari sepuluh tahun secara berdarah-darah dengan sebuah tujuan utama membangkitkan minat baca anak-anak dan para guru. Tapi kemudian koran tersebut harus mati mengenaskan karena tidak mendapat dukungan. Hanya beberapa sekolah yang mendukung. Padahal sajian koran tersebut menarik dan kaya dengan berbagai macam pengetahuan.

Hemat saya, hasil survei UNESCO pada 2011 yang menempatkan tingkat membaca masyarakat Indonesia pada angka 0,001 persen, bukan karena ketidaktersediaan buku, tapi karena memang banyak orang Indonesia yang tidak mau, atau tidak suka membaca.

Maju Karena Membaca
Sangat benar bahwa negara-negara seperti AS, Jerman, Jepang dan lain-lain maju karena masyarakatnya banyak membaca. Namun yakinlah, mereka tidak serta-merta gemar membaca. Mula-mula mereka melihat ada manfaat dari membaca, ada rangsangan lalu mereka memburu bacaan. Menjawab kebutuhan yang ada, lalu pemerintah menyediakan bacaan melalui berbagai regulasi semisal undang-undang tentang perbukuan. Jangan dibalik.

Tentu saja kita tidak perlu kembali ke cara-cara negara-negara maju itu pada ratusan tahun lalu saat mereka memacu minat baca warganya. Indonesia sudah maju sedemikian rupa. Penyediaan buku dan upaya memacu minat baca harus dilakukan secara sinergis. Yakinlah, bukan karena bacaan tersedia lalu minat baca muncul, tapi bagaimana orang mendapat manfaat dari membaca itu. Benar! Dengan banyak membaca, anak selalu terangsang untuk bertanya "mengapa dan bagaimana". Kedua kata tanya tersebut merupakan alat picu untuk masuk ke alam pengetahuan amat luas.

Hasil studi deskriptif yang dilaksanakan Central Conecticut State University, AS, yang diumumkan belum lama ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya (Haidar Bagir, Kompas, 28 April 2016). Negara dengan minat baca rendah dapat dipastikan memiliki kualitas pendidikan yang rendah juga. Hal ini terbukti dari hasil pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia. World Education Forum di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved