Breaking News

Komitmen untuk Rumah Bersama

Ensiklik ini lama dinantikan sebab sejak pada misa pelantikannya sebagai Paus pada tanggal 19 Maret 2013 Fransiskus

Editor: Dion DB Putra
Dailymail
Paus Fransiskus Mengecup Kepala Gianna Bocah Penderita Tumor Otak 

Menghadapi kondisi alam dan manusia seperti ini, maksud Paus Fransiskus adalah mengajak semua manusia untuk bekerja sama menjaga alam sebagai rumah kita bersama. Tema dialog menjadi salah satu tema sentral di dalam Laudato Si. Paus mengajak semua untuk masuk ke dalam "satu dialog baru tentang bagaimana kita menata planet kita ini. Kita memerlukan satu solidaritas baru" (#14). Masalah lingkungan menunjukkan secara amat nyata betapa semua penghuni bumi saling terhubung.

Apa yang dilakukan manusia mempunyai pengaruh terhadap binatang dan tanaman, dan apa yang dibuat orang di belahan dunia utara mempunyai dampak yang dirasakan oleh mereka yang berada di selatan. Karena menjadi penghuni bumi yang satu yang terkait secara organis, maka kebersamaan menjadi satu keharusan untuk menghadapi persoalan bumi.

Sebagaimana PBB telah mempersatukan para pemimpin politik bangsa-bangsa untuk melakukan sesuatu demi menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celcius (2C) dan berupaya menekan hingga 1,5 Celsius, maka agama-agama pun mestinya menggalang potensinya sebagai motivator untuk mendorong umat manusia mengambil langkah yang perlu untuk mengimplementasikan tekad ini. Agama-agama tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada para politisi, sebab hal itu berarti mengingkari keyakinan dasariah agama-agama bahwa bumi diciptakan Tuhan untuk dipelihara demi kebaikan semua.

Kontribusi agama-agama amat diperlukan untuk selalu mengingatkan keterkaitan antara krisis lingkungan hidup dan penderitaan para miskin. Dalam Laudato Si Paus Fransiskus berbicara mengenai pendekatan integral atau ekologi integral. "Kita tidak dihadapkan pada dua krisis yang terpisah, di satu pihak krisis lingkungan hidup dan pada pihak lain krisis sosial, melainkan satu krisis yang kompleks yang menyangkut lingkungan dan serentak bersifat sosial. Sebab itu, strategi untuk menyelesaikannya menuntut satu pendekatan integral untuk mengentas masyarakat dari kemiskinan, memulihkan martabat orang-orang yang terpinggirkan dan pada saat yang sama melindungi alam" (#139).

Tampaknya, keterkaitan ini masih belum menjadi kesadaran umum. Diperlukan pendidikan yang terus menerus untuk membuka mata orang supaya melihat persoalan kerusakan lingkungan, dan menangkap bahwa ada mata rantai yang mengaitkan pencemaran lingkungan dan keterpurukan situasi orang-orang miskin. Untuk itu, agama-agama, juga tradisi-tradisi lokal, perlu menggali khazanahnya dan mempromosikannya secara lebih vokal demi kepedulian akan rumah kita bersama.*

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved