Komitmen untuk Rumah Bersama

Ensiklik ini lama dinantikan sebab sejak pada misa pelantikannya sebagai Paus pada tanggal 19 Maret 2013 Fransiskus

Editor: Dion DB Putra
Dailymail
Paus Fransiskus Mengecup Kepala Gianna Bocah Penderita Tumor Otak 

Setahun Laudato Si

Oleh Paul Budi Kleden, SVD
Rohaniwan Katolik, Tinggal di Roma

POS KUPANG.COM - Tanggal 24 Mei yang lalu ensklika Paus Fransiskus tentang lingkungan hidup, Laudato Si (Pujilah Tuhan), genap berusia setahun. Untuk memperingati hal ini dan demi tetap menarik perhatian orang akan penting dan mendesaknya komitmen yang jelas dan tegas untuk memperjuangkan perwujudan intensi ensiklik ini, tanggal 12 sampai 19 Juni dilansir sebagai pekan Laudato Si.

Ensiklik ini lama dinantikan sebab sejak pada misa pelantikannya sebagai Paus pada tanggal 19 Maret 2013 Fransiskus berbicara mengenai tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Juga karena nama yang dipilihnya mengingatkan orang akan Santo Fransiskus Asisi yang menyapa bumi sebagai saudari dan merasa bersahabat serta memelihara persahabatan dengan segala isi bumi. Vatikan agaknya menunda penerbitan ensiklik sampai beberapa bulan sebelum dimulainya konferensi PBB untuk perubahan iklim di Paris pada 30 November - 12 Desember 2015.

Bersama dengan berbagai dokumen dan usaha lain dari beragam organisasi lain, Laudato Si memberi kontribusi untuk memperluas kesadaran orang akan keadaan bumi yang sedang menghadapi permasalahan serius dan secara mendesak memerlukan usaha konkret untuk membatasi perusakannya.

Paus Fransiskus sangat sadar bahwa masalah lingkungan dan kewajiban untuk mengatasinya bukan hanya persoalan orang-orang di negara maju atau para pegiat LSM. Semua penghuni bumi memiliki tanggung jawab untuk melakukan sesuatu untuk mengurangi beban yang dipikulkan pada bumi. Promosi kesadaran lingkungan pun tidak dapat diklaim sebagai monopoli satu agama atau satu pandangan hidup tertentu.

Semua khazanah rohani dan kekayaan kebudayaan manusia mesti dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran untuk peduli lingkungan dan mendorong aksi nyata cinta alam.Telaah para ahli modern serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditemurunkan dari para leluhur menyimpan segudang pengetahuan sebagai pendorong motivasi untuk semakin peduli terhadap alam.

Paus Fransiskus, baik sebelum maupun sesudah menerbitkan Laudato Si, sudah memperhitungkan bahwa berbicara tentang kerusakan alam dan mengajak orang untuk berubah pola hidup bukanlah satu soal yang muda. Kendati polusi dan pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim sudah menjadi kenyataan yang sulit dapat disangkali, tetapi masih ada sejumlah ahli yang menilainya sebagai sebuah tema yang direkayasa hanya untuk menimbulkan ketakutan.

Di antara mereka yang membenarkan adanya pemanasan global, tidak sedikit yang berpendapat bahwa ini terjadi semata-mata karena gejala dalam alam sendiri, seperti letusan gunung api. Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus menegaskan bahwa tanpa mengabaikan sebab-sebab lain, alasan paling utama dari polusi dan pemanasan global adalah karena ulah manusia. Pola produksi yang tidak ramah lingkungan, yang terobsesi pada peningkatan jumlah dengan biaya yang serendah mungkin, kebiasaan konsumsi yang hanya terpusat pada pemuasan kebutuhan sendiri berapa pun ongkos dan akibatnya untuk yang lain, serta cara pembuangan sampah yang tidak bertanggung jawab, adalah faktor-faktor utama yang menjadi sebab perubahan lingkungan yang kian parah.

Dengan sikap seperti ini Paus Fransiskus menjadi sasaran kritik para pemilik modal yang merasa terusik karena ingin terus memperbanyak kekayaannya berbasis anggapan bahwa alam bisa dieksploitasi tanpa kesudahan karena alam dilengkapi daya untuk merehabilitasi diri sendiri.

Ensiklik Laudato Si sebenarnya merupakan suara Paus Fransiskus untuk alam dan demi para miskin. "Apabila hati kita sungguh terbuka bagi persaudaraan universal, maka konsep persaudaraan ini tidak boleh mengucilkan apapun dan siapapun. Konsekuensinya, ketidakacuhan kita atau kekejaman kita terhadap sesama ciptaan penghuni bumi pasti cepat atau lambat akan mempengaruhi cara kita memperlukan sesama manusia kita" (#92).

Ketidakpedulian terhadap lingkungan adalah ketiadaan perhatian terhadap sesama manusia, terutama generasi mendatang dan para miskin. Sebab, kelompok yang paling rentan terhadap bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim, polusi air dan udara atau bencana banjir adalah orang-orang yang tidak memiliki sarana untuk melindungi dirinya dari serangan penyakit dan yang harus tinggal di wilayah yang paling berbahaya. Mereka tidak memiliki fasilitas dan tidak mempunyai relasi untuk membangun rumah di tempat yang aman. Sementara itu, kelompok yang paling banyak mendapat keuntungan dari penebangan hutan dan pertambangan, dari perkebunan-perkebunan besar dan pabrik-pabrik raksasa yang membuang limbahnya ke sungai-sungai, dari produksi fasilitas hidup yang menggunakan banyak energi, adalah orang-orang kaya yang mempunyai segala fasilitas dan relasi untuk menjauhkan diri dari akibat kerusakan alam.

Kerusakan alam adalah sebuah kejahatan terhadap alam dan kriminalitas melawan manusia. Ketika air semakin berkurang karena hutan yang ditebas atau sungai yang berpolusi, harga air bersih pun semakin meningkat. Yang menjadi korban banjir bandang atau bencana rob adalah keluarga-keluarga miskin yang hanya bisa membangun rumah sederhana di atas lahan yang terlalu dekat ke pinggir laut. Para ibu dari keluarga-keluarga miskin harus berpikir beberapa kali sebelum memberi minum kepada anak-anak mereka. Banyak keluarga terpaksa melarikan diri dari tempat tinggalnya karena tidak dapat lagi bertahan menanggung akibat dari kerusakan lingkungan.

Karena kondisi seperti ini, maka ada yang menyebut kerusakan lingkungan sebagai sebuah aksi teror. Dia menyerang orang-orang yang tidak bersalah dan menjadi hantu yang terus mengintai. Wilayah yang layak dihuni menjadi kian sempit dan semakin mahal, air perlahan menjadi komoditi yang harganya semakin sulit dijangkau. Semakin sedikit orang yang sanggup menjamin hidupnya, yang lainnya menjadi korban teror yang tidak berdaya.

Menurut catatan Bank Dunia, pada bulan November 2015 ada sekitar 702 juta penduduk dunia hidup dalam kemiskinan. Artinya, mereka yang tidak memiliki makanan yang cukup, tanpa air bersih yang cukup dan tidak mempunyai akses kepada pelayanan kesehatan. Menurut prediksi, apabila perusakan lingkungan yang kini terjadi tidak dibendung secara serius, maka pada tahun 2030 jumlah ini bertambah 100 juta orang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved