Kelor: Dapur, Pasar dan Altar

Sebelumnya pada sesi pemaparan visi dan misi para calon ketua umum, saya ditanya tentang apa yang akan

Editor: Dion DB Putra

Tesisnya adalah tanamlah kelor sebanyak-banyaknya karena memiliki nilai ekonomis yang bagus di pasar dalam negeri maupun pasar internasional. Kita tahu bahwa industri nutrisi dengan bahan pokok kelor sangat berkembang saat ini, seperti susu. Itu berarti, demand terhadap produk kelor sangat tinggi.
Kelor mesti beranjak dari dapur menuju pasar dan menembus altar. Mengapa altar? Altar adalah simbolisasi kuasa rohani.

Altar juga adalah tahta pengorbanan. Di altar terjadi kolaborasi antara yang kultis-liturgis dan profetis. Kelor mesti menembus altar. Pastor Piet Salu, SVD sudah menunjukkan hal ini. Altar baginya tidak saja kultis-liturgis sebagai seorang imam, tetapi juga penyaksian hidup profetis sebagai petani kelor.

Dari altar mengalirlah arus motivasi dan keteladanan bagi umat dan siapa saja yang dijumpai. Kita berharap kelorisasi juga bergema sampai ke altar-altar perjamuan, di rumah-rumah ibadat agar di sana tidak saja Firman diberitakan, tetapi kesaksian hidup, keteladanan dan motivasi dialirkan. Gereja juga perlu berbicara tentang kelor dan mulai menanam kelor. Umat atau jemaat merindu pastor/pendeta yang berbicara 'soal perut'. Perlu ada aksi nyata dari gereja-gereja kita saat ini di NTT untuk membudidayakan kelor semata-mata untuk pemberdayaan ekonomi umat/jemaat.

Dalam konteks ini, kelorisasi di NTT semestinya didukung penuh oleh pemerintah setempat. Jika kelor mampu menggairahkan ekonomi NTT, mengapa kita mesti pusing-pusing membuat program yang tidak mengakar dari bumi NTT sendiri? Kelor itu kita. Kelor itu NTT. Tanam kelor mengubah NTT lebih baik. Ini mesti yang menjadi spirit bersama kita.

Terus Membumi
Kelor, walau perlu meninggalkan dapur menuju pasar dan bersemi di altar, mesti tetap membumi. Salah satu langkah konkret sudah kami lakukan bersama dengan Pater Piet Salu, SVD pada tanggal 14 Mei 2016 lalu, melalui kegiatan penanaman 10 ribu anakan dan stek kelor di atas lahan seluas 1 ha di Desa Kabuna, Kabupaten Belu.

Aksi penanaman ini didukung juga oleh Pemerintah Kabupaten Belu dan Pemuda Tani serta Keluarga Besar FKPPI setempat. Spirit yang diusung adalah tanam kelor, bangun kampung, bangun Belu dan bangun Indonesia.

Saat ini saya bangga karena tidak hanya melihat kebun-kebun kelor milik orang lain, tetapi sudah memiliki kebun kelor sendiri, yang pada saatnya siap diolah di dapur, didorong ke pasar dan menembus altar. Kelor sebagai pohon mukjizat mesti membuat hidup kita penuh mukjizat. Jika kita tidak sanggup melakukan mukjizat besar untuk mengubah tatanan besar dan mentransformasi sebanyak mungkin orang, cukuplah kita melakukan mukjizat kecil dengan menanam kelor sebanyak-banyaknya di pekarangan dan lahan-lahan kosong yang masih kita miliki. Ini usaha kecil namun berdampak besar, sebagaimana kelor walau berdaun kecil tetapi bernilai luar biasa.

Akhirnya, kepada segenap pengurus Pemuda Tani Indonesia di daerah, khususnya di NTT, mari jadikan kelor sahabat kita. Kelor itu kita. Kelor sahabat kita, tidak saja di dapur, tetapi pasar pun altar. Ini potensi unggulan kita, yang bertumbuh subur di ladang dan lahan-lahan kita. Mari kita budidayakan agar NTT bisa menjadi nusa kelor.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved