Kebangkitan Civil Society

Masyarakat sipil tidak membisu ketika kepentingannya masih sering ditindas oleh aparatur negara dengan cara-cara Orde Baru.

Editor: Dion DB Putra

Oleh Dr. Martin Chen
Dosen STKIP St. Paulus Ruteng

POS KUPANG.COM - Civil society di Indonesia sedang menggeliat. Warga tidak takut ketika hak-haknya diinjak-injak. Mereka melawan dan memperjuangkan pembebasan.

Masyarakat sipil tidak membisu ketika kepentingannya masih sering ditindas oleh aparatur negara dengan cara-cara Orde Baru. Mereka memprotes dan mengorganisir gerakan perubahan. Gerakan tolak tambang yang menjamur di NTT serta gerakan tolak 'privatisasi' Pantai Pede di Labuan Bajo akhir-akhir ini kiranya menjadi contoh aktual kebangkitan masyarakat sipil.

Warga menolak bungkam ketika penguasa politik yang dipilihnya 'menggadai' tanah pusakannya kepada kompeni-kompeni Belanda berwajah baru. Kebangkitan civil society ini kiranya menjadi fokus gerakan bersama ketika bangsa ini mengenangkan dan merayakan hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2016.

Gerakan Budi Utomo
Civil society di Indonesia tidaklah baru lahir 'kemarin sore'. Gerakan ini telah ada dan mengalir di rahim bumi pertiwi sejak ratusan tahun yang lampau, ketika bangsa ini masih dijajah oleh kompeni Belanda. Pelbagai gerakan pembebasan yang dilakukan oleh anak-anak bangsa ini dari Sabang sampai Merauke merupakan bukti-bukti sejarah yang menarasikan kesadaran dan keyakinan akan otonomi diri dan kemerdekaan: Cut Nyak Din di Aceh, Si Singamangaraja di Batak, Diponegoro di Jawa, Patimura di Maluku.

Hanya sayangnya sejarah sering dimanipulasi. Sejarah seringkali ditulis dari perspektif penguasa dan untuk kepentingan penguasa. Bahkan sejarawan Indonesia juga tanpa sadar dihipnotis untuk berpikir dan menulis dari kaca mata penguasa/penjajah. Maka sangatlah menyedihkan gerakan-gerakan pembebasan justru ditulis dalam buku sejarah Indonesia sebagai aksi pemberontakan, misalnya pemberontakan Diponegoro, seolah-olah Belanda lah pemilik sah bangsa ini.

Kesadaran akan hak dan martabat civil society versus penjajah dan penguasa Belanda semakin mengkristal dalam gerakan Budi Utomo. Dipelopori oleh jebolan-jebolan sekolah kedokteran (STOVIA), pada tanggal 20 Mei 1908 dibentuklah di Batavia (Jakarta) untuk pertama kalinya sebuah perkumpulan anak-anak bangsa yang menyadari harkatnya sebagai pemilik sah ibu pertiwi. Mulanya, demi toleransi oleh penguasa Belanda, perkumpulan ini dalam anggaran dasarnya hanya menyebut kiprah di bidang pendidikan, pertanian dan ekonomi. Tetapi tak lama kemudian tuntutan politis Budi Utomo tidak takut untuk disembunyikan lagi.

Mereka menuntut perwakilan parlementer bagi orang-orang pribumi dan peradilan yang jujur dan adil. Sejalan dengan itu perhimpunan ini berjuang untuk membentuk kebersamaan dan solidaritas pelbagai suku yang ada di Indonesia. Bahkan kemudian tidak sedikit anggota-anggota Budi Utomo yang memperjuangkan pola non-kooperasi terhadap penjajah Belanda, terinspirasi oleh gaya perjuangan Mahatma Gandhi di India yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Inggris dengan cara damai antara lain melalui pemogokan. Kesadaran dan gerakan civil society melalui Budi Utomo inilah yang kemudian berperan besar menghidupkan kebangkitan nasional yang berpuncak pada pernyataan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Memoria Transformatif
Peringatan hari kebangkitan nasional hendaknya tidak menjadi perayaan sentimental-emosional belaka. Sudah terlalu banyak seremoni di negeri ini. Bangsa ini akan kehilangan rohnya bila hanya sibuk dengan merias kelemahan dirinya dengan kisah-kisah heroik masa lampau. Kenangan akan peristiwa historis masa lampau hendaknya tidak membuat orang lari dari pergulatan konkret yang dihadapi masa kini.

Sebaliknya peristiwa itu kiranya menjadi sumber inspirasi untuk merangkai masa depan baru yang sejati.

Johan Baptis Metz, teolog Jerman, berbicara tentang memoria yang tidak sekedar berarti ingatan akan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, tetapi memoria yang membuat peristiwa silam menjadi aktual sekaligus menjadi sumber motivasi dan semangat dalam kehidupan sekarang ini. Lebih dari itu memoria janganlah dimengerti sebagai kenangan pribadi terhadap peristiwa yang telah terjadi. Memoria tidaklah bersifat 'privat', melainkan suatu kenangan bersama yang mendorong dan membakar solidaritas untuk melakukan gerakan pembaharuan. Singkatnya, memoria itu bersifat transformatif.

Perayaan Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei kiranya menjadi sebuah memoria transformatif. Kenangan kolektif bangsa ini akan gerakan civil society memperjuangkan kedaulatan dan kebebasan anak-anak bangsa melawan hegemoni kompeni Belanda di masa lampau perlu menjadi gerakan bersama di masa kini untuk menegakkan martabat dan kedaulatan rakyat.

Rakyat tidak hanya berkuasa pada momentum Pilkada, Pileg dan Pilpres, tetapi juga terus mengontrol penguasa agar selalu membuat kebijakan publik demi kesejahteraan umum. Memori kebangkitan nasional ini mesti menjadi kekuatan transformatif untuk mengembangkan dan meneguhkan gerakan civil society di Indonesia. Hal ini amatlah mendesak dewasa ini karena roh penjajah Belanda masih terus bergentayangan dan merasuki penguasa politik yang dipilih secara demokratis.

Demikianpun keserakahan dan kekejaman kompeni Belanda masih terus berkeliaran memakai topeng investor pembawa kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved