Kain Lampin dan Jubah Putih

Dua minggu berselang si ibu terbang dari Alor ke Salatiga.

Editor: Dion DB Putra

Merindukan berada dalam rombongan para pemakai jubah putih di sekitar tahta Allah adalah sebuah keberanian iman. Tapi haruslah kita ingat bahwa jubah putih itu baru bisa kita kenakan, jika pada masa kini kita menjalani hidup sebagai orang-orang yang memakai kain lampin, yakni pakaian yang hanya layak digunakan oleh orang-orang yang hidup sebagai pelayan dan hamba (Luk. 17:10). Bahkan pada kain lampin tadi perlu ditambahkan lagi kain kafan sebagai tanda penaklukan yang total dari kehendak kita kepada kehendak Allah. Kemuliaan (jubah putih) yang Yesus terima dari Sang Bapa didahului dengan kesediaan-Nya mengenakan kain lampin dan kain kafan.
"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu."

Inilah spiritualitas kain lampin dan kain kafan sebagai kualitas hidup masa kini dari orang-orang yang merindukan jubah putih dan berada dalam ring satu di Kerajaan Sorga. Ibu anak-anak Zebedeus menggambarkan jubah putih dan posisi ring satu itu dengan metafora yang menarik, yakni duduk di kiri dan kanan Yesus. Untuk tetap berada dalam metafora tadi, maka Yesus mengingatkan Yakobus dan Yohanes agar selama menjalani hidup di masa kini keduanya tidak boleh duduk lipat tangan. Mereka harus berdiri mengulurkan tangan dan bekerja mengikuti teladan Anak Manusia: "Yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat. 20:28).*

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved