Ibu Berhati Emas

Kesan paling kuat yang muncul di benak saya setelah membaca gambaran ideal tadi

Editor: Dion DB Putra
kompas.com
ilustrasi 

Dia pun membuka dan membaca surat itu dengan tangan gemetar. Berbeda dengan apa yang dia dengar dari ibunya saat dia masih kecil dulu: "Anak kamu punya masalah kejiwaan. Kami tidak mengizinkan dia datang lagi ke sekolah ini selamanya." Thomas menangis berjam-jam usai membaca surat itu, lalu menulis dalam buku hariannya: "Thomas Alva Edison adalah anak gila. Hanya oleh karena seorang pahlawan, yaitu ibu, saya diubah menjadi Sang Jenius sepanjang masa." Di tangan ibu berhati emas, Thomas menjadi penentu sejarah dunia.

Coba pikirkan John dan Charles Wesley. Nama kedua orang ini tidak mungkin menghiasi halaman-halaman dari buku sejarah dunia kalau bukan seorang ibu berhati emas yang membimbing mereka mengenal hukum cinta kasih dan prinsip-prinsip kehidupan kristen sebagai panduan kehidupan. Susana Wesly menghabiskan satu jam setiap hari untuk berdoa bagi 7 orang anaknya. Sebagai tambahan, setiap hari satu orang anak diminta mendampingi dia selama satu jam di mana dia mendiskusikan hal-hal spiritual bersama anak itu. Tidak heran kalau John dan Charles Wesley menjadi orang yang mengharumkan nama Allah di dalam dunia.

Amsal 31 menunjukkan kepada kita beberapa prinsip yang diterapkan istri ideal yang juga adalah ibu berhati emas dalam menentukan perjalanan sejarah dunia: menanamkan roh penundukan kehendak diri untuk bekerja bersama Allah dalam hati anak-anak; mengajar anak-anak berdoa dan berbicara kepada Allah sejak usia dini si anak. Tidak memberikan semua hal yang mereka minta, melainkan hanya hal-hal yang baik bagi anak jika si anak meminta dalam kerendahan hati dan sopan; menolak budaya dusta, tidak memberikan hukuman jika kesalahan sudah diakui tanpa ditanya dan tidak pernah mengizinkan satu kesalahan dan kejahatan terus disembunyikan, memberikan apresiasi, pujian bahkan juga penghargaan dalam bentuk-bentuk yang nyata bagi perbuatan, perilaku dan tindakan-tindakan kebaikan yang dilakukan anak-anak, serta setia pada semua janji yang sudah disampaikan kepada anak. Dalam pemahaman saya, prinsip-prinsip tadi tidak hanya untuk ibu. Nilai-nilai tadi juga berlaku untuk ayah.

Menjadi istri yang cakap, ibu berhati emas adalah sebuah ideal yang mustahil. Begitu juga halnya dengan suami teladan dan ayah yang sempurna. Kalau penulis Amsal 31 menampilkan profil ideal ini, itu karena dia percaya bahwa Allah dalam kasih dan kemurahan-Nya dapat mengubah kelemahan, keterbatasan, ketidakberdayaan dan kekurangan-kekurangan seorang ibu dan istri, juga seorang ayah dan suami menjadi kekuatan dan berkat.

Amsal 31 tadi bukan teks yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari Amsal 1:7 yang berbunyi: "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." Para ibu dan istri, begitu juga ayah dan suami, patut menjadikan ayat ini sebagai pijakan dalam mewujudkan idealisme tadi. Kita memang bukan malaikat. Kita manusia biasa. Tapi kita tidak boleh berhenti beridealisme. Manakala kita bawa keterbatasan, ketidakberdayaan, kelemahan dan kekurangan-kekurangan kita dalam mengajar dan membimbing anak-anak, dalam membangun keluarga dan mengatur kehidupan rumah tangga kepada Tuhan di dalam doa,Tuhan pasti membuatnya menjadi berkat. Yang kita miliki hanyalah enam buah tempayan berisi air.

Bersyukurlah untuk milik itu dan datang pada Allah, mintalah Dia memberkati air dalam keenam tempayan itu. Kita pasti akan dibuat tercengang karena dalam Kristus air itu akan diubah menjadi anggur manis dengan kualitas yang memukau.*

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved