Ibu Berhati Emas
Kesan paling kuat yang muncul di benak saya setelah membaca gambaran ideal tadi
Oleh Dr. Pdt. Ebenhaizer I Nuban Timo
Pendeta GMIT, Tinggal di Salatiga
POS KUPANG.COM - Kita memiliki banyak ungkapan tentang suami atau istri ideal, meskipun kita tahu persis bahwa tidak mungkin kita menemukan suami atau istri yang ideal. Pasangan kita adalah manusia, bukan malaikat. Tetapi itu tidak lalu berarti membangun idealisme menjadi mubazir. Kita membutuhkan idealisme sebagai sipat atau batu timbangan. Tanpa idealisme tidak akan ada inovasi, tetapi terlampau idealis juga akan melumpuhkan semangat juang. Amsal 31:1-31 merupakan teks yang memberikan kepada kita gambaran ideal tentang istri dalam batas-batas realisme zamannya.
Kesan paling kuat yang muncul di benak saya setelah membaca gambaran ideal tadi ialah terlalu bersifat androsentrisme. Maksud saya ialah gambaran ideal itu dilakukan oleh laki-laki dan untuk kepentingann laki-laki. Dalam gambaran ini istri yang ideal digambarkan sebagai yang berada di sektor domestik: di rumah dan di kebun.
Ruang lingkup tugasnya seluas urusan kasur, dapur dan sumur. Hal-hal politik dan kekuasaan yang menjadi urusan publik tidak muncul dalam deskripsi tugas si istri. Tentulah kaum feminis bukan hanya marah. Pasti ada yang menghendaki agar teks ini dibuang saja dari Alkitab. Meskipun saya bisa memahami kemarahan itu, tetapi saya kira itu karena zaman dan konteks yang berbeda.
Teks ini memiliki zamannya. Orang yang tersinggung dan marah lahir dalam zaman dan konteks yang berbeda. Bisa dimaklumi. Tetapi kalau kemarahan ini lalu dikembangkan menjadi penolakan terhadap teks ini, maka hal itu saya anggap sebagai sesuatu yang justru salah dan keliru. Terlalu berlebihan. Ada dua kekeliruan mendasar.
Pertama, teks ini berbicara tentang istri yang sekaligus ibu, bukan tentang perempuan secara umum. Ibu dan istri berhubungan dengan kehidupan keluarga dan berumah tangga. Yang mau ditonjolkan di dalam teks ini ialah di balik keberhasilan sang suami, juga laki-laki pada umumnya, termasuk anak-anak (laki-laki dan perempuan) berdiri seorang istri atau ibu yang luar biasa.
Prestasi-prestasi gemilang dalam masyarakat adalah karena support moral dan personal dari keluarga dan rumah tangga. Di domain ini peran ibu tidak tergantikan; ibu yang tidak ragu berkorban dalam cinta kasih, berkorban bukan hanya untuk hal-hal kecil karena cinta yang besar. Si istri digambarkan di sini sebagai pemimpin dalam rumah, pendesain kehidupan masyarakat dan penentu masa depan satu bangsa. Tidak heran jika di kemudian hari, Pascal berkata, "Tangan yang menggerakkan ayunan bayi adalah juga tangan yang menentukan baik-buruknya kehidupan dunia."
Orang Afrika memiliki paling kurang dua peribahasa yang menarik tentang peranan menentukan dari si ibu. Peribahasa pertama: "Rahim melihat bukan hanya masalah-masalah, tetapi juga tahu solusi terhadap masalah-masalah itu." Peribahasa kedua: "Ayam betina yang tahu kapan hari baru tiba, tetapi ayam jantanlah yang meneriakkan." Jadi meskipun gambaran ideal bagi seorang istri bersifat androsentrisme tetapi isinya justru memuliakan keberadaan ibu dan penghormatan kepada istri.
Kekeliruan kedua berhubungan dengan lokus dari teks.
Gambaran ideal tentang ibu atau istri adalah ruang lingkup kehidupan perkawinan, keluarga dan rumah tangga. Kesetiaan kepada ruang lingkup ini yang membuat penulis teks tidak berkata-kata tentang peranan ibu (istri atau perempuan) dalam sektor pubilk, yakni urusan politik dan kekuasaan. Kalau itu dia lakukan justru akan dianggap sebagai yang tidak konsisten secara metodologis.
Mendaftarkan peran domestik ibu atau istri ideal sama sekali tidak berarti bahwa ibu atau istri hanya mengurus kasur, dapur dan sumur. Alkitab sama sekali tidak mengharamkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di ruang publik yang dikonotasikan sebagai domain kekuasaan laki-laki. Seorang ibu sekaligus istri bernama Batsyeba memiliki peran besar dalam urusan pengganti raja setelah Daud (I Raja 1:1-31). Juga disebutkan tentang Debora hakim perempuan Israel yang sangat dihormati sebagai pemimpin (Hakim-Hakim 4). Sifra dan Pua; dua orang bidan di Mesir, putri Firaun, Yokhebed ibu Musa dan Sipora istrinya memainkan peran publik yang tidak diremehkan oleh penulis Alkitab yang hidup dalam masyarakat berbudaya patriaki.
Memang harus diakui bahwa ada juga teks-teks Alkitab yang cenderung membungkamkan peran publik perempuan. Laki-laki disebut-sebut sebagai biang keladi marginalisasi itu. Tapi bukankah ada juga perempuan yang kalau memiliki akses kepada kekuasaan memakai kekuasaan untuk menindas dan menghancurkan sesama baik laki-laki maupun perempuan?
Siapakah yang merancangkan kematian dan melakukan eksekusi terhadap Nabot kalau bukan perempuan bernama Izabel yang adalah istri Ahab? Bukankah Yohanes Pembaptis tidak harus mati dengan kepala dipenggal andaikata tidak ada pesan yang diberikan kepada Salome oleh ibunya? Kekuasaan cenderung korup. Siapa saja yang mendapatkannya, entah laki-laki atau perempuan, selalu tergoda untuk menyalahgunakannya.
Terlepas dari pro-kontra mengenai Amsal 31:10-31 yang disoroti oleh para pejuang kesetaraan gender, satu hal jelas: teks ini menghadirkan kepada kita pengaruh menentukan dari ibu berhati emas. Banyak orang mengalami kehidupan penuh berkat, disegani dan menjadi panutan oleh apa yang mereka pelajari ketika masih berada di bawah asuhan sang ibu. Thomas Alfa Edison sebuah nama yang tidak akan lapuk dari sejarah.
Temuan lampu pijar yang berasal dari tangannya bersama dengan ribuan penemuan lainnya tidak akan pernah tercatat dalam sejarah kalau si ibu tidak mengawal dia mencapai sukses itu. Kita semua tahu, riwayat Thomas sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. Kepala sekolah (yang saya baca dari biografi Thomas adalah seorang perempuan) suatu hari menitipkan surat kepada Thomas dengan pesan agar Thomas tidak membuka, hanya ibu si Thomas-lah yang boleh membuka atau membaca.
Sang ibu membuka dan membaca surat itu dengan air mata berlinang. Namun dengan bijak sang ibu membaca isi surat itu sekali lagi kepada Thomas. "Anak, kamu terlalu jenius. Sekolah ini terlalu sederhana. Tidak cukup guru yang baik dan hebat di sekolah kami untuk melatih dia. Ajari dan latih sendiri anak ibu secara langsung." Dari tahun ke tahun, Thomas terus bertumbuh dan berkembang. Seiring waktu, sang ibu sudah pula meninggal dunia. Suatu ketika, Thomas menemukan kembali surat yang dulu dibaca sang ibu kepadanya. Dia mengambil surat itu dalam laci meja ibunya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-ibu-hamil_20150928_153946.jpg)