Kontroversi LGBT

LGBT dan Solidaritas

Dalam hal agama, kita sudah tidak asing lagi dengan berita diskriminasi terhadap kelompok agama

LGBT dan Solidaritas
ilustrasi 

Kalau toh masih ngotot mencari dalang ancaman serius bagi bangsa, saya pikir ancaman itu tidak datang dari LGBT, melainkan dari kebodohan. Salah satu kebodohan itu adalah anggapan bahwa LGBT bisa menular dan karena itu apapun bentuk solidaritas terhadap LGBT harus dianggap nyeleneh.

Solidaritas: LGBT Menderita
Sejak Jean Jacques Rousseau menempatkan pendapat mayoritas (volonte generale) lebih tinggi di atas pendapat minoritas (volonte particulare) dalam karya "The Social Contract", minoritas harus selalu mengalah terhadap kehendak mayoritas.

Dalam ranah epistemologi, sesuatu disebut benar apabila bersesuaian dengan kehendak mayoritas. Hemat saya, akar diskriminasi terhadap LGBT adalah kekeliruan epistemologis yang menempatkan logika mayoritas sebagai patokan kebenaran.

Menurut logika mayoritas, LGBT tidak bisa dibenarkan karena bertentangan dengan propensitas/kecenderungan mayoritas yang menuntut hubungan linear antara jenis kelamin, ekspresi gender dan orientasi seksual. Dengan kata lain, sekali lagi, seseorang yang berjenis kelamin laki-laki harus menunjukkan ekspresi gender maskulin dan orientasi seksual heteroseksual.

Di luar patokan itu, harus dianggap salah atau menyimpang. Logika mayoritas ini tentu saja tidak bisa berdamai dengan fakta pluralisme. Seorang gay, misalnya, tidak bisa dituntut untuk menyukai perempuan hanya karena menyukai sesama jenis itu bertentangan dengan kecenderungan mayoritas. Jadi, untuk dapat menerima dan mengakui LGBT, kita perlu mengubah mindset tentang hubungan antara seks, ekspresi gender dan orientasi seksual.

Tiga kategori seksual itu tidak mesti linear dan ekual. Setelah itu, kita baru bisa bersolider dengan LGBT dan kelompok minoritas lain yang berbeda dari kita. Dasar solidaritas adalah LGBT itu manusia dan kita tidak pernah boleh menyakiti orang lain hanya karena ia berbeda dari kita. Motivasi solidaritas adalah kita membela kelompok minoritas yang berbeda bukan karena mereka benar, melainkan terutama karena mereka menderita.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved