Kontroversi LGBT

LGBT dan Solidaritas

Dalam hal agama, kita sudah tidak asing lagi dengan berita diskriminasi terhadap kelompok agama

LGBT dan Solidaritas
ilustrasi 

Oleh Silvano Keo Bhaghi
Mahasiswa STFK Ledalero

POS KUPANG.COM - Anda mungkin tidak sepakat, tetapi hemat saya, awal tahun 2016 ini adalah tahun duka bagi kaum minoritas di Indonesia, baik minoritas dalam hal agama (urusan otak dan hati) maupun dalam hal seksual (urusan selangkangan).

Dalam hal agama, kita sudah tidak asing lagi dengan berita diskriminasi terhadap kelompok agama/kepercayaan minoritas seperti Ahmadiyah dan Gafatar. Aksi sweeping oleh Negara terdengar di mana-mana. Padahal, Negara tidak pernah boleh mengintervensi keyakinan privat warga sejauh keyakinan itu belum berubah menjadi aksi kekerasan.

Intervensi terhadap keyakinan seseorang/kelompok sama artinya dengan intervensi terhadap cara seseorang harus berpikir. Hannah Arendt tidak ragu menyebut intervensi semacam itu sebagai sebuah kejahatan radikal. Dalam hal seksual, telinga kita juga sudah kian karib dengan akronim LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Itulah fokus tulisan ini.

LGBT Juga Manusia
Meroketnya penggunaan istilah LGBT antara lain disebabkan oleh pernyataan kontroversial beberapa pejabat Negara seperti Menristek dan Mendikbud yang oleh beberapa elemen masyarakat pendukung LBGT dicap inkonstitusional. Menristek, misalnya, dalam tanggapannya terhadap aktivitas Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di kampus Universtas Indonesia (UI), menilai LGBT tidak layak masuk kampus karena bisa merusak kampus sebagai institusi utama penjaga moral. Asumsi argumentasi itu adalah LGBT merupakan ancaman serius (tajuk utama Republika, 24/1/2016) yang bisa merusak moral bangsa. Benarkah?

Jika kita cermati opini-opini populer tentang LGBT, kita akan tahu kalau perusahaan-perusahaan besar, seperti Starbucks, Apple, Google, Facebook, eBay, Johnson and Johnson, Twitter dan masih banyak lagi perusahaan besar lainnya, ternyata mendukung LBGT.

Di satu pihak, kelompok tolak LGBT mungkin akan berargumentasi bahwa menerima dan mengakui LGBT sama artinya dengan terjebak dalam perangkap sekularisme dan liberalisme Barat dan sudah tentu bertentangan dengan norma agama. Namun, di pihak lain, saya rasa, alasan kita untuk mendukung LGBT cukup sederhana. LBGT itu manusia. Dan setiap manusia mesti diperlakukan sama apapun jenis kelamin, ekspresi gender dan orientasi seksualnya.

Masalah kita adalah kita terlalu terpaku pada dogma tradisi bahwa harus ada hubungan linier antara jenis kelamin, ekspresi gender dan orientasi seksual. Kita seolah mewajibkan semua manusia yang berjenis kelamin laki-laki menunjukkan ekspresi gender yang maskulin dan harus memiliki orientasi seksual yang heteroseksual. Di luar dogma tradisi itu harus kita anggap tidak normal. Padahal, cara pandang seperti itu sangat picik. Ia menegasi fakta pluralisme dan cara berada seorang pribadi.

Sebagaimana seseorang dilahirkan sebagai atau berjenis kelamin laki-laki atau berjenis kelamin perempuan atau berjenis kelamin ganda, demikian ia tidak bisa dipaksa untuk menunjukkan ekspresi gender dan orientasi seksual yang mesti ekual dengan identitas jenis kelamin itu. Jelasnya, seseorang dengan jenis kelamin perempuan tidak lantas harus menunjukkan ekspresi gender yang feminin dan orientasi seksual yang menyukai laki-laki.

Bisa saja ia menunjukkan ekspresi gender yang maskulin dengan orientasi seksual yang menyukai sesama jenis (lesbian). Tentu masih banyak kombinasi lain yang bisa kita racik dan itu adalah hal yang normal. Menjadi LGBT itu ibarat si A menjadi orang Bajawa. Ia tidak punya kuasa untuk menolak. Jadi, jika kita hendak berkoar-koar untuk mendiskriminasikan LGBT, maka kita sedang melanggar martabat seorang pribadi dan meragukan eksistensinya sebagai manusia.

Halaman
12
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved