NTT dan Gerakan Panen Air
Sementara, kebutuhan air bagi masyarakat NTT adalah 1,3 milliar kubik/tahun. Namun potensi air di NTT
Ibu-ibu saban hari membuat cerukan-cerukan berpasir di sungai mati untuk mengumpulkan air sedikit demi sedikit. Sungguh sebuah ironi. Melimpahnya air di Tilong tidak mereka rasakan. Mereka yang berada di lingkaran terdekat malah mengalami krisis air. Sementara warga Kota Kupang malah menikmati air dari Tilong.
Sebagai Ketua Komisi V DPR RI yang turut membidangi program air minum, baik melalui Cipta Karya maupun Balai Wilayah Sungai, Bapak Fary Francis bergumul dengan persoalan ini. Beliau menyampaikan akan berjuang untuk membangun satu embung bagi warga Bokong pada tahun 2016. Namun, berkat koordinasi dan komunikasi yang intens dengan pihak Balai Sungai Nusa Tenggara II, tanggal 25 November 2015 kami mendapat kabar gembira bahwa dipastikan akan dibangun satu embung bagi warga Bokong di sisa waktu tahun 2015. Mudah-mudahan embung dapat sedikit menjawab krisis air berkepanjangan yang dialami warga Desa Bokong.
Kisah kecil ini memberikan pelajaran bahwa gerakan panen air tidak cukup hanya dengan membangun waduk atau bendungan besar seperti Tilong. Toh, Bokong di sebelahnya mengalami krisis air. Gerakan panen air mesti diwujudkan secara serius dengan membangun semakin banyak embung di NTT. Embung memanen air hujan sebanyak-banyaknya pada musim hujan. Embung dapat menyediakan air untuk pertanian, peternakan bahkan kebutuhan rumah tangga. Kiranya bendungan maupun embung-embung yang sudah dibangun dan menghabiskan anggaran yang begitu besar di NTT ini dapat dijaga, dirawat dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat setempat.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/embung-desa-karuni-di-sumba-barat_20150422_094007.jpg)