NTT dan Gerakan Panen Air
Sementara, kebutuhan air bagi masyarakat NTT adalah 1,3 milliar kubik/tahun. Namun potensi air di NTT
Oleh Isidorus Lilijawa, S.Fil, MM
Tenaga Ahli DPR RI
POS KUPANG.COM - Hampir setiap tahun Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilanda bencana kekeringan akibat panas berkepanjangan. Eksesnya adalah gagal tanam dan produksi pertanian serta peternakan menurun. Bencana kelaparan menghantui. Ramai-ramai orang mengeluhkan kekurangan air dan hujan yang terbatas. Air dan hujan dikambinghitamkan ketika kelaparan mendera dan gagal tanam terjadi. Lantas apa yang harus kita buat agar selalu ada air yang tersedia untuk pertanian dan peternakan sekalipun di musim kemarau panjang?
Panen Air
Provinsi NTT mempunyai keadaan iklim yang tergolong daerah tropis kering (semi arid) dengan curah hujan rata-rata 1,200 mm/tahun. Musim hujan biasanya terjadi pada pertengahan bulan Desember hingga bulan Maret dengan intensitas curah hujan yang tinggi dalam durasi waktu yang pendek, sehingga sering menimbulkan banjir. Sedangkan delapan bulan lainnya berlangsung musim kemarau yang menyebabkan debit sumber air menurun drastis, daerah pertanian mengalami kekeringan, pasokan air baku tidak memenuhi kebutuhan penduduk perkotaan maupun perdesaan.
Sementara, kebutuhan air bagi masyarakat NTT adalah 1,3 milliar kubik/tahun. Namun potensi air di NTT yang belum dimaksimalkan dan terbuang percuma adalah 16,7 miliar kubik. NTT adalah salah satu daerah yang curah hujannya sedikit. Setiap tahun El Nino menghampiri. Panas berkepanjangan.
Efeknya adalah kekeringan, gagal tanam hingga masalah kelaparan. Persoalan yang rutin setiap tahun ini menjadi pergumulan banyak pihak, baik pemerintah, legislator maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat.
Saya masih ingat, di awal-awal menjadi wakil rakyat NTT di Senayan, Bapak Fary Francis dalam diskusi-diskusi dengan berbagai pihak selalu mendorong dimulainya "Gerakan Panen Air" di NTT. Ini adalah sebuah gerakan menyelamatkan NTT dari kekeringan berkepanjangan. Singkatnya, gerakan ini bertujuan memanen air hujan yang setiap tahun turun di bumi NTT agar air tersebut tidak mengalir begitu saja dan meresap kembali ke perut bumi.
Wujud nyatanya adalah melalui pembangunan embung-embung baik skala kecil, sedang maupun dalam skala besar yang disebut bendungan/waduk. Embung bertujuan menampung air hujan agar dapat dimanfaatkan untuk minuman ternak, pertanian hingga kebutuhan rumah tangga.
Kondisi geografis dan topografis NTT memungkinkan untuk memanen air sebanyak-banyaknya pada musim hujan sehingga bisa dimanfaatkan pada musim kemarau untuk berbagai kepentingan. Hujan adalah berkat. Selama ini air hujan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Air hujan mengalir begitu saja dan terbuang percuma tanpa ada upaya memanennya. Untuk itu, salah satu wujud nyata gerakan panen air adalah membangun embung sebanyak-banyaknya dan bendungan/waduk.
Dalam kalkulasi Komisi V DPR RI, yang saat ini diketuai Bapak Fary Francis, anggota DPR RI dari daerah pemilihan NTT, NTT membutuhkan sekitar 4.500 embung dan puluhan waduk. Jika setiap tahun hanya dibangun 10 embung, maka kita butuh waktu 450 tahun untuk bisa membangun 4.500 embung. Ini nonsense.
Karena itu, sejak dipercaya menjadi Ketua Komisi V DPR RI, fokus perjuangan Komisi yang bermitra dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat khususnya di Dirjen Sumber Daya Air untuk NTT adalah terus membangun embung-embung kecil, sambil mendorong pembangunan waduk supaya daya tampung air untuk pertanian lebih besar. Sejak tahun 2009, Komisi V DPR RI terus mendorong agar setiap tahun dibangun kurang lebih 100 embung di NTT.
Lebih jauh dari itu, Komisi V DPR RI terus berjuang agar di NTT setiap desa yang berpotensi kekeringan panjang dibangun masing-masing satu embung. Hal ini penting untuk mengantisipasi dampak el nino setiap tahun. Juga sebagai stimulus bagi warga desa agar lebih giat dalam bertani dan beternak sekalipun di musim kemarau.
Perhatian pemerintah pusat untuk NTT sungguh luar biasa. Pemerintah pusat sangat mendukung gerakan panen air di NTT. Dalam jangka waktu lima tahun ke depan (2014 -2019) Provinsi NTT mendapat kucuran dana sebesar Rp 5,6 Triliun dari APBN. Dana sebesar ini untuk tujuh bendungan raksasa yang akan dan sedang dibangun di NTT yakni Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang, Bendungan Temef di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu, Bendungan Lambo (Mbay) di Kabupaten Nagekeo, Bendungan Napunggete di Kabupaten Sikka, dan Bendungan Kolhua di Kota Kupang jika status lahan tidak lagi menjadi masalah.
Untuk mendukung gerakan panen air ini, tak tanggung-tanggung, Presiden Jokowi sendiri datang ke NTT untuk kedua kalinya dalam rangka ground breaking Bendungan Raknamo dan Bendungan Rotiklot. Kelaparan, rawan pangan, gagal tanam, semuanya berkorelasi dengan ketersediaan air. Tidak ada artinya bicara soal meningkatkan produksi pertanian dan peternakan, jika air tak punya. Karena itu, bangunlah dahulu embung, waduk/bendungan agar program pembangunan pertanian dan peternakan bisa jalan.
Walaupun NTT mendapatkan tujuh bendungan besar selama 5 tahun ini, namun membangun embung-embung kecil dan sedang harus terus didorong. Pembangunan bendungan tidak mesti mengurangi atau menghentikan pembangunan embung-embung. Sebagaimana semangat Komisi V DPR RI, minimal setiap tahun di NTT dapat dibangun 100 embung. Sehingga dalam beberapa tahun ke depan minimal setiap desa yang langganan kekeringan memiliki satu embung.
Pembelajaran dari Bokong
Mengapa embung mesti terus dibangun? Saya mempunyai kisah kecil ini. Tanggal 7 November 2015 lalu, bersama Ketua Komisi V DPR RI, Fary Francis, kami berkunjung ke Desa Bokong di Kabupaten Kupang. Jaraknya hanya sekitar 10 kilometer dari Bendungan Tilong. Namun, sudah puluhan tahun warga di Bokong mengalami krisis air minum. Setiap hari ibu-ibu dan anak-anak mesti berjalan 6-7 kilometer untuk mencari air.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/embung-desa-karuni-di-sumba-barat_20150422_094007.jpg)