Hujan Pergi Lagi
Dalam berbagai perayaan selama akhir tahun lalu, sapu lidi ditanam pangkalnya, selanjutnya
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
Parodi Maria Matildis Banda
POS KUPANG.COM - Hujan pergi lagi. Apakah benar hal ini terjadi akibat dari ulah pawang hujan. Pesta ulang tahun, supaya hujan tidak turun, si pawang melempar sakelake one alias CD alias celana dalam ke atas loteng. Hujan yang sudah mau turun segera kabur.
Dalam berbagai perayaan selama akhir tahun lalu, sapu lidi ditanam pangkalnya, selanjutnya bagian ujungnya dimekarkan bagai bunga bertangkai lidi berujung lombok merah. Hujan yang mau turun pun menghilang karena kepedisan. Benarkah?
***
"Ada penangkal hujan yang lebih canggih!"
"Jangan teman! Cukup! Hujan harus turun untuk air, kebun, dan petani," kata Rara.
"Kalau kamu punya sakelake one yang lebih canggih khasiatnya untuk menolak hujan, jangan lakukan sekarang. Biarkan hujan turun ke bumi, karena bumi sudah terlalu panas, kering kerontang, debu, air habis, tanaman mati, dan ternak sulit cari makan."
"Maaf saja ya, hujan tidak boleh turun sebab dalam dua bulan ini aku punya banyak proyek. Sekali lagi biar hujan pergi!"
"Kamu mau lempar celana dalam lagi? Lidi lombok lagi?"
"Ada yang lebih canggih!"
***
"Jadi kamu yang punya CD di atas loteng?" Nona Mia bertanya pada Rara namun Rara tidak segera menjawab. "Romantis juga rupanya, warna CD lengkap seperti pelangi saja. Mejikuhibiniu alias merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, di tambah hitam, hmmm selera pelangi. Gara-gara kamu hujan menjauh."
"Maaf saja Nona manis," potong Rara. "Warnaku hanya satu hitam favorit. Sampai jadi mejikuhibiniu warna pelangi itu, biar hujan menjauh. Sekarang kuturunkan dari atap supaya tidak ada yang curi. Lagi pula aku sudah punya cara baru buat usir hujan."
"Sapu lidi dan lombok merah?" Tanya Nona Mia. "Itu ulahmu juga?"
"Santai saja lagi," jawab Rara dengan santainya. "Hujan tidak boleh turun. Ada pesta ada banyak tamu, aku tidak mau repot dengan hujan. Ada proyek ini dan itu yang belum selesai, aku tidak mau gagal gara-gara hujan," jawab Rara. "Tetapi sekarang musim hujan, sudah kuturunkan semua CD pelangiku, sudah kujadikan sapu lidi ke fungsinya semula. Biarkan hujan turun dengan derasnya ke bumi ini."
"Tetapi kenapa hujan pergi dan belum kembali ya?"
***
Menurut Jaki, Benza menggunakan cara yang lebih canggih untuk menghentikan hujan. Sinar laser. Konon sinar laser ditembak ke langit dengan menggunakan zat tertentu. Awan yang sudah berkumpul dengan warna yang kian lama kian hitam itu pun pecah dan terpencar kemana-mana. Gumpalan awan yang biasanya bertambah berat dan menjatuhkan titik-titik air ke bumi itu, menyebar dan tidak memiliki kekuatan untuk menurunkan hujan lebat. Yang terjadi hanyalah rintik-rintik turun, melayang ditiup angin, dan menghilang disambar matahari.
"Konon Benza yang melakukan itu," Jaki membela diri saat ditanya Nona Mia dan Rara.
"Mau melawan alam? Hebat benar ya manusia-manusia ini. Sakelake one, lidi lombok, sekarang mau laser awan lagi! Gawat benar!" Nona Mia menggerutu. "Tunggu saja kapan alam berbalik marah."
"Apakah kamu ikut menahan hujan dengan menggunakan cara canggih?" Tanya Nona Mia segera setelah Benza dan Rara bergabung.
"He he lempar sakelake one juga?" Rara tertawa. "Sudah berapa sakelake one di atas atap. Pemali ambil kembali. Apalagi kalau warna pelangi."
"Bukan! Benza pakai laser," sambung Jaki.
"Tega benar kamu! Mau melawan alam ya? Hebat bukan main," Nona Mia marah. "Jangan lagi ada sakelake one, jangan ada lidi lombok, jangan ada laser-laser. Hujan harus turun segera, kalau tidak 2016 akan menderita dengan musim lapar."
***
Benza terpanah! Siapa yang pakai laser? Mengapa laser yang disalahkan? Menurut seseorang yang bernama Ari di dunia maya, hal ini tidak terlepas dari mitos di masyarakat bahwa laser yang dimengerti sebagai lampu sorot tersebut bisa memecah awan, dengan kata lain, sinarnya dapat membuat hujan tidak turun. Entah darimana mitos ini berasal, tapi begitulah kenyataan di masyarakat. Didukung lagi dengan tersebarnya Broadcast BBM yang isinya meminta para penyelenggara event besar untuk menghentikan penggunakan 'Laser' agar hujan bisa turun. "Kenyataannya, persepsi ini salah besar," demikian menurut Ari.