Dua Terbilang Sejuta Terlunta
Presiden Jokowi terkesan terus meneguhkan pemerintah lokal di sini agar teruslah berjuang melawan kemiskinan NTT
Oleh Pius Rengka
Rakyat Kota Kupang, Tinggal di Jl. Antarnusa, Liliba
POS KUPANG.COM - Nyaris tiga bulan belakangan ini, Provinsi NTT, boleh dikatakan, provinsi paling populer di Indonesia. Betapa tidak! Presiden Jokowi, sejak dilantik menjadi presiden, telah datang ke NTT lebih dari dua kali dalam tenggang waktu setahun kepemimpinannya.
Presiden Jokowi terkesan terus meneguhkan pemerintah lokal di sini agar teruslah berjuang melawan kemiskinan NTT dengan sungguh serius bekerja tuntas untuk kepentingan rakyat, kepentingan banyak orang, dan membebaskan ini NTT dari lilitan belenggu kemiskinannya.
Tak tanggung-tanggung Presiden datang meresmikan Bandara Komodo di Labuan Bajo, sebagai satu pintu gerbang destinasi wisata kaliber internasional, tujuh proyek irigasi bakal meluapkan air untuk lahan pertanian, ternak dan lingkungan alam NTT. Infrastruktur pelabuhan pun diperbaiki dan diperluas, meski ada anggota dewan di republik ini tak malu mendompleng kesohoran Jokowi mengaku seolah-olah itu adalah hasil perjuangan pribadinya semata. Dan, yang tersisa adalah urusan dalam negeri manusia dan para pejabat NTT. Sanggupkah menjaga kinerjanya.
Kita tidak wajib malu. Kita mengalami sejumlah keterbatasan. Termasuk keterbatasan imajinasi untuk membayangkan NTT keluar dari kemiskinan. Akibatnya kita nyaris terbelenggu dalam lilitan pola pembangunan begitu biasa dan sangat biasa-biasa saja. Tidak luar biasa sebagaimana Walikota Risma di Surabaya, atau Gubernur Ahok di Jakarta, atau Walikota Kamil di Bandung. Tak mengapalah, toh kita sungguh sangat maklum keadaan kita sendiri.
Semua kita di sini memiliki konteks sejarah, yang tak jauh amat dari dera derita miskin yang berimplikasi pada ketaksanggupan melihat dunia lain selain ke dalam diri sendiri yang serba terbatas dan bahkan dibatasi oleh sikap dan perilaku kita sendiri, sehingga kita hanya tahu mengurus dan mengutamakan kepentingan diri kita sendiri. Politik dalam pengertian ini sama dengan cari makan. Bukan keagungan pro bonum commune.
Di balik kehadiran Presiden Jokowi, diperoleh banyak kisah serba sederhana. Perihal seluruh lingkup kesederhanaannya, termasuk tampilan sederhana istrinya. Istri Presiden Jokowi tampil sungguh sederhana. Berdandan seperlunya. Pakaiannya pun sederhana, dengan senyum yang pas bagi orang-orang sederhana. Hangat, sejuk dan manusiawi, penuh kasih sayang dari lubuk hati terdalam. Sehingga terkesan, tidak dibuat-buat, dan apa adanya saja. Maka dia pun bersahaja sesuai konteks sosial masyarakat Indonesia.
Kita pun maklum dan mengerti sungguh-sungguh. Bahwa orang-orang berpenampilan sesederhana serupa itu terutama dan pertama-tama karena dia memiliki kekayaan jiwa yang luar biasa. Mereka (keluarga Jokowi) tidak sedang hidup dalam kekeringan jiwa. Karenanya mereka telah selesai dengan dirinya sendiri dan membangun rakyatnya dari kedalaman sukma yang tersayat empati dan simpati luar biasa pada derita manusia.
Dirajut dengan tenunan semangat pembebasan dan dorongan menacari dan menemukan harga diri sebagai manusia terhormat. Konteks sejarah hidupnyalah yang memberi warna bagi kelakuan keluarga Jokowi.
Tentu khalayak ramai masih ingat kisah Jokowi jahit pakaian di sebuah tukang jahit sederhana di Solo tatkala Jokowi terpilih menjadi Presiden RI. Kita juga mencatat ketika Jokowi menarik sendiri koper pakaiannya tatkala berkunjung ke sebuah provinsi di bagian Timur Indonesia. Kesederhanaan itu pun ada di antara para pemimpin kita di sini yang masih ada di luar barisan kekuasaan. Tetapi, khalayak bermoral sosial di NTT kini mulai malu luar biasa karena kasus berikut ini.
Kian Riuh
Warta tentang NTT kian riuh. Panggung politik NTT naik daun luar biasa. Gempar nian langit politik politisi NTT. Sayangnya, bukan kisah heroik tentang keagungan politik, melainkan perihal kehinaan luar dalam yang luar biasa yang membuat kita di sini nyaris membenarkan keadaan bahwa NTT ini dihuni manusia serba miskin.
Miskin moral politik, miskin imajinasi keagungan politik, miskin moral kebaikan umum. Hal itu tampak jelas ketika dua di antara 13 anggota DPR RI dari NTT menambah riuh panggung politik di NTT bahkan nasional belakangan ini.
Dua anggota DPR RI dari NTT itu membuat masalah. Satunya minta saham untuk tambang di Freeport, yang lain atas nama kepentingan bisnis dan kekuasaan sejengkal itu membentak aparatus penegak hukum. Kasusnya sederhana. Yaitu penertiban minuman keras. Yang satu dari Golkar, satunya dari PDIP. Keduanya mewakili Timor, Sumba, Sabu, Rote dan Semau. Mantap!!
Manusia NTT terkesan tidak malu. Terlebih para pemilihnya. Nyaris tak tahu malu. Mungkin karena kita memang sudah biasa dalam kemiskinan yang menghinakan diri itu, juga karena kita biasa dipermalukan oleh kelakuan politik para politisi busuk yang hanya sanggup memikirkan dirinya sendiri dan tidak berdaya memberi cahaya mempertahankan keagungan politik entah di skala mana pun.
Khalayak sadar politik gundah bukan lantaran hadirnya kebusukan politik politisi yang nyaris sudah melampaui batas normal kemanusiaan, melainkan karena tiadanya pujian untuk sebuah kelakuan sederhana. Politik itu sederhana. Buat baik dan selalu berbuat baik dan benar untuk kepentingan rakyat. Titik!!!
Dua politisi itu pasti punya sejarah. Karenanya, banyak kalangan mendorong agar melacak kehidupan sosial pribadi dua anggota dewan ini. Dimulai pada usia sekolah menengah pertama.
Apakah sejak usia itu sudah ada kelakuan jahat tampak ke dirinya. Apakah dorongan nasib sejarah politik keduanya kemudian masuk ke panggung paling terhormat politik nasional. Apakah reputasi paling menonjol dalam sejarah politik perjuangan negeri ini?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/jokowi-duduk-1_20160101_214031.jpg)