Kado 2016
Nyatanya, hampir sepanjang waktu pergantian tahun semuanya sibuk dengan Handphone alias HP, SMS, line, WhatsApp alias WA
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
"Apa artinya ya?" Rara dan Jaki dalam dunianya masing-masing dunia SMS, line, WhatsApp, facebook, BBM, dan lain-lain, ditambah dengan bunyi petasan, dan janji untuk konvoi keliling kota dan musik sampai pagi.
"Senyum adalah suatu kedok? Kedok apa ya?" Tanya Rara.
"Senyum adalah suatu sikap? Sikap yang bagaimana?" Tanya Jaki
"Untuk 2016 kedok atau sikap ya?" Tanya Jaki dan Rara.
"Tergantung tujuan, kepentingan, pikiran, dan hati nurani," jawab Benza.
"Serta kesadaran kita akan tempat, ruang, dan waktu," sambung Nona Mia.
***
"Puisinya susah dimengerti," mata Rara tetap pada SMS, line, WhatsApp, facebook, BBM, dan lain-lain, ditambah dengan bunyi petasan, konvoi keliling kota dan musik sampai pagi. "Singkat saja, dan yang gampang-gampang saja."
"Atau langsung saja pada poin ke empat. Syukur, refleksi, rencana ke depan, dan kado dari Tuhan. Ya, kado dari Tuhan. Demi kebersamaan kita, kamu minta kado apa 2016 ini?"
"HP baru dengan fasilitas lengkap. Bisa SMS, line, WhatsApp, facebook, BBM, twitter, dan lain-lain. Mudah-mudahan Tuhan mengirimkannya kepadaku pada awal tahun ini."
"Kepribadian dalam kebersamaan. Mudah-mudahan Tuhan memberiku kepribadian. Dengar penggalan puisi ini, kita adalah kepribadian dan harga kita adalah kehormatan kita," jawab Benza.
"Kupinta senyum sebagai sikap. Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib, dan kehidupan," kata Nona Mia. "Nyambung dengan kepribadian dan kehormatan."
***
Menurut Jaki dan Rara, kepribadian, kehormatan, senyum, dan senyum sebagai sikap lebih mahal harganya dari HP. Jadi, nanti dulu untuk tahun-tahun 2017, 2018, dan seterusnya masih ada waktu yang lebih sempurna. Akan tetapi Nona Mia dan Benza menjawab dengan memberi kado tahun baru untuk kedua sahabatnya. Ini kadonya, "Jangan menunggu waktu yang sempurna sebab setiap saat adalah kesempurnaan bagi yang berusaha."
"Selamat tahun baru, 2016"