Breaking News

Natal dan Kegaduhan Politik

Peristiwa cacah jiwa yang menjadi konteks penting bagi perjalanan pasangan Yosef dan Maria yang sedang

Editor: Dion DB Putra

Masyarakat yang sudah mulai terbiasa hidup dalam lingkungan yang plural, kembali harus menarik garis batas karena berasal dari suku-suku yang berlainan. Kegaduhan politik memang gampang dipicu dengan memainkan isu primordial seperti agama atau suku.

Kegaduhan yang lain disebabkan kedatangan ketiga majus itu. Dapat dibayangkan kegaduhan yang timbul di istana Herodes ketika mendapat kunjungan tiga orang asing yang datang hendak menyembah seorang penguasa baru. Para pendukung raja menjadi panik, sementara orang-orang yang sudah lama memendam ketidaksukaannya pada raja mulai merancang cara bagaimana bisa mendapat posisi dalam pemerintahan yang baru.

Isu pergantian penguasa memang selalu menjadi kegaduhan politik yang ramai diperbincangkan oleh mereka yang mendapat keuntungan dari penguasa lama pun mereka yang mengalami diri sebagai musuh politik. Kegaduhan politik di lingkaran dalam itu meletus ketika Herodes memerintahkan membunuh para bayi. Tindakan nekat seperti ini dapat menumbuhkan ketakutan yang lebih besar dalam diri warga, khususnya mereka yang bersikap kritis terhadap penguasa.

Herodes bermaksud mengatasi kegaduhan politik dengan sebuah keputusan yang kejam. Warga memang perlu selalu meningkatkan kewaspadaan kalau penguasa mulai berbicara mengenai perlunya menghentikan kegaduhan politik. Bukan mustahil, cara kejam Herodes menjadi pilihan.

Natal tidak terlepas dari kegaduhan politik. Dan bagaimana pesannya? Peristiwa kelahiran Yesus mempunyai kegaduhan tersendiri bagi para gembala di tengah padang. Namun, sumber kegaduhan itu bukan urusan hitung menghitung penduduk dalam kelompok suku. Juga bukan karena isu pergantian penguasa di istana. Sumbernya adalah suara dari langit yang cerah yang membangunkan mereka dari kelelapan tidurnya di padang terbuka. Warta itu ditangkap oleh para gembala, orang-orang yang merawat dan melindungi domba, yang keprihatinan utamanya adalah keamanan dan pertumbuhan kawanannya.

Keamanan domba itu perlu, sebab itu para gembala mesti mencari tempat gembalaan yang tidak mudah diganggu perampok. Namun, tugas gembala tidak hanya melindungi domba dari ancaman. Gembala bukanlah tentara. Tugas lain penting bagi seorang gembala adalah memungkinkan pertumbuhan kawanannya. Tetapi tempat yang kaya makanan dan minuman itu mesti aman. Sebab itu, padang gembalaan yang ideal haruslah bebas dari ancaman pencurian, serentak memberikan cukup makanan dan air. Dan menemukan tempat seperti itu tidaklah mudah.

Karena itu, gembala-gembala harus selalu berada bersama kawanannya, berbagi kehidupan dengan ternak yang dikawal dan dibesarkannya. Mereka tidak tinggal di balik tembok yang aman sementara membiarkan kawanannya sendirian di luasnya padang di bawah langit terbuka. Mereka dipercayakan untuk menjaga domba, dan menjalankan kepercayaan itu dengan penuh tanggung jawab. Hanya orang-orang seperti ini sanggup menangkap kegaduhan yang lain dari kegaduhan politik. Mereka menangkap kegaduhan kerinduan akan kehidupan yang lebih ditandai oleh komitmen untuk melindungi dan merawat daripada mengancam dan merampas. Dan di malam itu mereka menangkap pesan bahwa keadaban baru seperti itu adalah sesuatu yang mungkin, karena Tuhan sendiri memulainya dalam sosok bayi yang lemah dan sederhana.

Kegaduhan tandingan di padang Betlehem tidak terdengar di tengah kegaduhan politik di pusat Kota Betlehem dan di istana raja di Yerusalem. Pesan Natal tidak akan terdengar kalau orang hanya sibuk mengurus kekuasaan demi kekuasaan, jika orang merancang konflik dan mengembus isu hanya demi merebut atau melanggengkan jabatan sambil mengabaikan semangat para gembala yang sadar bahwa tugasnya yang utama adalah melindungi dan merawat.

Sebaiknya, warta Natal dapat ditangkap para politisi yang berwawasan dan berhati gembala, yang melihat perlindungan dan perawatan kemaslahatan warga sebagai tugas utama setiap kekuasaan politik. Seperti gembala, para politisi seperti ini sungguh berbagi kehidupan dengan warganya, baru merasa berhasil ketika sanggup memberi perlindungan dan mendorong kemajuan warganya. Setelah berbagai kegaduhan politik di negara ini yang memberi kesan kuat, betapa kekuasaan hanya dijalankan demi kekuasaan dan kepentingan para penguasa, Natal dapat menjadi kegaduhan tandingan yang mendorong tumbuhnya peradaban kekuasaan yang baru.*

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved