Natal dan Kegaduhan Politik

Peristiwa cacah jiwa yang menjadi konteks penting bagi perjalanan pasangan Yosef dan Maria yang sedang

Editor: Dion DB Putra

Oleh Paul Budi Kleden, SVD
Rohaniwan Katolik, Tinggal di Roma

POS KUPANG.COM - Sudah sejak awal Natal bermuatan politis. Penyebutan nama penguasa dalam kisah tentang kelahiran Yesus mengindikasikan kesadaran orang-orang Kristen generasi awal tentang relevansi politik dalam peristiwa kehadiran Tuhan di tengah sejarah dan manusia.

Peristiwa cacah jiwa yang menjadi konteks penting bagi perjalanan pasangan Yosef dan Maria yang sedang hamil tua dilatari oleh pertimbangan politik. Sensus penduduk bermaksud mengetahui jumlah penduduk yang ada di dalam wilayah kekuasaan.

Bagi politik, mengetahui jumlah penduduk itu penting sebab, politik memang sangat kuat ditentukan oleh angka. Yang menang dalam pertarungan perebutan kekuasaan adalah pemegang dukungan mayoritas, sering pula identik dengan pembayar terbanyak. Keberhasilan politik diukur dengan angka: penurunan jumlah orang-orang miskin, kenaikan persentase pertumbuhan ekonomi atau penekanan jumlah para tuna aksara.

Seorang politisi pun dapat menggali kariernya sendiri kalau tidak hati-hati menjaga mulut menyebutkan angka: persentase saham yang diminta, misalnya.

Relevansi politik dari Natal menjadi sangat jelas dalam reaksi Herodes, raja yang berkuasa saat itu, ketika mendapat kunjungan tiga orang bijaksana dari Timur, yang tidak hanya datang untuk memberikan informasi kepada raja bahwa seorang penguasa baru sudah lahir, tetapi untuk menyembah penguasa tersebut.

Mereka tidak membawa apa-apa untuk raja yang sedang berkuasa, tetapi mempersembahkan pemberiannya kepada pemimpin yang baru. Itu berarti, ketiga orang tersebut tidak lagi mengakui sang raja. Bagi sebuah pemerintahan yang dibangun di atas praktik penindasan dan teror, kehadiran orang-orang asing memang selalu menimbulkan kecurigaan.

Perlawanan terhadap pihak asing dijadikan sarana untuk membangkitkan nasionalisme, yang amat sering berarti kepatuhan total pada penguasa negeri apa pun sikapnya. Kritik terhadap praktik penyelenggaraan kekuasaan yang mudah dibungkamkan sebagai antek yang mewakili kepentingan asing.

Kecurigaan pasti bertambah ketika pihak asing itu berbicara mengenai kelahiran seorang penguasa baru. Kursi kekuasaan tergoyahkan karena ketakutan akan kerjasama pihak luar yang merancang pergantian kekuasaan.

Herodes, politisi yang berpengalaman itu, mengambil dua keputusan penting untuk mengamankan posisinya. Pertama, dia mengizinkan ketiga orang majus mencari sang pemimpin baru berdasarkan informasi yang mereka terima. Kendati penuh kecurigaan, dia memilih memanfaatkan orang-orang asing itu untuk menemukan di mana kekuasaan baru sedang dirancang.

Sebenarnya, seorang raja yang sedang murka karena tidak lagi diakui sebagai penguasa dapat saja membunuh orang-orang asing tersebut. Namun, Herodes terlampau cerdik untuk tindakan ceroboh seperti itu. Bukan mustahil, yang ada dalam benaknya adalah membunuh ketiga orang pandai itu setelah mereka kembali dan menyampaikan kepadanya di mana mereka menemukan penguasa baru.

Kedua, setelah tahu bahwa rencana awalnya tidak terpenuhi karena ketiga orang majus itu tidak kembali lagi kepadanya, Herodes memutuskan untuk membunuh semua bayi di Betlehem dan sekitarnya yang berusia dua tahun ke bawah.

Politik Herodes menjadi membabi buta. Ketika tidak sanggup lagi membidik target yang tertentu, maka semua yang berpotensi menjadi saingan dihancurkan. Pada zamannya, Herodes menghancurkan dengan cara membunuh. Dalam era yang lebih kemudian, penguasa melumpuhkan para lawan potensialnya dengan menciptakan ketergantungan ekonomis, ideologis atau moral. Orang dibungkam dengan uang, atau disesaki dengan ideologi tunggal melalui pendidikan yang sentralistis, atau diancam dengan penyingkapkan pelanggaran moralnya.

Peristiwa-peristiwa politik seputar kelahiran Yesus di Betlehem menimbulkan kegaduhan yang besar. Sensus penduduk yang mengharuskan orang untuk datang ke tanah para leluhurnya menjadi kegaduhan bagi sebagian besar warga yang tinggal jauh dari wilayah nenek moyangnya. Walaupun tidak lagi memiliki kerabat yang dikenal di kampung asal para leluhur tersebut, para warga mesti pergi, sebab ini sebuah keputusan penguasa.

Akibatnya, banyak orang harus mencari tumpangan di penginapan, bukan di keluarga sendiri, karena mereka sudah tidak saling mengenal. Dikisahkan, Yusuf dan Maria harus mencari tempat penginapan, dan tidak menemukannya. Dengan keputusan membuat sensus seperti ini garis pemisah primordial kembali ditegaskan. Identitas kesukuan diperkuat. Dan dengan itu, persaingan antarsuku pun pasti meningkat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved