Agama dan Kekerasan
Juga, orang tidak boleh cuma merasa geram karena ledakan bom bunuh diri dan ancaman kekerasan
Oleh Paul Budi Kleden, SVD
Rohaniwan Katolik, Tinggal di Roma
POS KUPANG.COM - Tentu saja orang tidak boleh hanya berduka karena kematian 129 orang akibat aksi teror kelompok yang menyebut diri Negara Islam (IS) di Paris hari Jumat lalu.
Juga, orang tidak boleh cuma merasa geram karena ledakan bom bunuh diri dan ancaman kekerasan yang terjadi di beberapa negara Eropa akhir-akhir ini.Terlampau banyak kematian yang sia-sia terjadi di banyak belahan bumi, dan tidak terhitung tindak kejahatan yang mengguncangkan nurani dan menggugat rasionalitas manusia.Kejahatan di Paris dan di berbagai tempat lain di berbagai belahan bumi mesti membangkitkan reaksi global, apabila kita hendak mencegah masyarakat dunia dari banalisasi kekerasan dan kejahatan.
Karena aksi kekerasan di Paris dan sejumlah tempat lain mengatasnamakan agama, maka reaksi global dari masyarakat agama pun dituntut. Penyelesaian politik dan ekonomi memang sangat penting, namun diperlukan pula tanggapan dari agama-agama.
Agama-agama tidak dapat menampik kenyataan bahwa sejarahnya sangat sering diwarnai dengan kekerasan dan darah. Walaupun banyak orang berpendapat bahwa agama hanya diperalat oleh kepentingan politik untuk dijadikan kendaraan kekerasan, atau kekerasan adalah reaksi yang muncul karena penindasan ekonomi dan kemiskinan, tetapi pertanyaannya adalah: kenapa agama begitu mudah dijadikan alat? Apa hubungan antara agama dan kekerasan?
Sekurang-kurangnya dua penjelasan dapat diberikan untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, bagi banyak orang agama merupakan satu unsur dasar bagi identitas mereka. Hal ini terutama dapat diamati dalam masyarakat yang masih ditandai oleh kolektivisme atau semangat kelompok yang kuat. Jati diri orang didefinisikan dari keanggotaannya di dalam kelompok. Dan agama adalah satu pengelompokan yang amat berpengaruh.
Agama memberikan orientasi bagi hidupnya serentak menjadi pendasar harga dirinya. Sebab itu, ketika terjadi sesuatu dengan agama, orang akan mengalami disorientasi dan mudah kehilangan harga dirinya. Saat agamanya dikritik, orang merasa dirinya sendiri dihina. Atau, pada saat doktrin agamanya dipertanyakan, orang mengalami kegoncangan besar. Ketika pemuka agamanya dipermalukan di depan umum karena perbuatan yang tidak terpuji, orang merasa seperti ditampar.
Karena kuatnya identifikasi ini, maka orang mudah memahami kewajiban menghidupi ajaran agamanya sebagai keharusan membela agama dari semua mereka yang sedang atau berpotensi menjadi pengkritik agamanya.Tanpa satu ajaran yang secara tegas melarang kekerasan, pembelaan ini dengan mudah mengambil bentuk kekerasan.
Kedua, agama menyajikan legitimasi tidak langsung untuk melakukan kekerasan. Setiap kali terjadi aksi teror atas nama agama, kita mendengar pembelaan dari kaum agamawan bahwa agama tidak melegitimasi tindak kekerasan. Boleh jadi benar bahwa agama-agama tidak memberikan legitimasi langsung bagi aksi teror. Namun, semua agama sebenarnya sangat rentan untuk dijadikan kerangka pembenaran tidak langsung untuk tindak kekerasan.
Pengalaman menunjukkan, semakin tinggi sebuah nilai, semakin besar kerelaan orang berkorban untuk perwujudannya, serentak semakin besar juga kesediaan orang untuk membelanya. Orang mudah mencari dan menemukan alasan untuk tidak menghadiri sebuah pertemuan kelompok arisan, tetapi tidak semudah itu orang membebaskan diri dari pertemuan keluarga. Mungkin saja orang enggan memberi sumbangan untuk kegiatan kaum muda di kampung, tetapi kendati dengan banyak keluhan orang berjuang untuk memberikan derma di gerejanya.
Orang dapat tidak merasa sangat bersalah ketika melalaikan kewajiban membayar pajak kepada negara, tetapi orang akan dihantui rasa bersalah yang berkepanjangan ketika orang tidak mampu menunaikan kewajibannya sebagai anak terhadap orangtua. Orang lebih rela mempertaruhkan nyawa menyelamatkan seorang manusia yang sedang tenggelam daripada menyelamatkan seekor kucing.
Demikianlah, bagi sejumlah orang, kewajiban yang diturunkan dari ajaran agama tidak dapat dikompromikan dengan apa yang mereka pandang sebagai hasil olah pikiran manusia. Ketika orang mempertentangkan pembelaan terhadap kemurnian agama sebagai kewajiban keagamaan dengan penghormatan terhadap keluhuran martabat setiap manusia sebagai hasil olah pikiran manusia, maka dengan mudah orang memenangkan yang pertama atas ongkos yang kedua.
Karena kecenderungan manusia seperti ini, maka hal yang sangat penting adalah menunjukkan secara jelas dan tegas bahwa agama bukan hanya tidak menyuruh orang menggunakan kekerasan, melainkan bahwa agama melarang penggunaan kekerasan.Tidak menyuruh dapat dipandang sebagai sebuah sikap netral.
Dalam kondisi tanpa kekerasan, orang dapat merasa puas dengan sikap seperti itu. Namun, menghadapi penggunaan kekerasan atas nama agama, orang harus berlangkah lebih jauh dengan mengatakan, bahwa agama melarang kekerasan. Di tengah situasi aman, tidak menyuruh menggunakan kekerasan dapat dilihat sebagai ciri sebuah agama damai. Namun, ketika setiap hari kita mengalami kekerasan, sikap seperti ini justru dapat membuat ciri damai sebuah agama dipertanyakan.
Damai menuntut sikap pro-aktif untuk menolak kekerasan. Paus Benediktus XVI dalam kuliahnya pada tahun 2006 di Regensburg, yang kemudian mendapat reaksi penolakan yang besar di berbagai negara, sebenarnya hendak menggarisbawahi pandangan bahwa kekerasan berlawanan secara hakiki dengan Tuhan dan iman. Iman harus dimulai sebagai sikap batin yang tidak dapat tumbuh dalam suasana ketakutan di bawah ancaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/polisi-perancis-terus-memburu-jaringan-teroris_20151118_093049.jpg)