Agama dan Kekerasan
Juga, orang tidak boleh cuma merasa geram karena ledakan bom bunuh diri dan ancaman kekerasan
Dalam doa siang pada hari Minggu, 15 November yang lalu di Vatikan, Paus Fransiskus menyinggung aksi teror yang terjadi di Prancis dan dengan sangat jelas mengatakan: "Kebiadaban seperti ini membuat kita semua merasa terkejut. Kita merasa heran bahwa hati manusia dapat merancang dan menciptakan peristiwa-peristiwa kekerasan seperti itu, yang tidak hanya mengguncangkan Prancis tetapi seluruh dunia.
Menghadapi tindakan-tindakan seperti itu kita hanya bisa mengutuk penghinaan tak terlukiskan terhadap martabat manusia seperti itu. Saya hendak menegaskan sekali lagi bahwa jalan kekerasan dan kebencian tidak menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan, dan mereka yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan jalan ini sebenarnya sedang melakukan blasfemi (penghinaan terhadap Tuhan)". Pernyataan seperti ini bukanlah slogan yang murah, karena dilandasi oleh permenungan teologis tertentu.
Orang perlu mendalami, merasa yakin dan kemudian meyakinkan orang lain, kenapa Tuhan dan iman tidak dapat diperdamaikan dengan kekerasan. Pandangan seperti ini dapat mencegah orang untuk membela Tuhan dan agamanya dengan menggunakan kekerasan.
Pertanyaan tegas dari pemimpin agama seperti di atas dibutuhkan. Demikian pula yang diperlukan adalah pernyataan sikap yang jelas dari mayoritas pemeluk agama-agama yang mengklaim diri sebagai agama damai. Seringkali persoalan kita adalah mayoritas yang diam. Dengan mudah orang mengatakan bahwa apa yang dilakukan di Prancis atau di tempat-tempat lain adalah sekelompok kecil dari pemeluk agama tertentu.
Mereka tidak boleh dipandang sebagai wakil dari seluruh umat satu agama. Tentu ini sangat dapat diterima.Tetapi, pernyataan seperti ini lebih dapat dipercaya apabila mayoritas pun berani keluar dari kebisuan dan menyatakan sikapnya secara publik, mengutuk kejahatan dan mempromosikan perdamaian.
Selain pernyataan sikap pemimpin agama dan mayoritas umat beragama, kekerasan atas nama agama perlu dihadapi dengan pengembangan paham tentang keluhuran manusia sebagai manusia. Satu agama tetap rentan digunakan sebagai legitimasi kekerasan kalau dia tidak berhasil mengembangkan pandangan bahwa melindungi hak hidup setiap manusia, apapun agamanya, adalah sebuah kewajiban keagamaan. Agama-agama perlu menyebarluaskan keyakinan bahwa Tuhan tidak menjadi lebih terhormat dengan pembunuhan semakin banyak manusia. Kemurnian ajaran agama-agama dan penghormatan terhadap hak hidup manusia bukanlah dua hal yang bertentangan.
Lebih lanjut, agama-agama pun ditantang untuk memikirkan tempat orang-orang beragama lain dan yang tidak beragama dalam kerangka teologisnya. Kenyataan kemajemukan menunjukkan bahwa eksklusivisme tidak dapat menjadi pilihan yang tepat. Eksklusivisme atau pandangan yang melihat hanya agamanya sendiri sebagai satu-satunya yang mempunyai hak untuk hidup, membuat sebuah agama tidak akan pernah merasa tenang dengan dirinya sendiri dan menjadi sumber kerusuhan untuk yang lain. Kisah tua dari Kitab Suci orang-orang Yahudi dan Kristen tentang candi Babel mengingatkan bahwa proyek penyeragaman akan selalu berakhir dengan kehancuran.
Aksi-aksi kekerasan atas nama agama mestinya mendorong para pemuka agama-agama untuk membuat kajian lebih mendalam mengenai pandangannya tentang realitas kemajemukan agama. Kajian seperti ini dapat membantu para pemeluk agama untuk menyikapi tanpa kekerasan kritik yang dialamatkan kepada agamanya, dan menjadikan mereka semakin mandiri dalam menghadapi arahan sejumlah tokoh agama yang membenarkan pembunuhan demi kebesaran nama Tuhan.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/polisi-perancis-terus-memburu-jaringan-teroris_20151118_093049.jpg)