Anak anak Bali Peduli Lingkungan
Oh Baliku, Mengapa Subak-subak Itu Berganti Vila
Sekitar dua bulan lalu subak kami mendapatkan air yang debitnya kecil. Kian hari kian mengecil sampai tidak cukup mengairi
Penulis: Benny Dasman | Editor: Ferry Ndoen
Anak-anak Bali menggambar harapan atas masa depan mereka di Pulau Dewata, tempat mereka tinggal. Dengan satu mimpi yang sama, agar alam sekitar yang masih ada sekarang, tidak tersisa hanya dalam rupa lukisan. Kini, banyak subak kering, tinggal kenangan, hanya nama. Mangkrak diganti vila-vila dan hotel megah. Penduduk lokal, sang pemiliknya, semakin tersisih. Terpinggirkan oleh kaum berdasi yang punya duit. Oh Baliku!
Usai menggelar proyek Menggambar Bersama 5.000 Anak Lereng Batur, dengan tema "Aku Cinta Danau Batur", kini Komunitas Anak Alam melanjutkan proyek serupa dengan tema berbeda. Dengan mengusung tema "Aku Cinta Sawah dan Subak Bali," Pande Putu Setiawan bersama teman-teman di Komunitas Anak Alam menggiring anak-anak di seluruh Bali untuk menggambarkan sawah dan subak di sekitar tempat tinggalnya dan bagaimana cara melestarikannya jika kekurangan air.
"Kalau yang Batur kemarin, kami mengajak anak-anak yang tinggal di sekitaran Danau Batur untuk peduli lingkungan di sekitar danau dengan cara yang sederhana, yaitu dengan melukis. Sementara untuk yang sekarang, lebih luas lagi untuk keseluruhan Bali," ujar Pande, Senin (12/10/2015).
Menurut Pande, sawah dan subak adalah bagian dari peradaban kebudayaan masyarakat Bali. Tapi, ironisnya, keberadaan sawah dan subak ini semakin sedikit dan berganti dengan hadirnya gedung-gedung dan vila-vila mewah.
"Setiap tahunnya, dari apa yang saya baca, sekitar 1.000 hektar sawah per tahunnya yang beralih fungsi. Kalau terus seperti ini, sawah dan subak di masa mendatang hanya tersisa dalam rupa gambar, lukisan atau foto saja. Ini yang kita advokasikan kepada anak-anak agar mereka mulai sekarang peduli dengan kondisi ini. Mereka mulai dengan melukiskan kondisi itu dan bagaimana solusinya. Juga tertuang dalam lukisan," ujar Pande.
Salah satunya, sudah dimulai bersama anak-anak di kawasan Ceking, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, pada awal Oktober 2015 ini. Berfokus pada anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), hingga saat ini sudah ada sekitar 200 anak dari kawasan Gianyar dan Bangli yang menggambar dengan tema subak yang kering dan sawah tersebut.
Proyek ini juga digarap oleh Anak Alam, bekerja sama dengan mahasiswa KKN Universitas Udayana, yang mana mereka mendatangi daerah-daerah di Bali yang masih memiliki potensi sawah dan mengajak anak-anak di sana untuk menggambar bersama. "Anak-anak seumuran ini (SD), bisa berekspresi lebih jujur. Dan, mereka harus diajak sejak awal agar paham akan apa yang terjadi di sekitar mereka," tambahnya.
Antusiasme anak-anak ini pun, menurutnya, sangat luar biasa. Tidak perlu diiming-imingi hadiah, dengan diberi kesempatan seperti ini, menurutnya, anak-anak tersebut sudah merasa senang.
"Gambar yang dihasilkan pun, untuk seusia mereka luar biasa. Bisa menggambar sedetail mungkin tentang kondisi subak dan sawah yang kering. Jarang-jarang mendapat kesempatan, ketika ada, mereka langsung menunjukkan kemampuannya," ujar Pande sumringah.
Tak hanya dalam rupa gambar, di belakang lukisannya anak-anak juga menceritakan tentang gambar mereka. Dalam bentuk tulisan, mereka mengungkapkan apa alasan mereka mencintai Danau Batur, Danau Buyan. Begitu juga mengapa mereka mencintai sawah dan subak.
Pamerkan Secara Online
Rencananya, proyek lanjutan 5.000 anak yang melukis sawah dan subak ini akan dilangsungkan selama setahun ke depan. Tidak hanya itu, dengan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang, lukisan-lukisan tersebut dipamerkan pada sebuah pameran online.
"Proyek ini akan dipamerkan secara online guna mendapat masukan dan solusi yang ditawarkan nitizen dalam mengatasi problem subak di Bali. Selama satu atau maksimal dua tahun ke depan, rencananya akan ada minimal 10 gambar per hari yang diposting di online," ujar Pande.
Pameran secara online ini dicanangkan oleh Pande dengan tujuan semua orang bisa mengakses karya anak-anak Bali ini, tanpa terbatas wilayah tertentu. Yang penting adalah solusi dari nitizen. Pameran ini mencakup kedua tema, yakni Batur serta Sawah dan Subak. "Biar bisa diakses lebih banyak orang tanpa batas geografis," terangnya.
Pada tanggal 28 Oktober 2015, pameran tahap pertama, yakni tentang Danau Batur dilaunching. Dalam bentuk fisik, Pande dan anak-anak Komunitas Anak Alam menggelar pameran tersebut di Denpasar. "Untuk launchingnya akan dilakukan di Denpasar, 10 persen tentang Batur, 90 persen tentang sawah dan subak yang sudah ada. Baru setelah itu tiap hari kami posting secara online," pungkas Pande.
Asuransi untuk Petani
Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, memberi solusi agar Subak tidak diincar kaum berduit. Ketika menghadiri acara Inisiasi Workshop dalam Pariwisata Berkelanjutan di Situs Warisan Budaya Dunia yang bertajuk, 'Lansekap Budaya Provinsi Bali: Subak sebagai Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana,' di Hotel Sanur Paradise, Rabu (21/10/2015), Sudikerta memaparkan Subak tidak bisa dipisahkan dari filosofi agama Hindu, yakni Tri Hita Karana yang merupakan tiga harmonisasi yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan manusia lainnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/anak-anak-di-bali_20151026_075510.jpg)