Jumat, 15 Mei 2026

Anak anak Bali Peduli Lingkungan

Oh Baliku, Mengapa Subak-subak Itu Berganti Vila

Sekitar dua bulan lalu subak kami mendapatkan air yang debitnya kecil. Kian hari kian mengecil sampai tidak cukup mengairi

Tayang:
Penulis: Benny Dasman | Editor: Ferry Ndoen
Ist
ISTIMEWA GAMBAR SUBAK--Anak-anak di kawasan Tegallalang, Gianyar, Bali, menggambar subak dan sawah yang ada di sekitar tempat tinggal mereka, beberapa waktu lalu. 

TATAPAN mata I Wayan Rauh (50), nanar menerawang hamparan sawah di depannya. Padi yang seharusnya menguning tak ia lihat lagi. Kini hanya rerumputan tumbuh di tanah sawah yang kian padat mengering. Sembari menenteng sebilah sabit, Rauh lalu berujar, "Kami gagal panen untuk kedua kalinya tahun ini," ujarnya, Rabu (21/10/2015).

Sudah dua bulan lamanya petani di Subak Bonbiu, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, mengalami kekeringan. Tak pelak ihwal ini membuat setidaknya sekitar 10 hektare sawah yang digarap 200 petani terancam gagal panen. Tanah sawah mengering, pecah terbelah. Tiada padi yang mampu tumbuh.

"Sekitar dua bulan lalu subak kami mendapatkan air yang debitnya kecil. Kian hari kian mengecil sampai tidak cukup mengairi para petani pemilik maupun penggarap sawah ini," keluhnya.

Dari satu hektare sawah yang ia garap, 50 are sudah ia tanami padi. Dua bulan tidak mendapatkan air, tanamannya pun kini mati. Padi berganti padang. Ini membuat Rauh memastikan diri mengalami kerugian Rp 2,3 juta. "Rugi, pasti rugi. Lihat saja di sekeliling subak ini. Tak sepetak pun sawah yang digenangi air. Itu nominal rugi untuk biaya pupuk, bibit, traktor dan lainnya. Belum termasuk tenaga kami setiap hari," keluh Rauh.

Aktivitas para petani Subak Bonbiu pasca kekeringan dihabiskan dengan menyabit rumput untuk pakan sapi. Rauh pun bertanya, bagaimana bisa petani mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan, namun masalah-masalah pertanian direspon lamban. "Saya baca di koran, di televisi juga terus didengungkan ketahanan dan swasembada pangan. Bagaimana bisa sawah kami kekeringan begini dibiarkan," kesalnya.

Tahun lalu, kekeringan juga dirasakan para petani. Bahkan berlangsung hampir enam bulan lamanya. Penyebabnya sama, ada longsoran bekas tambang batu cadas liar yang menutupi saluran Tukad Petanu.

Anggota Komisi IV DPRD Gianyar, Ni Made Ratnadi, mengungkapkan, selain Subak Bonbiu, jebolnya Bendungan Bedulu, di daerah Bangunliman yang menimbun Tukad Petanu juga berimbas pada delapan subak lainnya. "Ada delapan subak lainnya yang mengalami kekeringan. Jika rata-rata satu subak terdiri dari 10 hektare, maka tertimbunnya Tukad Petanu membuat 90 hektare sawah kekeringan. Kami akan cek," ungkapnya.

Tak hanya Wayan Rauh yang hatinya meronta. I Made Lekusa pun demikian. Ia hanya berdiri termangu di pinggir Subak Buangga di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Badung, Minggu (13/9/2015). Diam seribu bahasa. Menarik napas panjang. Seolah tak percaya subak di hadapannya itu kering kerontang.

Praktis sejak mengecilnya debit air ke areal persubakan ini, petani setempat tidak bisa lagi menanam padi. Kemarau panjang yang saat ini mendera Bali semakin menyulitkan aktifitas pertanian di subak ini yang saban tahun mengelola pertanian organik. Pasalnya, selain tidak bisa menanam padi, jenis tanaman lain seperti kacang-kacangan dan palawija juga sulit tumbuh akibat mengerasnya tanah sawah.
Luas Subak Buangga 148 hektar. Terdiri dari empat munduk, yakni Munduk Buangga, Munduk Kasianan, Munduk Beng dan Munduk Pandian. Jumlah krama subak 215 orang petani. "Sejak tiga tahun terakhir, krama Subak Buangga sama sekali tidak bisa bercocok tanam. Selain tidak bisa menanam padi, tanaman palawija juga tidak bisa hidup karena keringnya tanah. Jangan kan padi, kacang-kacangan dan palawija pun tak bisa tumbuh karena sama sekali tidak ada air. Kondisi ini sudah terjadi sejak tiga tahun lalu," ujar Lekusa, seorang petani Subak Buangga.
Mantan Pekaseh ini juga mengatakan, kehidupan petani di subak ini sangat kesulitan. Hasil pertanian yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup petani sudah tidak ada lagi. "Kami sudah pasrah. Sudah tiga tahun kami tidak bisa menanam padi. Tidak ada hasil apa dari sawah, sementara kebutuhan hidup naik terus," beber Lekusa.
Jika kondisi ini tidak segera diatasi, Lekusa khawatir petani akan banyak beralih profesi dan menjual tanahnya dan orang kaya membangun vila di atasnya. Sebab, sebagian sawah sudah mulai dikavling untuk dibangun vila. "Kami petani sudah tidak bisa hidup dari bertani. Kami berharap pemerintah turun dan memberi solusi," harap Lekusa.
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (DP2K) Badung, IGAK Sudaratmaja , tak menampik kondisi yang dialami warga. "Untuk Subak Buangga memang sejak dulu kekurangan air. Untuk kondisi lahan seperti itu, cocoknya bertanam palawija seperti kacang tanah," sarannya. (balitribune.co.id, 14 September 2015).
Sementara petani di Subak Mambal, Desa Mambal, Badung, justru tersenyum. Mereka tak terkena dampak musim kemarau tahun ini. Memanen padi dua kali. Mengapa? Para petani yang tergabung dalam Subak Mambal terlibat dalam Gerakan Mambal Lestari melestarikan DAS Ayung. Wujudnya, mengembangkan pertanian sehat atau ramah lingkungan.
"Terbukti ampuh, air di Subak Mambal dari DAS Ayung tidak surut. Kami juga punya laboratorium sebagai tempat belajar petani untuk mengembangkan pertanian ramah lingkungan," ujar Wayan Sulendra, Ketua Subak Mambal, akhir September lalu di Mambal. Dia mengakui Garakan Mambal Lestari ini bekerja sama dengan Aqua Mambal karena mereka (Aqua) juga memanfaatkan DAS Ayung.
Sulendra menyebut petani Subak Mambal yang sudah mandiri mengembangkan pertanian ramah lingkungan adalah Aji Oka (Munduk Bedugul) luas lahan 0,20 ha; Putu Widana (Munduk Kedampal) luas lahan 0,25 ha; Made Oka (Munduk Bedugul) luas lahan 0,25 ha; Rembig (Munduk Bedugul) luas lahan 0,13 ha: Pan Koncreng (Munduk Cungkub) luas lahan 0,20 ha; Runda (Munduk Cungkub) luas lahan 0,25 ha.
Bagi masyarakat Bali, subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok tanam. Subak yang telah terjaga selama lebih dari 1.000 tahun mendapat anugerah World Heritage (Warisan Dunia) untuk kategori lansekap budaya oleh badan PBB, UNESCO, pada 2012. Tidak hanya itu, kepopuleran subak mampu memikat lebih dari 2 juta wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahunnya.

Lansekap dan tradisi budaya subak sangatlah populer sehingga petani pun menjual sawah mereka kepada pengembang dan membuat luas lahan produksi berkurang 1.000 hektare setiap tahunnya, Kondisi ini turut berkontribusi memberi tekanan lebih besar bagi petani lain untuk menjual sawah mereka.
Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para pemilik lahan dan petani yang diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan Dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani. Jika subak kering, petani Bali menganggapnya sebagai bencana. Sebab, subak merupakan urat nadi kehidupan para petani Bali.
***
Tak hanya subak yang kering. Dampak kekeringan di Bali juga membuat air Danau Buyan di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, menyusut sekitar satu meter dari permukaan selama kurun waktu sebulan terakhir. Penyusutan ini diduga karena musim kemarau dan pertumbuhan eceng gondok yang semakin liar. Kondisi berkurangnya air hampir mencapai seperempat danau, dan praktis hanya menyisakan lumpur.
Seorang petani stroberi di sekitar danau, Nyoman Lantur mengatakan, susutnya air danau ini diperkirakan sejak sebulan lalu. Ia pun mengaku kesulitan untuk mengairi kebun stroberinya. Pria ini harus membeli mesin pompa dan pipa panjang untuk mengalirkan air dari danau ke kebun stroberinya. "Biar tanaman stroberi tidak mati, saya beli mesin air agar tanaman tetap hidup," ujar Lantur.

Warga lainnya, Ni Putu Merta mengatakan, susutnya air danau ini membuatnya kesulitan mendapatkan air bersih. Selama ini ia mengandalkan sumur bor yang airnya bersumber dari danau. Kini air di dalam sumurnya turut surut dan keruh. "Kami tetap gunakan saja, karena tidak ada pilihan lain. Mudah-mudahan sumur tidak sampai mengering. Kalau kering saya mesti beli air galon di warung," ucapnya.

Dosen Pertanian Undiksha, Dr. Kartini, mengatakan, sumber air dari Danau Buyan tidak saja dimanfaatkan warga sekitarnya untuk penghidupan. Namun juga berfungsi sebagai kawasan daerah resapan air di Bali.

"Penurunan air diperkirakan terjadi akhir Agustus lalu. Diduga karena kekeringan dan fenomena alam ini akibat sedimen sangat tinggi. Selain itu, gulma mulai banyak, apalagi tanah di sekitar danau sudah sangat kering. Ini harus menjadi perhatian berbagai pihak," katanya.

Mimpi Anak-anak Bali
Keringnya subak dan sawah serta air Danau Buyan yang menyusut sebagai dampak kekeringan, mengundang keprihatinan anak-anak Bali. Adalah Pande Putu Setiawan melalui Komunitas Anak Alam mengobarkan semangat anak-anak untuk peduli lingkungan. Apa wadahnya?

Spektakuler. Sekitar 10.000 anak-anak Bali unjuk gigi pada Senin, 12 Oktober 2015 lalu. Mereka tidak kerja fisik dengan menanam anakan atau pohon-pohon di sumber-sumber mata air, tetapi kepedulian mereka terhadap lingkungan divisualkan melalui lukisan. Ide-ide mereka dituangkan di atas kanvas. Entah itu berupa jeritan alam karena eksploitasi secara besar-besaran ataupun masukan kepada penentu kebijakan agar melestarikan alam.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved