Parodi Situasi

Sang Kasih yang Panas

Bayangkan saja kalau memiliki kekasih yang hot alias panas membara. Penuh gairah berpacaran dengan semangat RBG

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra

Oleh Maria Matildis Banda

"WADUH! Saya kita hati terbakar asmara!"
"Bukan! Bukan hati terbakar asmara!"
"Tetapi Pasar Kasih yang terbakar api membara!"

"Pasar kasih terbakar!"
"Terbakar di tengah kering kerontangnya kemarau panjang, tanah kering, sumur mengandung ecoli, tanaman mati, air begitu sulit dicari. Apa yang sudah terjadi dengan tanah leluhur ini? Bencana demi bencana mengancam di hadapan mata."
***
Bayangkan saja kalau memiliki kekasih yang hot alias panas membara. Penuh gairah berpacaran dengan semangat RBG alias remaja baru gede. Dunia rasanya hanya selebar daun kelor, milik kita berdua saja, dan orang lain peduli amat. Akan tetapi cerita kali ini bukan soal panasnya RBG tetapi panasnya pasar kasih yang terbakar hangus beberapa hari lalu. Api menyambar bebas. Dunia yang sesungguhnya tidak selebar daun kelor ini menjadi hanya selebar daun kelor. Api yang membakar dan kerugian yang diderita hanya milik penderita.

"Habis sudah semuanya," Jaki menangis. "Modal rata tanah."
"Jangan menangis, Jaki," hibur Rara. "Kita pasti dapat bantuan, tenang saja."

"Segala yang kubangun dari nol hangus dalam sekejap, bagaimana mungkin engkau larang aku menangis?" Rara tetap menangis.

"Kita beruntung karena pasti dapat bantuan, jadi tenang saja."
"Ini soal keringat dan air mata. Ini soal perjuanganku bertahun-tahun. Ini soal nasib orang-orang kecil yang bekerja bersamaku. Bagaimana nasib mereka nanti?"
"Pikirkan saja nasibmu sendiri. Jangan pikir nasib orang lain," potong Rara lagi.
"Pergi jauh-jauh dari sini," teriak Rara.

"Kita pasti dapat bantuan! Kita pasti dapat untung."
"Pergiiiii," teriak Jaki yang membuat Rara lari pontang panting.
***

Menurut Nona Mia dan Benza, Jaki pantas marah dan mengusir Rara agar menjauh darinya. Bagaimana mungkin dalam situasi kehilangan begitu banyak, Rara berpikir keuntungan. Rara tidak dapat merasakan dan memberi arti bagi keringat dan air matanya sendiri. Sudah begitu lama membangun usaha jualannya di Pasar Kasih. Apakah harus rela begitu saja segalanya hilang. Apakah rela begitu saja waktu demi waktu berlalu sia-sia.

"Kenyataannya memang demikian!" Rara membela dirinya sendiri.
"Kamu menyakiti hati Jaki," kata Nona Mia.
"Pokoknya aku menunggu datangnya bantuan. Beruntung benar aku ini," kata Rara.
"Jadi kamu biarkan saja segala yang kamu bangun selama ini habis sia-sia?"
"Kenyataannya memang demikian bukan?" Rara menjawab pertanyaan Benza.

"Apakah kamu tidak punya rasa sedih? Ya, setidak-tidaknya sedih melihat kenyataan pasar terbakar dan banyak orang kecil yang bekerja bersamamu kehilangan pekerjaannya? Apakah kamu tidak merasa energi terbuang dalam sekejap saja? Apakah kamu merasa nyaman dan aman saja dengan situasi panas membara, terbakar, dan kehilangan seperti ini?"

"Aku akan dapat bantuan. Setelah terima bantuan aku akan pergi dari sini untuk buka usaha baru? Keuntungan baru untukku," Jawab Rara.
"Orang kecil yang bekerja bersamamu bagaimana?"
"Pusinglah kalau aku mesti pikirkan semuanya. Silahkan saja berjuang sendiri!"
***
Apakah benar demikian? Ada banyak bantuan, ada banyak uluran tangan yang datang menolong korban yang kehilangan modal dan masa depan. Mungkin juga ada banyak dukungan dana yang diterimakan kepada korban untuk memulai lagi. Yang pasti, penderitaan itu milik pribadi ketika dimana-mana di berbagai tempat di dunia ini orang-orang yang menderita berbagai kehilangan sedang berjuang sendiri menghadapinya.

"Ketika kapal tenggelam di pelabuhan dan badan kapal belum dapat diangkat kembali. Sandaran kapal rusak, tidak ada kapal yang datang, pelabuhan sunyi sepi, dan suara-suara orang yang kehilangan pekerjaan sayup-sayup sampai," kata Nona Mia kepada Rara.

"Itu bukan urusan kita!" Potong Rara.
"Dengar dulu!" Sambung Benza. "Jika tidak dapat mendengar dengan telinga, dengarlah dengan hatimu."

"Dengar dengan telinga saja susah apalagi dengar dengan hati?" Rara mengomel.
"Ada banyak orang yang kehilangan pekerjaannya. Buruh pelabuhan, portir, tukang pikul, penjual kacang, jagung, dan pisang rebus di tepi pantai, anak-anak yang menjajahkan air minum dalam gendongan, remaja putus sekolah yang menjunjung berbagai makanan ringan di atas kepalanya berjalan di antara penumpang dan penjemput yang berjubel di pantai, rumah makan sederhana, dagang es keliling serta berbagai pekerja kecil lainnya kehilangan pekerjaaan, kehilangan asap dapur."

***
"Itu di pelabuhan," protes Rara.
"Sama saja. Di pasar juga demikian. Tukang pikul belanjaan, tukang sapu, pedagang keliling yang menjunjung dagangannya di kepala, pedagang kecil lainnya yang menumpang jualan di sepanjang emperan untuk dapat penghasilan hari ini dan habis pula hari ini. Bekerja hari ini untuk memenuhi kebutuhan hidup hari ini."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved