Jumat, 10 April 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Dikala Nilai Rupiah Anjlok

Produk-produk ekspor yang dapat dikembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur terutama adalah produk komoditi kelautan, peternakan, perkebunan

Editor: Benny Dasman
Antaranews
Nilai Tukar Rupiah Karyawan menghitung pecahan uang dolar Amerika di Jakarta, Jumat (5/6/15). 

Oleh Untung Sudrajad
Warga Kelurahan Kayu Putih Kota Kupang

BEBERAPA bulan terakhir nilai mata uang rupiah cenderung melemah, terutama terhadap dollar Amerika, bahkan nilai dollar Amerika terus menguat dalam kisaran angka Rp 13.300. Banyak para ahli yang memprediksi nilai dollar pada tahun 2015 bisa saja berada dikisaran angka di atas Rp 14 ribu.

Apakah dampak pelemahan rupiah? Ketika nilai tukar sebuah mata uang melemah, maka yang biasanya mencolok terkena dampaknya adalah harga komoditi impor, baik yang menjadi obyek konsumsi maupun alat produksi (bahan baku dan barang modal). Karena harga komoditi impor dipatok dengan mata uang negara asal, maka jika nilai mata uang negara tujuan jatuh, harga komoditi impor akan naik.

Pada kenyataannya kita ini sudah sangat familiar dengan produk impor ini, mulai dari buah-buahan, sayuran, makanan dan minuman kalengan, daging sapi, ayam beku, peralatan rumah tangga dan bahkan makanan rakyat seperti tahu dan tempe pun bahan baku kedelainya diimpor dari Amerika.

Lalu siapa yang mengalami dampak kenaikan harga produk impor ini? Pertama, konsumen, terutama konsumen kelas bawah yang tidak mampu meningkatkan pendapatannya pada waktu harga naik. Kedua, pihak-pihak dalam mata rantai distribusi komoditi impor mulai dari importir sampai pengecer, karena mereka menghadapi pasar dalam negeri yang menyusut.

Ketiga, para usahawan yang berorientasi pasar dalam negeri, namun alat-alat produksinya, terutama bahan bakunya impor. Seperti produsen tahu tempe, makanan siap saji, produsen kemasan, dan lain sebagainya. Keempat, kaum pekerja yang sudah terpukul dari sisi konsumsi akibat kenaikan harga barang, juga akan dijepit dari sisi upah oleh pengusaha yang terjepit oleh kenaikan harga alat-alat produksi impor, penyusutan pasar lokal dan lain sebagainya.

Namun demikian, seperti kata-kata para motivator yang senantiasa menyemangati kita, bahwa setiap kondisi tertentu, selain mengandung tantangan, juga mengandung peluang di dalamnya. Menguatnya dollar Amerika dan melemahnya rupiah ternyata juga memberikan peluang bisnis dan keuntungan yang besar bagi sementara pengusaha. Jika mata uang suatu negara melemah, maka yang diuntungkan adalah sektor eksport yang bahan bakunya (seluruhnya atau sebagian besar) berasal dari dalam negeri. Seperti eksportir udang, eksportir kakao, eksportir kopi, eksportir jambu mente, eksportir tuna /cakalang dan lain-lain. Namun, ini tidak berarti seluruh sektor ekspor mengalami keuntungan, karena bagi komoditi ekspor yang ditopang oleh bahan baku impor, maka keuntungan yang didapat dari kenaikan harga barang ekspor itu "akan dipangkas habis" oleh harga bahan baku impornya yang mahal.

Untuk menyiasati keadaan tersebut beberapa pakar pemasaran menyarankan untuk memanfaatkan beberapa peluang sebagai berikut, pertama, mengganti produk impor yang membanjiri Indonesia termasuk juga Nusa Tenggara Timur. Besarnya produk impor yang membanjiri Indonesia menggambarkan besarnya daya serap pasar terhadap produk impor sekaligus menggambarkan adanya suplai produk dalam negeri yang kurang. Contoh yang nyata adalah buah impor, elektronik, daging beku (Ingat skandal suap impor daging sapi), kedelai dan bahkan sebagian besar kebutuhan garam kita masih impor.

Sebetulnya kita mampu memproduksinya dan pasar sangat siap menyerapnya. Kedua, membuat produk yang berorientasi ekspor. Penjelasan hal ini sederhana sekali, karena perbedaan kurs nilai tukar akan sangat menguntungkan eksportir, dan hal ini akan dapat memsubsidi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak dan Upah Minimum Provinsi yang naik setiap tahunnya. Produk-produk ekspor yang dapat dikembangkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur terutama adalah produk komoditi kelautan, peternakan, perkebunan dan produk ekonomi kreatif maupun kerajinan.

Ketiga, membidik pasar baru terutama kelompok kelas menengah dan tinggi, yang pertumbuhannya semakin nyata di Nusa Tenggara Timur ini. Mereka mempunyai gaya hidup yang berada diatas masyarakat rata-rata karena penghasilan mereka memang lebih tinggi. Dan hal ini merupakan peluang yang besar dengan memproduksi produk yang sesuai dengan kebutuhan gaya hidup mereka.

Akhirnya, ada pepatah lama yang mengatakan bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali keberadaan Tuhan dan perubahan itu sendiri. Dan, marilah kita sambut segala perubahan yang terjadi didunia ini dengan hati dan pikiran yang terbuka. Ingatlah sebuah semboyan yang mengatakan bahwa disetiap masalah pasti ada peluang yang tersembunyi, dan bahkan jika semua pintu tertutuppun, masih ada jendela yang bisa kita lompati dan semoga tulisan ini bisa menjadi bahan diskusi bagi kita bersama. Syaloom.*

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved