Selasa, 14 April 2026

18 Tahun Warga Translok Waekokak Hidup dalam Kemiskinan

Hampir 18 tahun warga Transmigrasi Lokal (Translok) Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, hidup dalam kemiskinan.

Editor: Kanis Jehola

POS KUPANG.COM, MBAY, PK -- Hampir 18 tahun warga Transmigrasi Lokal (Translok) Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, hidup dalam kemiskinan. Mereka bertahan hidup  hanya dari buruh tani Sore Kasih di Daerah Irigasi Mbay Kanan.

Sementara Irigasi Mbay Kiri yang dijanjikan pemerintah ketika memindahkan mereka dari daerah asal ke lokasi Transmigrasi Waekokak sampai saat ini tidak jelas kelanjutannya. Akibatnya, lahan sawah yang diberikan pemerintah kepada mereka tidak dapat digarap.

Salah seorang warga Translok Waekokak, Gaspar Djawa (56), yang ditemui di kediamannya, Senin (30/6/2014), menuturkan, 18 tahun sudah mereka menderita hidup sebagai warga translok.

Gaspar yang juga menjabat sebagai Ketua RT 08, Desa Waekokak itu mengungkapkan, dirinya bersama 310 kepala keluarga lainnya tiba di daerah Translok Waekokak  26 Pebruari  1996.

Gaspar yang berasal dari Desa Wituromba Ua, Kecamatan Keo Tengah, mengungkapkan, ketika direkrut menjadi warga Translok Waekokak, mereka dijanjikan lahan dua hektar yang terdiri dari pekarangan 0,5 ha, lahan usaha I (ladang) 0,5 ha, sawah 1 ha).

Namun setelah sampai di lokasi transmigrasi, kata Gaspar, ternyata tidak dapat digarap karena tidak ada air. "Pembangunan Saluran Irigasi Mbay Kiri tersendat karena masalah lahan. Kita terpaksa hidup dari buruh tani atau Sore kasih. Itu pun kalau ada petani di Irigasi Mbay Kanan yang menggunakan tenaga kami. Kami tidak bisa kembali lagi ke kampung halaman karena malu," kata Gaspar.

Dari pekerjaan sebagai buruh tani, Gaspar mengatakan, mereka mendapatkan upah Rp 50.000 per hari. Pendapatan ini tidak diperoleh setiap hari, tergantung ada yang membutuhkan tenaga mereka.

"Kami umur sudah begini (56 tahun) orang sudah tidak pakai lagi. Kadang-kadang  ada pekerjaan, kadang-kadang tidak ada pekerjaan. Apalagi untuk SK di Mbay Kanan, mereka pilih-pillih. Meski begitu tidak ada niat kami  untuk kembali ke daerah asal  karena di sana keadaan juga sulit. Biar mati, hidup kami di sini. Apalahi sudah 18 tahun lebih. Malu kalau pulang kampung," katanya.

Akibat kesulitan hidup, Gaspar mengatakan, sudah ada warga translok yang meninggalkan rumah dan merantau.

Sementara bantuan untuk warga miskin dari pemerintah seperti beras miskin (Raskin) ternyata hanya untuk 62 KK dari 339 KK warga yang ada di daerah translok tersebut.

"Hanya 62 KK yang tercatat sebagai KK miskin. Padahal, hampir semua warga translok hidup di bawah garis kemiskinan. Untung ada kebijakan dari pemerintah desa dan disetujui 62 KK penerima raskin untuk membagi rata raskin sehingga kita juga bisa dapat makanan. Kita tidak tahu kriteria seperti apa yang pemerintah gunakan untuk tentukan orang miskin sehingga warga di sini yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak terdaftar sebagai KK miskin," kata Gaspar. (dea)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved