Seakan-akan Kita Teman
SATU kalimat saja yang melekat langsung di dalam kepala Nona Mia, ketika berhadapan dengan Mata Najwa
"Apalagi Benza pidatonya rumit. Dekonstruksi diri lalu rekonstruksi diri. Apa pula artinya? Susah-susah amat. Hidup sudah susah dibuat tambah susah sama si intelektual Benza."
"Apakah Benza bukan temanmu?" tanya Nona Mia lagi.
"Teman politik," jawab Jaki dan Rara bersamaan.
***
"Teman politik itu bisa teman, bukan teman, sekedar teman, benar-benar teman, dan seakan-akan teman. Tergantung dari tujuan kepentingan dan kepentingan tujuan. Kalau cocok, bukan teman! Kalau tidak cocok, itu baru teman. Kalau beruntung baru benar-benar teman. Namun hati-hati, kalau tidak beruntung, itu namanya seakan-akan kita teman," Jaki berkelit kian kemari sementara Rara cerah ceria sebab mengerti bahwa dirinya tidak mengerti.
"Jangan berkerut begitu, Nona Mia!" Benza langsung bergabung.
"Hai teman!" Jaki dan Rara langsung sambut dengan jurus saling menggenggam tangan. "Kita teman atau seakan-akan teman," tanya Benza langsung ke mata Jaki dan Rara.
***
"Seakan-akan teman kalau lagi di belakang Benza. Tetapi kalau di depan, bagaimana mungkin berterus terang, bahwa kita memang seakan-akan teman. Bukankah begitu?"
"Ternyata kalian berdua bukan teman, tapi hanya seakan-akan teman!" kata Nona Mia.
"Sungguh-sungguh teman, bukan seakan-akan," protes Rara.
"Sudah lama kita teman, tapi sekarang seakan-akan kita teman!" Sambung Jaki. *