Kamis, 7 Mei 2026

Seakan-akan Kita Teman

SATU kalimat saja yang melekat langsung di dalam kepala Nona Mia, ketika berhadapan dengan Mata Najwa

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Parodi Situasi Oleh Maria Maria Matildis Banda

SATU kalimat saja yang melekat langsung di dalam kepala Nona Mia, ketika berhadapan dengan Mata Najwa, beberapa hari yang lalu soal Jokowi dan Ahok dalam judul 'Pertaruhan Jokowi Ahok'. 

Ketika Jokowi berkata bahwa kalau benar masyarakat DKI  menolaknya jadi capres tidak mungkin suara PDIP meningkat sampai 300 persen di DKI, penonton masih tenang-tenang saja. Namun ketika Jokowi berkata 'tugas di mana saja itu sama saja, asalkan dapat mensejahterakan masyarakat' Najwa pun meminta supaya audiens di studio bertepuk tangan dengan sepenggal kalimat 'seakan-akan kita teman'. 

"Kalimat yang terdengar enteng, namun memiliki muatan politis yang luar biasa," komentar Benza ketika itu. Suka atau tidak suka, kenyataannya memang demikian.

"Tepuk tangan saja, seakan-akan kita teman. Padahal, sebenarnya kita musuh bebuyutan setelah di kepala kita bersarang ambisi untuk menjatuhkan satu sama lain, dalam skala paling kecil sampai ke skala yang paling besar." Itulah Jokowi, Ahok, dan Najwa, dan audiens di layar kaca. Singkat, cepat, terbatas, selesai, dan meninggalkan kesan. Namun, satu kalimat itu benar-benar nyangkut dan lebih nyangkut lagi saat Rara dan Jaki memanfaatkannya pada situasi dan kondisi yang hampir berbeda tetapi hampir sama.
                             ***
"Ayoh, mari kita tepuk tangan."
"Seakan-akan kita teman."
"Mari kita sanjung dia!"

"Seakan-akan kita teman."
"Biar dia merasa bangga!"
"Seakan-akan kita teman!"

"Ayoh, berdiri dan tepuk tangan lebih keras."
"Ha ha ha seakan-akan kita teman."
"Supaya kita pun dapat ikut makan-makan kalau dia menang!"
"Seakan-akan kita teman."

                                             ***
"Waduh, apa-apaan itu Jaki Rara?" Nona Mia pasang telinga biar bisa mendengar dengan baik, dialog kedua sahabatnya itu. "Ada apa gerangan? Seakan-akan kita teman? Kutip langsung dari Mata Najwa, apa maksudnya ya? Siapa pula sasarannya?"

Nona Mia bertanya-tanya. Di panggung Benza lagi berpidato, tentang pemberdayaan masyarakat lokal menghadapi tantangan global.

Bagaimana menyikapi HP, SMS, internet yang masuk ke bawah bantal kamar tidur, bagaimana menyikapi ruang privat yang diporak-porandakan teknologi komunikasi bawah bantal yang asyik, enjoy, penuh rahasia, dan nikmat. Bagaimana menyikapi teror teknologi komunikasi yang telah membuat individu telah menjadi teroris bagi dirinya sendiri ketika dibuai tawaran dunia tentang perselingkuhan, pornografi, dan percintaan dunia maya.

"Pertama, kita harus mendekonstruksi diri sendiri sebelum merekonstruksi kembali diri kita dengan wajah baru," suara Benza tenggelam oleh tepuk tangan riuh rendah.

"Ayoh, tepuk tangan," teriak Jaki.
"Seakan-akan kita teman," sambung Rara sambil bertepuk tangan sekali lagi.

                         ***
"Bukankah kita memang teman?" tanya Nona Mia sambil mengerutkan kening.  "Mengapa jadi seakan-akan kita teman?" Bukan Jaki dan Rara namanya kalau tidak dapat berkelit dan menjawab dengan bahasa-bahasa nilai dari Jaki dan bahasa politik dari Rara.

"Nilai-nilai yang kami perjuangkan berbeda. Bagiku berkorban dengan pamrih itu nilai utama. Tetapi bagi Benza berkorban tanpa pamrih itulah nilai utama. Jadi bagaimana mungkin dua pandangan nilai ini bertemu? Tidak perlu heran bukan, jika sekarang status kami berdua seakan-akan teman," jawab Jaki.

"Dulu, kita menang sangat teman. Komunikasi lancar saling mendukung satu sama lain. Setelah itu kita menjadi setengah teman, setelah kita tidak pernah punya waktu bertemu untuk bicara baik-baik apa yang kumau dan apa yang dia mau. Sekarang kita hanya seakan-akan teman. Ya, biar tampak seperti teman saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan bukan?"

"Apalagi Benza pidatonya rumit. Dekonstruksi diri lalu rekonstruksi diri. Apa pula artinya? Susah-susah amat. Hidup sudah susah dibuat tambah susah sama si intelektual Benza."

"Apakah Benza bukan temanmu?" tanya Nona Mia lagi.
"Teman politik," jawab Jaki dan Rara bersamaan.

                            ***
"Teman politik itu bisa teman, bukan teman, sekedar teman, benar-benar teman, dan seakan-akan teman. Tergantung dari tujuan kepentingan dan kepentingan tujuan. Kalau cocok, bukan teman! Kalau tidak cocok, itu baru teman. Kalau beruntung baru benar-benar teman. Namun hati-hati, kalau tidak beruntung, itu namanya seakan-akan kita teman," Jaki berkelit kian kemari sementara Rara cerah ceria sebab mengerti bahwa dirinya tidak mengerti.

"Jangan berkerut begitu, Nona Mia!" Benza langsung bergabung.
"Hai teman!" Jaki dan Rara langsung sambut dengan jurus saling menggenggam tangan. "Kita teman atau seakan-akan teman," tanya Benza langsung ke mata Jaki dan Rara.

                             ***
"Seakan-akan teman  kalau lagi di belakang Benza. Tetapi kalau di depan, bagaimana mungkin berterus terang, bahwa kita memang seakan-akan teman. Bukankah begitu?"
"Ternyata kalian berdua bukan teman, tapi hanya seakan-akan teman!" kata Nona Mia.
"Sungguh-sungguh teman, bukan seakan-akan," protes Rara.
"Sudah lama kita teman, tapi sekarang seakan-akan kita teman!" Sambung Jaki. *

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved