Breaking News
Rabu, 3 Juni 2026

Waspadai Ramalan Joyoboyo Tentang Notonogoro

Ramalan biasanya akan dikenal dan dipercaya apabila ramalan itu terbukti kebenarannya, jika tidak maka hanya akan dianggap omong kosong belaka.

Tayang:
Editor: Sipri Seko

Tanda-tanda ramalan ketujuh Joyoboyo mulai digenapi tampak terlihat pada banyaknya kasus-kasus mega korupsi yang menggurita di negeri ini. Selain itu, hilangnya rasa malu para pelaku korupsi dan serangan balik koruptor (corruptors fight back) yang ditujukan untuk melemahkan lembaga penegak hukum yang menangani korupsi, dalam hal ini KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan adalah tanda-tanda yang tak terelakkan.

Tapi apakah itu merupakan klimak dari ramalan ini? Tentu saja tidak, akan ada goro-goro di mana keadaan bangsa ini tidak lagi normal, adanya kesewenang-wenangan, penyalahgunaan kekuasaan, dan peristiwa-peristiwa yang akan mengingatkan bangsa ini untuk kembali ke jalan yang benar. Setelah goro-goro, akan ada perang tanding antara Satria Pembela Kebenaran dengan musuhnya (Si Jahat) yang tentu saja akan membawa korban.

Saat ini Indonesia di bawah pemerintahan Presiden SBY sedang diuji dengan sangat hebat oleh maraknya kasus korupsi, namun dari banyaknya kasus korupsi yang ada, kasus Sesmenpora adalah kasus yang paling banyak menguras energi karena melibatkan M Nazaruddin, koleganya di Partai  Demokrat. Ada dilema yang nampak tersirat, ada kehati-hatian, dan ada banyak teka-teki yang tak terungkap.

Wajar, kasus ini bak pedang bermata dua yang siap menusuk keluar dan ke dalam Partai berlambang mercy ini. Selain itu, perhatian rakyat Indonesia juga sedang tertuju pada kasus ini karena menyangkut komitmen SBY dan Partai Demokrat yang gencar dengan slogannya pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi.

Atas kasus ini, Partai Demokrat harus terpuruk karena mulai banyak ditinggal pendukungnya (Survei LSI, 12/6/2011). Seperti diketahui, Nazaruddin merupakan Bendahara Umum Partai Demokrat dan pada 30 Juni 2011 KPK telah meningkatkan statusnya dari saksi menjadi tersangka.

Persoalan tidak cukup sampai disitu, Nazar kabur dari Indonesia dan dari tempat persembunyiannya dia terus membongkar borok Partai Demokrat melalui BlackBerry Messenger (BBM) dan menyeret rekan-rekan separtainya seperti Andi Malarangeng (Menpora), Angelina Sondak (Anggota DPR), Mirwan Amir, dan Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat) yang disebut-sebut terlibat dalam kasus Sesmenpora dan menerima aliran dana haram. Terang saja informasi tersebut menggemparkan publik Indonesia dan langsung merusak citra Partai yang terkenal antikorupsi ini, meski para pihak yang dituduh menyangkalnya.

Nazaruddin bukanlah orang sembarangan, dia pernah menduduki posisi elit Bendahara Umum di partai besar sekelas Demokrat, tentunya dia tahu seluk beluk dan rahasia dapur Partai Demokrat. Selain itu, sampai saat ini buronan Interpol ini juga masih menjadi anggota DPR aktif. Sehingga tidak berlebihan jika O.C. Kaligis sebagai pengacaranya dalam suatu kesempatan berujar "Jika Nazaruddin buka semua, republik ini akan goncang".

Namun lebih baik negara ini goncang sejenak asalkan hukum ditegakkan di negeri ini karena belum ada sejarahnya sebuah negara hancur karena menegakkan hukum dan kebenaran yang ada justru negara hancur karena korupsi, seperti yang terjadi di Romawi, Babilonia, dan Uni Soviet yang hanya mampu bertahan selama 70 tahun. Hal itu terjadi karena negara tersebut gagal memberantas korupsi yang merasuk tokoh-tokoh pemerintah dan birokrasi negara.

"Tikus Pithi Anoto Baris", bisa jadi Nazaruddin adalah aktor dari goro-goro ramalan ketujuh Joyoboyo ini. Sekarang perang opini sudah ditabuh, saling serang, saling membuka aib, menguji kebenaran versi masing-masing. Tapi semua itu harus segera berakhir, jangan sampai rakyat marah dan akhirnya mendorong angkatan muda untuk keluar dan menyusun barisannya seperti yang pernah ditafsirkan Sujiwo Tejo.

Namun lebih dari itu, sebagai orang timur, sebagai bangsa yang adhiluhung, ada baiknya kita merenungkan petuah bijak berikut "Bejane sing lali, bejane sing eling, nanging isih beja sing waspadha" artinya "Beruntung bagi yang lupa, beruntung bagi yang ingat, namun masih lebih beruntung bagi yang waspada". Semoga peristiwa akhir-akhir ini adalah peringatan yang terbaik bagi kita untuk senantiasa peduli dan waspada, telebih waspada dengan serangan balik koruptor karena bukan tidak mungkin ia akan kembali dan menghancurkan impian kita akan Indonesia yang bebas dari korupsi. (diambil dari berbagai sumber)

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved