Rabu, 3 Juni 2026

Waspadai Ramalan Joyoboyo Tentang Notonogoro

Ramalan biasanya akan dikenal dan dipercaya apabila ramalan itu terbukti kebenarannya, jika tidak maka hanya akan dianggap omong kosong belaka.

Tayang:
Editor: Sipri Seko

Oleh Sutarno Bintoro/Pengamat Korupsi

BOLEH  percaya boleh tidak. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih percaya dengan yang namanya ramalan, bahkan tidak sedikit orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai peramal dan berusaha meraup materi dari profesinya tersebut. Ramalan biasanya akan dikenal dan dipercaya apabila ramalan itu terbukti kebenarannya, jika tidak maka hanya akan dianggap omong kosong belaka.

Dari banyaknya ramalan yang beredar di masyarakat, ramalan Joyoboyo adalah yang paling dipercaya dan paling banyak dijadikan rujukan. Siapakah sebenarnya Joyoboyo sehingga ramalannya banyak diperhitungkan orang? Apakah peristiwa akhir-akhir ini juga bagian dari ramalan Joyoboyo?

 
Raja Linuwih
Joyoboyo adalah seorang raja dari Kerajaan Kediri yang memerintah sekira tahun 1135-1157. Gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Ia merupakan keturunan langsung Prabu Airlangga, penguasa tertinggi di Kerajaan Kahuripan yang merintah pada pada tahun 1019-1042.

Selama ia memerintah, Kerajaan Kediri mengalami masa keemasan dimana Joyoboyo berhasil menyatukan Jenggala kembali ke Kediri. Kemenangan Joyoboyo atas Janggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Torehan-torehan mistik filosofis Raja Joyoboyo sangatlah terkenal, meski begitu Joyoboyo jelas bukanlah Naisbitt (Megatrend 2000) yang terkenal dengan pandangan visionernya tentang masa depan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Ia juga tidak bisa disandingkan dengan Alvin Tofler (The Third Wave) dengan teori kejutan gelombang perubahan zaman. Joyoboyo sangat berbeda dengan para futurolog yang mendasarkan visinya dalam menjelajah masa depan berlandaskan data-data empiris.

Joyoboyo jelas tidak mempunyai dan menggunakan data-data tersebut untuk menerangkan kejadian-kejadian masa yang akan datang. Namun, tidak bisa dipungkiri banyak kejadian atau peristiwa dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia secara langsung maupun tidak langsung telah diungkapkan oleh ramalan Joyoboyo meski tersamar atau melalui lambang.

Ramalan Ketujuh Joyoboyo
Istilah Notonogoro adalah salah satu ramalan Joyoboyo yang sangat terkenal. Terminologi ini memprediksi siapa-siapa saja yang akan memimpin nusantara. Notonogoro bukanlah nama seseorang melainkan simbolisasi penamaan bagi pemimpin nasional (Presiden).

Notonogoro dipisahkan menjadi No-To-No-Go-Ro yang selanjutnya diawali oleh "No" Sukarno, "To" Suharto, dan seterusnya. Sayang, selepas Presiden Suharto belum ada lagi nama Presiden Indonesia yang nyangkut dalam ramalan ini baik Habibie, Megawati, maupun Abdurahman Wahid (Gusdur) kecuali "No" untuk Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah Habibie, Megawati, dan Gusdur hanya sekadar Pemimpin transisi dan tidak masuk dalam Notonogoro? Kalau iya, bisa jadi hal ini benar mengingat ketiganya tidak genap lima tahun dalam memimpin bangsa ini. Selanjutnya, siapakah gerangan "Go" yang akan menjadi RI 1? Atau "Go" akan muncul kemudian setelah adanya pemimpin-pemimpin transisi yang lain? Kita tunggu saja.

Selain memprediksi kepemimpinan nasional, Raja Joyoboyo juga meramalkan perjalanan bangsa ini melalui bahasa-bahasa simbolik. Ada enam ramalan yang telah terjadi dan terbukti kebenarannya, yaitu pertama, Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong. Noyo Genggong dan Sabdo Palon adalah nama abdi dalem Kerajaan Majapahit, sedangkan murca berarti musnah, artinya runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Kedua, Semut Ireng Anak-anak Sapi (Semut hitam anak-anak Sapi), artinya Belanda datang ke Indonesia dan menjajah negeri ini. Ketiga, Kebo Nyabrang Kali (Kerbau menyeberang sungai), artinya Belanda kenyang dan hengkang dari Indonesia. Keempat, Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol Kepalang (dijajah seumur jagung oleh orang cebol) ini zamannya Indonesia dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun.

Kelima, Pitik Tarung Sak Kandang (Ayam bertarung satu kandang) artinya perang saudara zaman Bung Karno. Keenam, Kodok Ijo Ongkang-ongkang (Kodok hijau berkuasa) ini eranya tentara berkuasa pada saat Soeharto menjabat sebagai Presiden. Sedangkan ramalan  yang ketujuh adalah Tikus Pithi anoto baris (Tikus Pithi menata barisan). Apa makna dari ramalan ketujuh Joyoboyo ini?

Budayawan Sujiwo Tejo dalam tulisannya "Waspadai Ramalan Ke-7 Joyoboyo" Kompas (24/4/2009) mentafsirkan ramalan ketujuh Joyoboyo "Tikus Pithi anoto baris" sebagai barisan pemberontakan rakyat nusantara dari berbagai penjuru. Geger tahun 1998 yang melengserkan Presiden Soeharto dianggapnya belum merata dan bisa dikatakan hanya pecah dibeberapa kampus, DPR/MPR, Glodok dan beberapa tempat di Jakarta.

Situasi akan jauh berbeda dibandingkan berkobarnya api tikus pithi anoto baris yang sekamnya kini mulai rantak membara di seluruh Nusantara karena cekcok pemilu legislatif. Tapi itu adalah tafsir di tahun 2009 yang telah berlalu. Bagaimana dengan situasi akhir-akhir ini?

Tikus Pithi Korupsi Indonesia
Tikus saat ini adalah simbol dari korupsi. Sifat Tikus yang suka mencuri, gesit, rakus, kotor, bau, dan membawa penyakit sama persis dengan sifat koruptor yang tidak tahu malu, rakus, dan suka mencuri uang negara. Apabila Tikus dalam ramalan ketujuh Joyoboyo "Tikus Pithi anoto baris" dimaknai sebagai korupsi, maka bisa jadi benar ramalan tersebut mulai digenapi akhir-akhir ini.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved