Bicara Tanpa Suara
Adalah suatu yang irasional jika seseorang mengatakan bahwa berbicara itu tanpa suara.
Oleh John Mai
Penghuni Wisma St. Gabriel-Ledalero
ADALAH suatu yang irasional jika seseorang mengatakan bahwa berbicara itu tanpa suara. Keirasionalan ini muncul karena setiap orang memahami dan tidak menyangkal bahwa yang namanya berbicara itu pasti memiliki suara. Berbicara mengandaikan ada suara dapat dimengerti berdasarkan pengertian berbicara itu sendiri. Berbicara merupakan kemampuan mengucapkan suatu bunyi artikulasi (kata-kata) untuk menyampaikan, mengekspresikan atau menyatakan suatu gagasan, pikiran dan perasaan. Arti berbicara secara logika lebih dari sekAdar pengucapan suatu bunyi-bunyi atau kata-kata belaka, melainkan suatu alat untuk mengkomunikasikan suatu gagasan yang dirangkai serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Menurut Goris Keraf, tujuan berbicara tidak hanya untuk memberitahukan, meyakinkan, menghibur, namun juga menghendaki reaksi fisik atau tindakan dari si pendengar atau penyimak.
Berdasarkan tujuan berbicara yang dikemukakaan oleh Goris Keraf, penulis yakin bahwa berbicara tanpa suara bukanlah sebuah ilusi tetapi sebuah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Di tengah arus liberalisme, di mana setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengungkapkan pendapat, maka banyak sekali orang yang berbicara. Namun sayangnya adalah sebagian besar dari mereka berbicara tanpa suara. Mengapa berbicara tanpa suara?
Ditinjau dari subjektivitas pembicaraan, berbicara tanpa suara berarti seorang yang berbicara tidak mempunyai suara untuk "menentukkan". Memiliki suara untuk menentukkan mengandaikan ia memiliki posisi atau jabatan tertentu dalam masyarakat. Ketika seorang yang tidak memilki posisi dalam bermasyarakat berbicara, maka suaranya tidak didengar dan tidak ada reaksi fisik atau tindakkan dari pendengarnya. "Ia berbicara tanapa suara".
Ditinjau dari objektivitas pembicaraan, berbicara tanpa suara berarti isi dari apa yang diungkapkan oleh pembicara tidak didengar oleh pendengar. Kebisingan kesibukkan dari pendengar membuat pembicaraan itu tanpa suara. Dengan demikian jelas bahwa tujuan dari berbicara itu sama sekali tidak tercapai.
Melihat realitas yang tengah melanda negeri ini, dapat dikatakan bahwa banyak orang berbicara tanpa suara. Kehidupan politik kita telah melenyapkan suara para pembicara. Suara mereka tenggelam dalam kepentingan-kepentingan privat suatu kelompok tertentu. Tidak dapat disangkal bahwa banyak orang yang menggunakan haknya untuk berbicara di era reformasi ini, tetapi kenyataan apa yang dibicarakan itu tidak ditanggapi. Bukan tidak mungkin bahwa mereka berbicara tanpa suara.
Berbagai kenyataan yang dapat dikatakan berbicara tanpa suara;
Pertama, para ilmuwan. Kita mengakui bahwa kita memiliki ilmuwan yang mempunyai wawasan yang luas dan pendapa-pendapat yang bermutu, tetapi kenyataan suara mereka tidak didengarkan. Hal ini terjadi karena mereka tidak mempunyai suara untuk "menentukkan". Tidak heran bahwa banyak pakar hukum yang kita miliki tetapi cacat hukum masih terus melanda kita. Mungkinkah mereka dapat diberi suara untuk menetukkan?
Kedua, para mahasiswa. Lengsernya orde baru tidak terlepas dengan peran mahasiswa. Pada saat itu mereka berbicara dan mempunyai suara. Bagaimana dengan sekarang? Mereka berbicara tanapa suara. Perjuangan mereka dan suara mereka sama sekali tidak lagi didengar dan ditanggapi. Mereka sekarang tidak lebih dari segerombolan anjing yang hanya menggonggaong tanpa bisa menggigit. Mereka berorasi dalam demonstrasi untuk menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM), atau menolak tambang, namun suara mereka tenggelam dalam kepentingan politik "sekelompok orang" yang mempunyai suara untuk menetukkan. Dengan kenyataan ini kita perlu bertanya; apakah cendikiawan muda kita masih ingin berbicara walaupun tanpa suara ataukah mereka melilih berdiam diri di kampus sebagai tempat yang aman? Jika mereka masih ingin berbicara, apakah ada kemungkinan suara mereka dapat menentukkan? jika sebaliknya, mereka berdiam diri tanpa mau berbicara, apa yang terjadi dengan masa depan bangsa ini?
Ketiga, media. Baik media massa maupun media elektronik setelah orde baru mendapat tempat yang layak dalam kehidupan bernegara. Pada awal mula media mempunyai peran yang sangat menentukkan, tetapi seiring dengan semakin bebasnya orang mengungkapkan pendapat melalui media, perannya tidak terasa lagi. Pada saat ini dapat kita katakan bahwa media juga berbicara tanpa suara. Segala persoalan bangsa dimuat dalam media, namun sama sekali tidak menentukkan kebijakan yang diambil oleh mereka yang mempunyai posisi. Media terus berbicara tetapi tanpa suara. Adakah kesempatan untuk media memiliki suara untuk menentukkan?
Melihat kenyataan bahwa banyak orang yang berbicara tanpa suara, maka pertanyaannya; siapakah yang harus dibenahi pembicara atau pendengar? *