Parodi Situasi
Parodi Situasi: Api
SELAMA nafas masih mengalun, selama jantung masih memukul. Wahai api bakarlah jiwaku, biar mengadu, biar mengeluh
"Tingkat angkat saja dagu ke atas," Jaki langsung angkat dagu. "Apanya yang sulit?"
"Kita harus malu. Kita tidak sanggup menjaga kehormatan diri kita sendiri," kata Benza.
"Kehormatan diri? Apa hubungannya? Bukankah yang terbakar itu kantor?"
"Simbol kehormatan kita segenap warga Kupang, warga NTT, warga negara, segenap pemimpin dan jajarannya vertikal maupun horisontal. Segenap rekan kerja institusi dan lembaga apapun. Kehormatan kita dibakar api akibat kelalaian kita sendiri, kita kurang awas, kurang waspada, tidak sanggup menjaga kehormatan kita dengan baik. Di sana ada data, ada sejarah, ada masa lalu masa kini dan masa depan, ada keringat dan air mata, ada doa dan harapan."
***
"Oh begitu kah?" Jaki Rara tertunduk "Bagaimana caranya supaya tahu malu?"
"Bakar dan glasur malu dengan api supaya lebih bersinar untuk menerangi kegelapan pikiranmu," kata Benza.
"Bagaimana pendapatmu Nona Mia?" Rara berharap.
"Jika stok malu ada tiga belas, bakar semuanya dengan api suci, lebur jadi satu, kemudian pakailah untuk hadapi kebakaran ini."
"Oh, begitu kah? Harus malu? Maaf, lupa!" *