Parodi Situasi

Parodi Situasi: Api

SELAMA nafas masih mengalun, selama jantung masih memukul. Wahai api bakarlah jiwaku, biar mengadu, biar mengeluh

Editor: Alfred Dama

Oleh Maria Matildis Banda

POS-KUPANG.COM - "Selama napas masih mengalun, selama jantung masih memukul. Wahai api bakarlah jiwaku, biar mengadu, biar mengeluh. Seperti wajah merah membara dalam kobaran nyala raya," demikian penggalan puisi yang masih selalu diingatnya dulu, ketika masih sama-sama mencari ilmu pada zaman tidak enak. Sekarang pada zaman yang masih juga tidak enak, puisi Api Suci berkumandang untuk membakar rasa malu. Syukur jika rasa malu bersinar bagai api. 

                               ***
"Api, benar-benar api!" teriak Benza. "Ini bukan puisi, ini kenyataan. Api membakar habis kantor gubernur, salah satu simbol kepemimpinan di NTT. Mengapa kamu diam saja? Mengapa kamu sibuk merenungi puisi Api Suci? Mari kita ke El Tari, lihat api membakar habis lantai satu dan lantai dua. Biro Pemberdayaan Perempuan atau BPP, Biro Hukum, Biro Ekonomi dan Administrasi Pembangunan, dan Ruang Dokumentasi atau TTU Wagub NTT ludes."

"Aku ada di sana dan menyaksikan kobaran api. Aku tahu bagaimana Dokter Niken, Kepala BPP berusaha masuk ke kantornya untuk selamatkan apa yang dapat diselamatkan. Namun, karena situasi yang sangat berbahaya, niat itu terpaksa batal. Aku juga tahu bagaimana upaya pemadam kebakaran dan berbagai pihak lain berusaha padamkan api. Aku tahu kedatangan Walikota Kupang ke lokasi. Aku tahu diriku sendiri bersama ribuan warga kota yang datang dan hanya sanggup menonton api dengan berbagai macam reaksi. Sungguh menyedihkan hati."

"Karena itukah kamu mengurung diri?"
"Hatiku terlalu sakit. Aku malu. Aku tidak mau ke sana lagi."

                                 ***
"Semuanya gara-gara kamu," Jaki dan Rara saling mempersalahkan. Rupanya Nona Mia tersinggung atas ucapan-ucapan merendahkan diri sendiri yang dilontarkan Jaki dan Rara di tempat kejadian perkara alias TKP. Rekamannya sangat jelas berikut ini.

"Terbakar? Ha.. ha.. ha.. bakal dapat kantor baru yang lebih bagus lebih megah!"
"He.. he.. he.. aku mau jadi kontraktornya. Pasti untung besar."
"Uang negara yang akan ludes, buat apa pikir susah?"

"Kalau kamu yang dapat proyeknya, kita bisa bagi-bagi keberuntungan ya. Khusus kontraktor bidang batu, atap sirap genteng atau seng, pasir, kayu, semen, koral, pasir,  cat,  lantai keramik,  mebeler,  pemasangan listrik, teknologi komputer, dan  ah, masih banyak lagi." 

"Hai, Nona Mia kamu mau dapat bagian mana? Khusus mebeler atau listrik, komputer, silakan pilih!" tanya Jaki dan Rara.
"Maaf saja ya. Aku tidak sudi. Aku mual. Sungguh-sungguh kamu membuat aku malu setengah mati," Nona Mia langsung balik haluan dan melangkah pulang.

"Hei Nona Mia ada apa?" Jaki menangkap tangan Nona Mia dan menariknya dengan sekali sentak. "Apa yang membuatmu marah?"

                                 ***
"Kamu tidak punya ini," Nona Mia menunjuk dahinya, "juga tidak punya ini," Nona Mia menunjuk jantung hatinya. "Kamu sungguh-sungguh tidak punya malu."
"Hah, ada apa gerangan?" Jaki menganga.

"Malu soal apa Nona Mia?   He.. he.. he.. panas masih membakar, sempat-sempatnya pikir itu malu. Malu kenapa? Memangnya aku ini daun putri malu yang disentuh sedikit saja langsung layu?"

"Apalagi aku! sambung Rara. "Aku ini putra malu, disentuh tidak bakal layu. Buat apa susah? Kantor Gubernur dan Wagub akan pindah sementara di Kantor Pusat Informasi Perumahan Pemukiman  dan Bangunan yang disingkat PIP2B, empat biro yang rata hangus akan pindah ke kantor gubernur lama di Jalan Basuki Rahmat Tingkat Satu. Susah apa?"

"Ayolah Nona Mia. Percayalah! Rasa malu ada tiga belas. Jadi, kalau hilang satu atau dua malu, tidak apa-apa bukan? Stok malu masih banyak," Jaki meraih tangan Nona Mia dan disambut Nona Mia dengan hantaman telak.

                          ***
Begitulah Nona Mia menceritakan semuanya pada Benza tentang reaksi spontan Jaki dan Rara di TKP. Sakit rasa hati ini menyaksikan Jaki Rara remehkan semuanya. Api jadi tontonan dan tertawaan dan rencana meraup keuntungan. Bagaimana Jaki Rara bisa angkat mukanya di hadapan orang rakyat, kota lain, propinsi lain, bahkan negara lain.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved