Sepatu yang Ditinggalkan
LIMA pasang sepatu tergetak pada tempatnya. Ada yang kumal ada juga yang bersih neces. Entah sudah berapa lama sepatu itu berada di situ.
Lelaki pertama yang berambut keriting mulai meraihku. Aku sedikit bergidik karena melihat tampangnya yang kaku tanpa senyum. Ia terlalu serius melihatku. Hal yang sama seperti pengunjung sebelumnya ia lakukan. Ia mulai mengamatiku dengan saksama.
Sedikit decak kagumnya. Sementara ia membolak-balikan badanku, seorang lelaki seumur dengannya menghampirinya. Merekalah yang mula-mula masuk bersamaan ke dalam toko itu. Mereka mulai saling bertukar pikiran. Melemparkan ide masing-masing, bahkan ada yang begitu idealis berusaha memotong pembicaraan dengan berkata interupsi sebelumnya.
Lelaki ketigapun ikut bersama mereka. Perdebatan mereka semakin alot. Berbagai argumentasi mereka keluarkan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Ada yang menggeleng ada pula yang mengangguk. Lelaki pertama tadi melepaskan aku di tempat semula. Sedang lelaki yang ketiga mengambil pasanganku.
Lelaki ketiga sedikit terkejut. Ia terhenyak ketika melihat label harga yang mengantung di kepalaku. Digelengkan kepalanya beberapa kali. Rupanya ia tidak mengerti denganku, sehingga ia begitu seringnya menggelengkan kepala. Mungkin juga ia tidak mengerti dengan kedua temannya yang masih berdebat. Aku kemudian menangkap suara mereka ketika lelaki ke tiga meletakkan aku di tempat semula.
Jangan bang. Itu uang merupakan hasil kerja keras kita bersama. Uang itu didapat dari pemerintah daerah provinsi kemarin. Itu uang pengajuan proposal kita untuk kegiatan Rapat Umum Anggota yang tidak lama lagi akan kita laksanakan. Kita sudah bersusah payah ke sana kemari mencari dana. Masa abang mau memakai uang ini utuk beli sepatu semahal ini.
Kita sendiri yang berdemonstrasi ketika pemerintah melakukan KKN, sedangkan kita boleh melakukan penyelewengan uang bersama. Apa ini bukan KKN, bang? Lelaki kedua bersuara dengan sedikit geram.
Lelaki pertama tadi buka suara. Ini bukan sesuatu yang dinamakan KKN adik. Ini hanya pemanfaatan kesempatan terhadap peluang yang ada. Toh, saya juga membutuhkan sepatu ini. Sepatu ini sangat cocok bagi para aktivis macam kita-kita ini. Sudah lama saya menrindukan sepatu ini untuk dipakai dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan organisasi.
Lelaki ketiga tadi melerai mereka. Memberikan pandangannya. Sungguh, ia berpendapat cukup lama. Mereka berdua cuma mendengarkannya. Kadang kala kepala dianggukan pertanda mengerti. Setelah selesai berbicara, mereka bertiga keluar dengan saling berpelukan.
Belum hilang benar ketiga lelaki tadi menghilang dari balik pintu toko, lelaki berusia kira-kira setengah abad datang. Ia mengulum senyum begitu melihatku. Diamatinya dengan saksama. Ia belum yakin benar, kemudian ia bertanya pada pelayan toko. Mereka berdua sedikit berbincang-bincang. Kemudian menuju ke tempat kasir.
Kasir dengan ramahnya menyapa dengan suara lembut, selembut kapas.
Menyambut lelaki tadi dengan senyum yang teramat ramah. Entah senyum dibuat-buat karena tuntutan profesi atau mungkin juga senyum khas dari dalam dirinya. Senyum tulus seperti dikatakan orang. Ia memberikan secarik kertas sebagai nota bukti pembayaran kepada lelaki tadi, sambil menunggu uang pembayaran atas harga sepatu yang telah diambil.
Lelaki tadi tersentak. Uangnya kurang pas. Belum pas untuk melunasiku berpindah tempat. Mengungsikan aku dari toko ini ke rumahnya. Mukanya merah padam menahan malu. Sementara kasir tadi yang sering tersenyum berangsur berubah. Kasir mulai marah-marah. Sangat kontras dengan suasana awal ketika lelaki tadi meletakan sepatu di meja kasir.
Kasir masih marah-marah. Sementara lelaki tadi dengan malu-malu dan sedikit kikuk keluar dari toko itu. Beberapa orang yang ada di dalam toko berusaha mendekat. Ingin mengetahui gerangan apa yang telah terjadi, sehingga kasir naik darah. Setelah mengetahui perihalnya, mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Pelayan toko kembali meletakan aku di tempat semula.
Sehari kemudian seorang wanita muda datang. Mengahampiriku. Mengamati dengan saksama. Belum puas ia mengamatiku, ia melihat label harga yang masih menggantung di kepalaku. Ia lalu memanggil pelayan toko. Pelayan toko yang sama seperti kemarin. Setelah mereka berdiskusi, aku lalu diantarkan ke meja kasir.
Kasir yang tadinya tersenyum ramah, kemudian bungkam. Ia melihat aku sekali lagi. Lalu, diangkat wajahnya. Ditatapnya wanita yang ingin membeliku lekat-lekat. Wanita tadi tersenyum padanya. Kasir mengangguk lalu membalas senyum.
Aku kemudian dibungkus, sementara wanita tadi membayarkan sejumlah uang kepada kasir. Wanita tadi kemudian keluar dari toko dengan senyum puas. Tangan kirinya menjinjing tas yang di dalamnya ada aku. Ia menuju ke rumahnya.
Di kamar wanita itu, aku kemudian dikeluarkan. Disemprotkan dengan wewangian yang sangat harum. Membuat aku hendak bersin. Aku kemudian dibungkus rapi. Diletakan dalam satu kotak. Pernak-pernik dan hiasan menambah semarak dalam kotak. Lalu gelap menyelimutiku karena kotak itu ditutup dari atas. Aku sedikit menggigil ketakutan. Aku takut gelap.