Sepatu yang Ditinggalkan

LIMA pasang sepatu tergetak pada tempatnya. Ada yang kumal ada juga yang bersih neces. Entah sudah berapa lama sepatu itu berada di situ.

Sepatu yang Ditinggalkan
Net
Ilustrasi

Sepasang sepatu kulit berwarna coklat dengan moncongnya yang meruncing ke depan sedikit bergeser ke tengah. Keempat pasang sepatu yang lainnya mengambil posisi masing-masing. Mereka melingkar. Layaknya ada konferensi dalam meja yang bundar. Bukan bulat, karena bentuk mereka boleh dibilang oval. Seperti telur ayam. Sepatu kulit coklat tadi mulai berdehem. Semua diam. Hening seketika. Mendengarkan kisahnya.

Aku dulu adalah sepatu yang bagus. Merek yang sering dicari orang. Lelaki kaya. Lelaki perlente. Bahkan para aktivis kampuspun ikut-ikutan mencari aku. Aku sangat digandrungi, karena modelku yang bagi mereka sangat sempurna. Aku menjadi ikon bagi kaki setiap lelaki.

Bagi para manusia yang berjenis kelamin lelaki itu, mereka akan sangat percaya diri apabila telah menggunakan aku. Bahkan aku menjadi salah satu bagian dari bentuk rayuan mereka secara tersirat. Kalian tahukan. Manusia yang berjenis kelamin wanita itu. Mereka sekarang pandai mengamalkan cinta.

Cinta yang dulu kebanyakan orang menganggap buta, karena tidak memandang berbagai status sosial, ras, agama maupun asal muasal sekarang telah membuka matanya. Cinta sudah buka mata. Sangat lebar.

Cinta yang dipraktekan oleh para wanita itu adalah cinta ada apanya. Bukan cinta ada apanya. Mereka akan sulit jatuh cinta hanya karena ada getaran hati. Itu suatu kebohongan. Bahwa cinta berasal dari getaran hati. Chemistry. Cinta bagi mereka adalah ketika mereka melihat. Melihat setiap lelaki yang kira-kira memiliki cukup barang fana. Bila melihat lelaki yang memakai aku, mereka tentu akan berdebar jantungnya.

Aku masih ingat waktu itu. Aku masih di tempat aku dipajangkan. Hilir mudik lelaki datang mangamati aku.

Memegang. Melihat-lihat. Saling bertukar pikiran dengan teman lelaki atau teman perempuan, mungkin juga pacarnya. Anehnya mereka segera minggat dari tempat aku dan kumpulan teman sejenisku. Kalian tahu mengapa mereka meninggalkan aku? Aku sendiri juga tidak tahu.

Mungkin karena ah, itu karena setelah mereka melihat label harga yang tergantung di kepalaku. Aku tak mengerti kenapa mereka begitu kaget bahkan seperti ketakutan melihat setan, begitu melihat label harga itu.

Mungkin label harga itu kurang menarik. Tidak cocok dipasangkan pada sepatu yang begitu bagus macam aku. Atau?

Aku masih ingat ketika suatu sore. Seperti biasa di tempat aku dipajang di toko sepatu itu. Sepasang manusia datang. Seorang lelaki yang berumur kira-kira tiga puluhan tahun menghampiriku. Memegangku. Membolak-balikanku. Melihatku dari berbagai sudut. Aku jadi malu waktu itu karena dilihat terus begitu. Tapi, aku diam saja, karena itu memang nasibku.

Halaman
1234
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved