Spirit NTT Nomor 176 Tahun IV, Edisi 14-20 September 2009

Akhirnya Mereka Bersalaman dan Berciuman

SOROT mata para undangan hanya tertuju ke figur Melkianus Adoe dan Ibrahim Agustinus Medah ketika pembawa acara menyampaikan agenda penyerahan palu pimpinan DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT).

angker, lima kolom
------------------------

- spirit/foto/minggu ini: 1409--adoe-medah bersalaman-
--------------------------------------------------------------------
SPIRIT NTT/MAYELUS DORI BASTIAN
KETUA DPRD NTT 2004-2009, Drs. Melkianus Adoe, bersalaman dengan Ketua Sementara DPRD NTT 2009-2014, Drs. Ibrahim Agustinus Medah, usai menyerahkan palu sidang pada seremoni pelantikan di ruang sidang utama DPRD NTT, Kamis (3/9/2009).

Dengan langkah yang ringan, Melkianus Adoe, Ketua DPRD NTT Periode 2004-2009, turun dari meja pimpinan sidang menuju ruang tengah antara deretan kursi anggota dewan dan meja pimpinan dewan.

Ibrahim Agustinus Medah, Ketua DPD Partai Golkar NTT yang juga mantan Bupati Kupang dua periode (1999-2009) bangun dari tempat duduknya ketika terpilih menjadi Ketua Sementara DPRD NTT periode 2009-2014.

Pada Pemilu Legislatif 9 April, partai yang dipimpinnya meraih suara terbanyak dengan menempatkan sebelas orang wakilnya di kursi DPRD NTT. Sesuai ketentuan UU, partai politik peraih suara terbanyak dalam pemilu, berhak untuk menduduki kursi pimpinan dewan.

Upacara pelantikan dan pengambilan sumpah anggota DPRD NTT periode 2009-2014 yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan Tinggi Kupang, A Th Pudjiwahono, S.H, M,Hum, itu berlangsung biasa-biasa saja di ruang sidang utama DPRD NTT di Kupang, Kamis (3/9/2009).

Setelah Sekretaris DPRD NTT, Sisilia Sona, mengumumkan Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD NTT sementara, Ibrahim Agustinus Medah yang biasa disapa Iban Medah itu juga melangkah menuju ke ruang tengah itu didampingi Wakil Ketua Sementara, Nelson Obed Matara, dari PDI Perjuangan.

Tepuk tangan hadirin membahana di ruang sidang utama itu. Sorot mata para hadirin tertuju kepada dua figur tersebut. Semua pasang mata tertuju kepada mereka, karena antara Iban dan Adoe adalah dua sahabat yang kurang bersahabat dalam berpolitik, meski sama-sama berasal dari partai berlambang pohon beringin.
Masyarakat NTT, khususnya yang gemar berpolitik tahu persis bahwa hubungan pribadi antara Iban dan Adoe yang kurang mesra, dalam situasi apapun.

Akibat ketidakmesraan itulah, Adoe memilih jalan keluar dari Partai Golkar dan membelot ke Partai Demokrat menjelang Pemilu anggota Legislatif 9 April, karena namanya tidak lagi diakomodir oleh Golkar sebagai wakil rakyat dari partai tersebut.

Adoe, pria kelahiran Pulau Rote 20 Mei 1945 itu, akhirnya mencalonkan diri jadi wakil rakyat untuk DPR-RI melalui pintu Partai Demokrat pada pemilu lalu.
DPD Partai Golkar menilai Adoe sudah melanggar AD/ART partai sehingga harus keluar dari organisasi politik terbesar itu. Ia tidak sendirian, tetapi bersama tiga orang rekannya di DPRD NTT, yaitu Armindo Soares Mariano, Marthen Asbanu dan Simon Sanga Mudaj. Armindo dan Asbanu menyeberang ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), sedang Sanga Mudaj menyeberang ke Partai PNI Marhaenis.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved