Beasiswa Untuk 380 Calon Mahasiswa Tidak Dianggarkan di APBD Sikka

Beasiswa yang dijanjikan Pemkab Sikka kepada 380 calon mahasiswa ternyata tidak dianggarkan dalam APBD Sikka tahun 2019

Penulis: Eugenius Moa | Editor: Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM/EGINIUS  MO’A
Ketua  Fraksi  Nasdem,  Siflan Angi, dalam  Rapat dengar pendapat DPRD  Sikka  di Pulau  Flores, Jumat  (21/9/2019) membahas dana beasiswa  kuliah. 

Beasiswa Untuk 380 Calon Mahasiswa Tidak  Dianggarkan di APBD Sikka

Laporan Reporter Pos-Kupang.Com, Eginius Mo'A

POS-KUPANG.COM | MAUMERE- Beasiswa  yang dijanjikan   Pemkab  Sikka kepada  380   calon  mahasiswa  ternyata tidak dianggarkan dalam APBD Sikka tahun 2019. Pada calon  peserta yang mendaftar sudah mencapai 570   peserta. 

Dilain  pihak, pemerintah dan  DPRD Sikka belum  duduk  bersama membahasnya menjadikan kesepakatan. Padahal pemerintah  daerah  telah  menandatangani   kesepakatan dengan  Sekolah  Tinggi  Teknik  (STT)  Cristo Re Maumere dan Universitas Tribuana  Malang, sedangkan Unipa  Maumere dan  IKIP  Muhammadyah Maumere  belum  terjalin  MoU.

Hal itu  terungkap dalam  Rapat  Dengar Pendapat  (RDP)  DPRD  Sikka  dengan  pemerintah, Jumat  (21/6/2019)  siang. RDP dipandu  Wakil  Ketua   DPRD, Merison  Botu,  menjadi  ajang bagi  DPRD  mencerca tim pemerintah  dipimpin Sekda, dr.Valens  Tupen,  bersama  Kabag Kesra,  Mena  da  Silva, dan Kabag Humas  dan Protokol, Even  Edomeko.

Pemda Ngada Wajibkan ASN Kenakan Tenun Ikat

Hampir semua  anggota   DPRD  Sikka, Heni  Doing, Siflan  Angi, Wilfridus Aeng, Stef  Sumandi,  Yani Making,Philips Fransisksus, miris  mendengar  penjelasan  pemerintah  mengeluarkan  pengumuman  di  radio  dan media  sosial.

Ketua   Fraksi  Demokrat  Heni  Doing,  menegaskan  harus dengan  persetujuan  DPRD. Permendagri Nomor 22  tahun 2009  pasal 8  ayat  2   menyatakan kerjasama daerah   yang membebani APBD  kabupaten/kota,  yang belum    tersedia anggaranya dalam  APBD  harus atas persetujuan DPRD.

“Kita  belum pernah omong.  Duduk  bersama.  Uang satu  rupiah  pun  belum ada.   Tiba-tiba sudah ada MoU di sana-sini. DPRD mau ditempatkan di  mana. Tolong  dihargai  lembaga ini, lembaga  ini ada  karena   biaya ekonimi dan politik yang dipilih  oleh  rakyat,” tegas Heni  Doing.

Lestarikan Tenun Ikat Pemda Ngada Wajibkan ASN Kenakan Tenun Ikat

Heni  Doing menyarankan  pemerintah  menghentikan sementara  niat  memberikan  beasiswa  sebelum  finalisasi dengan DPRD. Pemerintah disilahkan membuat Perda atau  Perbup,  namun rambu-rambunya disepakati  bersama  DPRD.

“Tata cara  rekrutmen mahasiswa  miskin. Di  daerah  lain dengan Perda Perbup, silahkan saja  asal ada  kesepakatan. Ini action sudah  jauh, uang  tidak  tersedia,”  kata  Heni  Doing.

Anggota  Fraksi  Nasdem, Siflan  Angi menyebut  RDP  ngawur membahas   bantuan beasiswa. Hanya  berdasar permintaan  dua  sampai tiga orang  calon  mahasiswa dan orangtua   bertemu  bupati,  pemerintah   membuka pendaftaran  beasiswa.

Pemda TTS Wajibkan Pelajar Kenakan Pakaian Tenun Dukung Pengembangan Tenun Ikat

 “Tidak pernah  ada pembahasan  DPRD  dengan pemerintah. Tidak ada  dasar hukumnya.  Lalu  pemerintah  keluarkan pengumuman penerimaan  beasiswa  dasarnya apa. MoU dengan pihak ketiga, dananya tidak  ada,”  tandas Silfan.

DPRD   bukan  tidak setuju  pemberian  beasiswa,   kata   Siflan, namun semua niat yang  tulus membantu  masyarakat harus melalui  mekanisme. Ini urusan pemerintahan  kabupaten, bukan perusahaan.

“Apa  susahanya  pemerintah  ikut  aturan  main. Kerja  nyata   bukan  tidak pakai  mekanisme,”  tandas Siflan Angi. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved