Penanganan korban kekerasan pada anak, Sumba Timur Kekurangan Tenaga Ahli
Dinas Sosial sebagai unit pelayanan perlindungan pertama yang bersifat responsif dan segera bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan
Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
Penanganan korban kekerasan pada anak, Sumba Timur Kekurangan Tenaga Ahli
POS-KUPANG.COM | WAINGAPU--Meningkatnya jumlah kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi belakangan ini di wilayah Kabupaten Sumba Timur, Propinsi NTT, belum mendapatkan pelayanan pendampingan pemulihan secara optimal dikarenakan Sumba Timur belum memiliki Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) yang secara khusus memberikan layanan lanjutan bagi anak-anak penyintas/korban kekerasan.
Ketua LPA Kabupaten Sumba Timur Anto Kila menyampaikan itu melalui Rilis kepada POS-KUPANG.COM, Rabu (13/3/2019).
Anto mengatakan, saat ini Sumba Timur baru memiliki Temporary Shelter di Dinas Sosial sebagai unit pelayanan perlindungan pertama yang bersifat responsif dan segera bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus.
Menurut Anto, beberapa tahun terakhir ini para peyintas tersebut hanya didampingi oleh tenaga Sakti Peksos yang berjumlah 1 orang, dibantu oleh relawan dari LPA, dan P2T-P2A.
Kekurangan tenaga pendamping ini sangat mempengaruhi proses pemulihan penyintas khususnya anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual sehingga menderita tidak saja secara fisik tetapi juga mental.
Tidak hanya kekurangan tenaga pendamping, Anto juga mengaku alokasi anggaran yang sangat minim pada Dinas Sosial Sumba Timur sebagai lembaga yang oleh UU diamanatkan untuk mendampingi anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) menyebabkan penanganan pendampingan yang diberikan tidak dapat berjalan optimal.
Alokasi anggaran untuk ABH berkisar 10 jutaan rupiah pertahun itu pun hanya untuk biaya makan-minum tidak ada biaya untuk pendampingan ahli.
• Suami Ditangkap, Istri Terduga Teroris di Sibolga Diduga Meledakkan Diri pada Rabu Dini Hari
• KPU Kota Kupang Layani Pemilih yang Pindah Memilih Hingga 17 Maret 2019
• Saat Sosialisasi di Kupang, Lucky Korah Sebut Titik Rawan Terjadinya Pungli
• Sosok Hebat Owen Hamataku Tulis Pakai Kaki Tapi Juarai OSN IPA SD Kecamatan Waingapu Sumba Timur NTT
"Jumlah ini sangat kecil dan tidak memadai jika dibandingkan dengan kebutuhan unit yang harus mendampingi anak-anak penyintas yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan,"kata Anto.
Anto juga menyampaikan menurut Fitriana Herarti, Psi., M. Psi–Child Development Specialist, ChildFund Indonesia, asumsi karena masih anak-anak akan mudah lupa, sangatlah salah. Penanganan yang seadanya atau bahkan tanpa penanganan akan berdampak pada aspek psikologis/mental dan masa depan anak.
Penanganan anak korban kekerasan sangat tergantung kondisi anak, bisa dalam hitungan minggu tetapi bisa juga tahunan tergantung berat ringannya kasus kekerasan yang dialami oleh anak-anak, dan biasanya pada kasus kekerasan seksual dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemulihannya.
Anto menambahkan, Fitriana juga merekomendasikan, jika dalam hal ini daerah belum memiliki tenaga ahli seperti psikolog maka alternatif yang dapat ditempuh adalah dengan melatih dan mentoring pendamping lokal agar bisa memberikan bantuan psikologis kepada korban.
Fitriana adalah salah satu tenaga ahli yang dimintai bantuannya oleh LPA Sumba Timur untuk memberikan dukungan bagi upaya perlindungan anak di Sumba Timur khususnya penanganan anak-anak yang menjadi korban kekerasan.
• Sosok Hebat Owen Hamataku Tulis Pakai Kaki Tapi Juarai OSN IPA SD Kecamatan Waingapu Sumba Timur NTT
• Go-Jek Sesalkan Terapis Mitra Go-Massage Diperkosa Pelanggan di Bandung, Ini yang Dilakukan
"Kami mendorong aparat penegak hukum untuk terus bekerja secara proporsional dan profesional untuk menangani kasus-kasus kekerasan pada anak serta harapan kami instansi terkait dapat lebih peduli dan memahami terkait pentingnya upaya perlindungan anak khsususnya layanan pendampingan bagi anak-anak yang menjadi penyintas/korban khususnya terkait kekerasan seksual. Karena penderitaan yang mereka alami akan dibawa sampai mati jika tidak dipulihkan sesegera mungkin,"Pungkas Anto. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo)