Masih Ada PSK di Karang Dempel Kupang, Ini Alasan Mereka tak Mau Pulang Kampung

Masih Ada PSK di Karang Dempel Kupang, Ini Alasan Mereka tak Mau Pulang Kampung

Masih Ada PSK di Karang Dempel Kupang, Ini Alasan Mereka tak Mau Pulang Kampung
pos-kupang.com/ambuga lamawuran
Plang penutupan Lokalisasi Karang Dempel Kota Kupang. 

Masih Ada PSK di Karang Dempel Kupang, Ini Alasan Mereka tak Mau Pulang Kampung

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pasca resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Kupang, 1 Januari 2019, sejumlah pekerja seks komersial ( PSK) Lokalisasi Karang Dempel, Kota Kupang kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Namun, tidak semuanya karena masih ada sekitar 60-an PSK menetap di lokalisasi di Kecamatan Alak tersebut.

Demikianlah disampaikan oleh Adelia, selaku ketua organisasi perubahan sosial Indonesia (Opsi) NTT, kepada POS-KUPANG.COM, di Bandara El Tari Kupang, Senin (11/2/2019) siang.

Komandan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonif Mekanis 741/GN Resmikan Bedah Rumah

"Yah ada yang sudah pulang tapi di KD masih ada PSK. Mereka mau susah cari uang untuk bertahan hidup," ungkapnya.

Sampai saat ini, kata Adelia, belum ada kepastian dari Pemerintah Kota Kupang soal nasib para PSK. "Hanya pasang plat, bilang ditutup selasai," kata Odylia.

BREAKING NEWS: Kapal Motor Pulau Mas 10 Tenggelam di Perairan Torong Besi, Manggarai Timur

Ia mengaku prihatin dengan kondisi para PSK yang saat ini masih menetap di Karang Dempel.

Menurutnya, para PSK seperti diintimidasi oleh Satpol PP, saat melakukannya razia pada malam hari.

"Yang pasti yang ada di sana butuh uang untuk makan, kalau tidak beroperasi, nah bagaimana mereka mau makan," keluhnya.

Sementara itu, Suliswati (nama samaran) salah satu PSK KD mengatakan, dirinya hingga saat ini masih menetap di KD, karena ketiadaan biaya untuk pulang kampung.

"Kami serba salah, mau pulang gak ada duit, mau tetap di sini juga sama saja," ungkapnya.

Kendati dilakukan razia pada malam hari, kata Sulis, mereka masih beroperasi melayani tamu demi mempertahankan hidup.

"Yah walaupun tidak seperti dulu lagi, intinya kita bisa dapat uang dan bisa dapat makan. Kalau dulu kita dapat 5 sampai 7 pelanggan, seorang sehari satu pelanggan, cukup buat makan aja," ungkapnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved