Berita Kupang
Jeremias Aogust Pah, Sang Maestro Sasando, Berpulang
Pria kelahiran Desa Lalukoen, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, 22 Oktober 1939 itu meninggal di umur 79 tahun
Penulis: Gecio Viana | Editor: Agustinus Sape
Dalam ruangan tersebut juga terpampang puluhan piala dan piagam yang diberikan atas dedikasi Jeremias sebagai maestro Sasando dan keluarga.
Seorang anak almarhum Jeremias, Djidron Pah kepada POS-KUPANG.com pada Kamis malam mengatakan, sang ayah merupakan sosok pria yang sangat mencintai musik sasando, tekun bekerja dan berdoa.
"Hal unik juga dari bapa (Almarhum Jeremias) ialah selain memberikan ide untuk musik. Ia juga tanam padi. Bapa kan dulu petani yang kuat dan sangat dikenal sebagai petani yang kuat," ungkapnya.
Finalis dalam ajang pencarian bakat Indonesia's Got Talent pada tahun 2010 ini menjelaskan, sang ayah selalu menekankan pada seluruh anak-anak tentang pentingnya berdoa dalam segala hal.
"Satu nasehat dari almarhum karena filosofi yang tinggi dan sangat rohani. Sehingga selalu memberikan nasehat dan petuah dari firman Tuhan. Dia juga bilang katong (kami) jangan kejar berkat tapi katong pokoknya hidup selalu dalam perintah dan larangan Tuhan," katanya.
Selain itu, sejak dulu sang ayah mengharapkan bantuan dari semua pihak termasuk pemerintah untuk mengembangkan usaha pelestarian dan pengembangan Sasando yang telah dirintis.
"Selain menunggu mereka kami juga terus berusaha untuk membangun dimana ada perubahan yang ada sedikit demi sedikit dari ide bapa. Yang dia hanya mau tempat ini semua ada. Jadi orang mau cari segala hal terkait Sasando semua ada di sini. Dia mau tempat ini jadi sentral pelestarian dan pengembangan Sasando," papar Djidron.
Hal senada disampaikan oleh anak kedelapan dari Almarhum Jeremias Aogust Pah, Marleni Pah. Ia mengungkapkan, sang ayah ingin memiliki satu roomshow sebagai tempat khusus memamerkan dan memperkenalkan Sasando dan kebudayaan NTT kepada publik.
Hal tersebut, kata Markeni, merupakan satu mimpi yang belum terwujud hingga sang ayah menutup usia.
"Untuk usahanya ini dia (almarhum Jeremias) pernah bercerita ingin memiliki roomshow supaya memang diakui bahwa tempat ini sebagai tempat khusus untuk melestarikan budaya," ujarnya.
"Supaya seperti tempat pelestarian nilai budaya lainnya dimana punya fasilitas dan bangunan. Bapa (almarhum Jeremias) punya mimpi ingin memiliki tempat usaha yang ditata lebih baik lagi Perhatian dari pemerintah maupun semua yang cinta terhadap Sasando," tambahnya.
Selain itu, ia juga mengisahkan pesan sang ayah bagi generasi penerus untuk tidak hentinya menjadi aktor melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang ada di NTT.
"Bapa memberikan pesan bahwa NTT memiliki budaya yang sangat kaya, hanya saja ada niat tulus untuk mau melestarikan dan mengembangkan sehingga itu dikenal banyak orang, bukan saja dikenal untuk ramai tapi ada nilai yang berdaya saing, patut diperhitungkan serta mampu dipertontonkan di depan publik serta menghibur orang lain," paparnya.
Hal tersebut berdasarkan pengalaman sang ayah yang selama puluhan tahun memperkenalkan Sasando di dalam dan luar negeri.
"Pengalaman Bapa, eskipun kami terpencil di desa Oebelo. Tapi orang yang datang banyak dari luar negeri di tempat ini karena Sasando," tegasnya.