Berita Kabupaten Lembata Terkini

Susahnya Jalan ke Loang, Butuh Waktu Berjam-jam Tiba di Lewoleba

Jalur jalan ke Loang dan desa-desa lainnya di Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, harus dilalui warga dengan susah payah

Susahnya Jalan ke Loang, Butuh Waktu Berjam-jam Tiba di Lewoleba
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
Yeremias Doni, mantan Kepala Desa Warawatun, Kecamatan Nagawutun 

POS KUPANG.COM | LEWOLEBA -- Jalur jalan ke Loang dan desa-desa lainnya di Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, NTT, kini harus dilalui warga dengan susah payah. Di beberapa titik, para penumpang meminta turun dari kendaraan karena kondisi jalannya licin dan sulit dilalui kendaraan.

"Jalan ke Loang saat ini setengah mati. Begitu juga saat kami dari Loang ke sini (Lewoleba) butuh waktu berjam-jam lamanya. Dari Loang ke Belame yang biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit, kini harus menghabiskan waktu dua jam lebih. Saat ini kami sangat susah melewati ruas jalan yang ada."

Hal ini diungkapkan Yeremias Doni, mantan Kepala Desa Warawatun, Kecamatan Nagawutun, saat ditemui Pos Kupang.Com di Lewoleba, Rabu (2/1/2018) siang. Saat itu, Yeremias berada di Lewoleba untuk membeli barang-barang kebutuhan kiosnya.

Penggemar Slank Bersihkan Sampah di Lokasi Harnus Lembata

Dikatakannya, ruas jalan Loang-Lewoleba (pp) yang dilalui saat ini merupakan jalur jalan alternatif. Jalur jalan Lewoleba-Belang-Belame-Loang dan desa-desa lainnya di utara Nagawutun merupakan ruas jalan yang tak lagi digunakan warga, setelah pemerintah kabupaten membuka jalur utara yang melewati kali Waima beberapa tahun lalu.

BREAKING NEWS: Lakalantas di Bundaran El Tari Kupang, Belasan Penumpang Luka-luka

Saat ini, kata Yeremias, jalur utara yang melewati Kali Waima itu, tak bisa dilewati lagi, karena banjir besar dan jembatan Waima putus sejak sebelum Natal, 25 Desember tahun 2018 lalu. Olehnya, warga terpaksa melewati jalur alternatif yang sejak lama tak digunakan lagi.

Untungnya, lanjut dia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata melalui instansi teknis, yakni Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perhubungan (PUPRP) telah beberapa kali membersihkan ruas jalan tersebut dari pepohonan yang tumbang menutupi badan jalan serta badan jalan yang tergerus banjir selama beberapa tahun terakhir.

"Tadi saya baru sampai dari Desa Warawatun. Tapi setelah kendaraan yang kami tumpangi itu keluar dari Loang menuju Belame, di beberapa titik kami harus turun dari kendaraan. Jalannya licin terutama pada saat tanjakan sehingga kami terpaksa turun," ujarnya.

Ia juga membenarkan bahwa di desa tetangga, yakni Lusiduawutun, terjadi tanah longsor yang menutupi badan jalan sehingga tak bisa dilalui kendaraaan. Namun tanah longsor itu telah diatasi oleh warga setempat sehingga di lokasi itu sudah bisa dilalui kendaraan baik sepeda motor maupun roda empat.

Tentang longsoran di gunung Labalekan sehingga berakibat pada banjir besar menerjang alur kali di antara Desa Warawatun dan Lusiduawutun, Yeremias membenarkan adanya kejadian itu. Demikian pula soal warga yang mengungsi gara-gara kabar tentang banjir besar dari gunung Labalekan.

"Benar, ada warga yang mengungsi setelah mendapat berita tentang banjir besar itu. Tapi saya tidak. Saya di rumah saja," ujarnya. Ia mengatakan hujan dan banjir saat ini sepertinya terjadi terlalu cepat sebab biasanya hal ini terjadi pada akhir Januari atau Februari saat musim badai menerjang NTT.

Meski banjir dan tanah longsor kini merusak badan jalan dari dan ke Loang, namun ia meminta pemerintah agar selalu menyiagakan alat berat pada lokasi-lokasi rawan longsor dan banjir sehingga tidak mengganggu aktivitas masyarakat yang hendak bepergian. "Kami harap pemerintah memahami hal ini," ujarnya. (Laporan Reporter Pos-Kupang.Com, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved