Berita Nasional
Tujuh Profesor Universitas Gajah Mada ke Labuan Bajo
orang profesor, 3 doktor dan 2 pendamping dari Universitas Gajah Mada survei potensi sumber air Wae Bobo di Macang Pacar
Penulis: Servan Mammilianus | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS--KUPANG.COM Servatinus Mammilianus
POS--KUPANG.COM, LABUAN BAJO|Sebanyak 7 orang profesor, 3 doktor dan 2 pendamping, semuanya dari Universitas Gajah Mada (UGM), melakukan survei potensi sumber air Wae Bobo di Macang Pacar, untuk menjadi sumber air irigasi ke Sawah Terang di Boleng, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Mabar, Salvador Pinto, menyampaikan bahwa 12 orang dari UGM itu melakukan survei di Wae Bobo pada Hari ini, Senin (24/9/2018).
Baca: Jalan Provinsi di Mukun Mulus! Ini Harapan Warga
Baca: Begini Fakta Pencengkalan 3 TKI asal Soe! Lalu, Proses Penyelidikan Selanjutnya?
“Hari ini tim dari UGM tersebut melakukan survei ke lokasi untuk mengetahui tentang potensi sumber air, mereka melakukan feasibility study atau studi kelayakan,” kata Pinto.
Dia membenarkan bahwa tim dari UGM tersebut terdiri dari profesor, doktor dan tenaga pendamping.
Sepulang dari lokasi kata dia, tim UGM bersama petugas di Bappeda Mabar dan pihak terkait lainnya akan melaksanakan Focus Group Discution (FGD) di Kantor Bappeda, Selasa (25/9/2018), membahas kelanjutan tahapan tersebut.
Sebelumnya diberitakan, Wae Bobo di Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Mabar, telah disurvei oleh tim dari Bappeda setempat untuk menjadi sumber air irigasi ke persawahan Terang, Kecamatan Boleng.
Selama ini sawah itu merupakan sawah tadah hujan yang tergolong luas di NTT, yakni lahan potensial 3.500 hektar dan lahan fungsional 2.800 hektar.
Sumber air dari Wae Bobo itu nantinya bukan hanya untuk kepentingan irigasi tetapi juga untuk kebutuhan peternakan, perikanan dan manfaat lainnya atau multi sektor.
Sejumlah petani sawah di Terang, Kecamatan Boleng, meminta pemerintah dan DPRD setempat berusaha untuk membangun saluran irigasi ke persawahan itu dengan mengambil sumber air di Wae Bobo, Macang Pacar.
Selain berharap pada hujan, selama ini semua petani di lahan sawah itu mengairi sawahnya dengan menggunakan mesin penyedot air dari dua aliran kali, yakni Wae Lengkong dan Wae Kuse.
Dalam setahun, sebanyak tiga kali panen. Namun panen padinya hanya sekali, sedangkan sisanya panen kacang lalu panen jagung.
Survei dilakukan atas kerjasama antara pemerintah Mabar dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Gajah Mada (UGM).(*)