Berita Kabupaten Sikka

Peneliti University of Bern Swiss Beberkan Riset Perilaku Anjing di Sikka

Charlotte Warembourg dari Veterinary Public Health Institute University Of Bern Swiss membeberkan hasil riset Dampak Interaksi Anjing

Peneliti  University of Bern  Swiss  Beberkan  Riset Perilaku  Anjing di  Sikka
pos kupang.com, eugenius moa
Charlotte Warembourg dari Veterinary Public Health Institute University Of Bern Swiss, mempresentasikan riset Dampak Interaksi Anjing terhadap Dampak Pengendalian Rabies di Aula Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Sikka di Pulau Flores, Jumat (31/8/2019). 

Laporan Wartawan  Pos-kupang.com,Eginius Mo’a

POS-KUPANG.COM,MAUMERE---  Charlotte  Warembourg dari Veterinary Public Health  Institute University Of  Bern  Swiss akhirnya membeberkan  hasil riset Dampak  Interaksi  Anjing terhadap Dampak  dan Pengendalian  Rabies  di  Kabupaten  Sikka, Pulau  Flores,  Propinsi  Nusa  Tenggara  Timur,Jumat  (31/8/2018) di  Aula Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten  Sikka.

Penelitian  ini kelak  mengajikan kembali  apakah  rekomendasi   penanganan  rabies  masih  releven, dihadiri  para  dokter hewan  dari Bidang Kesehatan  Hewan,  Kepala Dinas  Pertanian Perkebunan dan Peternakan,Ir.Henky  Sali, dan  pegiat  rabis,  dr.Asep  Purnama, S.Pd.

Baca: Polisi Buser Polsek Buru Pelaku Begal Jalan Baru Alak-Kota Kupang

Charlotte  melakukan penelitian  ke Maumere melanjutkan kerjasama  dengan  Dr. Ewaldus  Wera, dari  Program Pendidikan Kesehatan  Hewan  Politeknik  Negeri  Undana  Kupang.Lima   tahun  yang lalu, Ewaldud melakukan riset  rabies di  Sikka  untuk  program doktoralnya di  Negeri  Belanda.

“Charlotte lakukan  penelitian  ini  untuk  program  doktoralnya.  Pembimbingan saya  dulu  di  Belanda, sekarang ini membimbing  Charolette. Saya  diminta melanjutkan kerjasama ini,“ kata  Ewaldus.

Penelitian  ini  mengidentifikasi faktor-faktor apa saja   dalam interaksi  anjing  berlangsung seberapa  lama terjadi dilakukan di Desa  Habi,  Kecamatan Kangae  untuk wilayah  populasi anjing tinggi. Desa  Hepang di Kecamatan Lela  untuk  populasi sedang dan  Desa Pogon di Kecematan  Waigete, daerah populasi anjing rendah.

Dalam  riset ini, kata   Ewaldus, anjing dipasang dengan  GPS, diambil darahnya, divaksinasi  rabies dan  mewawancarai pemilik  anjing.

“Dari  riset ini  ditemukan 43  persen  anjing divaksin dan  94  persen  anjing bebas  berkeliaran. Tentun  saja ini potensial menyebarkan  virus  rabies,” kata  Ewal  menjadi  penerjemah.

Meski  hasil penelitian  belum  menghasilkan  rekomendasi,  Ewaldus mengatakan cakupan  vaksinasasi  70  persen yang ditetapkan  badan  dunai  WHO tidak  bisa disamaratakan untuk  semua  wilayah.” Harus dilihat karakteristiknya. Tidak bisa disamakan,” kata  Ewaldus.*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help