Festival Budaya Bajawa Riung Nagekeo, Penonton Ngakak Disuguhi Tarian Burung Tekukur
Tarian Sara Kolong melambangkan kerja keras petani yang pantang menyerah menanam padi di ladang.
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Fredrikus Royanto Bau
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eginius Mo’a
POS-KUPANG.COM|MAUMERE - Sekelompok penari menunjukkan performa memikat membawakan tarian Sara Kolong dalam Festival budaya Bajawa, Riung, Nagekeo (Barina) Auditorium Nawa Cita Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Rabu (2/5/2018) malam.
Beberapa penari wanita mengenakan mahkota berbentuk burung menirukan gaya burung yang sedang mematuk padi.
Baca: Anggota Dewan dari Partainya Tertangkap Berjudi, Begini Tanggapan Ketua DPD Demokrat NTT
Dua penari pria yang sedang menirukan gaya petani menggali tanah, kemudian disusul empat penari wanita yang menaburkan benih padi.
Lalu datang keenam penari wanita sebagai burung tekukur mengais dan memakan benih padi .
Aksi para penari mampu mengocok perut para penonton.
Mereka berebutan memotrot aksi para penari dan memberi sambutan meriah.
Orni Benge (19), salah seorang penari menuturkan tarian berasal dari Desa Turuloa, Kecamatan Wolomeze, Riung.
Baca: Polemik Tidak Beroperasinya 50 Taksi Bandara, Begini Klarifikasi Danlanud El Tari Kupang
Sara Kolong dari suku kata Sara artinya “seperti” dan kolong yang artinya “burung tekukur”. Sara Kolong berarti Seperti Burung Tekukur.
Menurut Omo, tarian ini melambangkan kerja keras petani yang pantang menyerah menanam padi di ladang.
Meski padi baru ditanam dimakan dan dikais oleh burung tekukur, petani tidak putus asa.
Ia berusaha menanam kembali benih yang sudah dimakan oleh burung tekukur.
Baca: WOW! 5.250 Wisatawan Mancanegara Masuk Melalui Atambua Perbatasan RI-RDTL