PosKupang/

Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS Goyang Pagar Polres TTS, Ini Penyebabnya

Masa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS, Senin (16/4/2018), menggelar aksi demo menuntut Polres TTS

Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS Goyang Pagar Polres TTS, Ini Penyebabnya
POS-KUPANG.COM/DION KOTA
Massa Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS sedang berdemo di pagar depan Mapolres TTS, Senin (16/4/2018).

Laporan wartawan Pos-Kupang.Com, Dion Kota

POS-KUPANG.COM, SOE - Masa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS, Senin (16/4/2018), menggelar aksi demo menuntut Polres TTS segera menetapkan tersangka dalam kasus meninggalnya Marten Tana di Polres TTS dan kasus meninggalnya Paulina Herlince Takaeb dan bayinya di RSUD Soe beberapa waktu lalu.

Baca: Kadis Dukcapil TTS Akui Sulit Penuhi Keinginan Presiden Buat e-KTP Satu Jam, Ini Alasannya

Aksi demo tersebut didahului dengan long march dari Pasar Inpres Soe menuju Polres TTS.
Sambil berjalan kaki, masa membentangkan karton yang bertuliskan tuntutan kepada Polres TTS untuk mengusut tuntas dua kasus tersebut.

Massa Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS sedang berdemo di pagar depan Mapolres TTS, Senin (16/4/2018).
Massa Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS sedang berdemo di pagar depan Mapolres TTS, Senin (16/4/2018). (POS-KUPANG.COM/DION KOTA)

Secara bergantian, para pendemo menggelar orasi yang berisikan tuntutan kepada pihak Polres TTS. Sekitar pukul 11.30 Wita, masa pendemo tiba di depan Polres TTS.

Kedatangan para pendemo langsung disambut aparat Polres TTS dengan menutup rapat pagar depan Polres TTS. Selain menutup rapat pintu pagar, di bagian depan dan belakang pagar dijaga belasan anggota Polres TTS.

Baca: Panwaslih TTS Segera Keluarkan Rekomendasi Terkait Penggunaan Mobil Plat Merah

Masa yang minta masuk ke dalam Polres TTS guna melakukan tatap muka dengan Kapolres TTS tidak diperbolehkan oleh aparat polisi yang berjaga di depan pagar.

Massa Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS sedang berdemo di pagar depan Mapolres TTS, Senin (16/4/2018).
Massa Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS sedang berdemo di pagar depan Mapolres TTS, Senin (16/4/2018). (POS-KUPANG.COM/DION KOTA)

Kesal dengan sikap aparat Polres TTS tersebut, masa langsung memegang pintu pagar dan menggoyang-goyangkan pagar tersebut. Sempat terjadi adu mulut antara pendemo dan aparat kepolisian, namun tidak para pendemo tetap tak diizinkan masuk.

Sempat dilakukan perundingan antara pihak pendemo dan aparat Polres TTS agar pihak Polres TTS mau menerima para pendemo guna dilakukan tatap muka. Namun sayangnya, karena tidak ada titik temu, pertemuan antara pendemo dan Kapolres TTS urung terlaksana.

Koordinator lapangan Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS, Leksi Tamonob mengaku kecewa dengan sikap Kapolres TTS yang enggan menemui para pendemo. Ia mengatakan, sikap tersebut jauh berbeda dengan sikap Presiden Joko Widodo yang tak enggan untuk bertemu dengan masyarakat.

Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS memberi waktu satu bulan kepada Polres TTS untuk segera menentukan tersangka dalam kasus meninggalnya Marten Tana di Polres TTS dan kasus meninggalnya Paulina Herlince Takaeb dan bayinya di RSUD Soe. Jika dalam tenggang waktu yang diberikan tuntutan tersebut tak dipenuhi, masa meminta Kapolda untuk segera mencopot Kapolres TTS. (*)

Penulis: Dion Kota
Editor: Kanis_Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help