Pilkada dan Makelar Kebencian

Konsolidasi politik seperti itu adalah keniscayaan dalam demokrasi elektoral, sebab hanya dengan begitulah publik bisa

Pilkada dan Makelar Kebencian
ilustrasi

Oleh: Inosentius Mansur
Pemerhati sosial-politik dari Seminari Ritapiret -Maumere

POS KUPANG.COM-- Tidak lama lagi, perhelatan demokrasi elektoral akan dilaksanakan. Kita bersyukur karena beberapa calon pemimpin sudah ditentukan dan kini sedang "mendekatkan" diri kepada masyarakat.

Konsolidasi politik seperti itu adalah keniscayaan dalam demokrasi elektoral, sebab hanya dengan begitulah publik bisa menilai siapa calon yang layak untuk diberi kepercayaan.

Rakyat memang pantas untuk mendapatkan informasi yang komprehensif tentang calon pemimpin agar tidak salah dalam memberikan pilihan politik. Tentu saja kita berharap agar para calon pemimpin menyadari bahwa mereka juga adalah "elite-elite sosial" yang mesti memberikan edukasi politik yang benar kepada rakyat.

Mereka harus mampu menampilkan diri sebagai tokoh yang memastikan bahwa momentum elektoral tidak menciptakan situasi distortif. Mereka harus menjadi agen yang mengindari bahaya polarisasi dalam masyarakat lantas menyebabkan sendi-sendi sosial terfragmentasi secara masif-destruktif.

Namun demikian, agaknya harapan seperti ini tidak mudah terwujud. Kalau kita perhatikan, cikal bakal distorsi dan polarisasi sudah mulai bermunculan. Ruang publik kita telah menjadi forum untuk menyebarkan politik kebencian.

Saling hujat kini mulai bertumbuh ibarat rumput di musim hujan. Kalau tidak diantisipasi secara baik, maka hal semacam ini akan memproduksi cara berpolitik yang nirdemokratis. Alih-alih menjadi momentum elektoral bermartabat, Pilkada kita bisa mengandung embrio perpecahan diantara masyarakat.

Makelar Kebencian

Harus diakui bahwa salah satu metode berkampanye yang akhir-akhir ni cukup tren (mungkin juga dipandang efektif) adalah viralisasi kebencian melalui ruang publik (seperti media sosial).

Kebencian didesain secara pragmatik, lantas menggunakan isu-isu sensitif sambil secara elegan mengaduk-aduk emosi publik.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help