PosKupang/

Bupati Luwu Timur Mengaku Belu sebagai Kampungnya, Begini Kisahnya!

Husler mengungkapkan pada tahun 1960-an ia pernah menjadi salah satu remaja Udayana yang tinggal di Makodim Belu.

Bupati Luwu Timur Mengaku Belu sebagai Kampungnya, Begini Kisahnya!
POS KUPANG/EDY BAU
Bupati Luwu Timur, Thoriq Husler foto bersama Dandim 1605/Belu, Letkol (Czi) I Gusti Putu Dwika dan unsur Forkopimda Belu foto bersama usai upacara Hari Juang Kartika di Makodim 1605/Belu, Jumat (15/12/2017). 

Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Edy Bau

POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Bupati Luwu Timur, M. Thorig Husler menghadiri acara peringatan Hari Juang Kartika di Atambua, Kabupaten Belu, Jumat (15/12/2017).

Kegiatan dilaksanakan Kodim 1605 Belu.

Ternyata Husler yang berasal dari Sulawesi Selatan memiliki ikatan emosional dengan Belu.

Husler mengungkapkan pada tahun 1960-an ia pernah menjadi salah satu remaja Udayana yang tinggal di Makodim Belu.

Husler mengisahkan masa kecilnya berada di Atambua hingga beranjak remaja dan tamat SMA.

"Boleh dibilang, saya lahir dan besar di sini. Tempat bermain saya di Tenu Bot. Teman-teman bermain juga masih ada yang di sini. Bersama orang tua, kami hidup di sini bersama masyarakat. Hingga, saya sekolah di SMA di sini pada tahun 1982," tutur Husler.

Meski menjadi kepala daerah di Sulawesi Selatan, Husler mengaku Belu merupakan kampungnya karena pernah bersama orangtuanya yang menjadi anggota TNI dan bertugas di Kodim Belu.

"Kabupaten Belu, kampung saya sendiri. Saya baru sempatkan diri ke sini. Sebelumnya, saya mau ke sini saat menjabat wakil bupati. Tapi tidak sempat. Karena Tuhan berkenan, saya terpilih menjadi bupati, baru saya sempatkan diri saat ini," ujar Husler.

"Saya tidak menyangka kalau datang kembali dan suasananya sudah berubah. Saya tidak menyangka, saya bisa jadi bupati dan pulang kembali ke Belu," tambahnya.

Dalam upacara peringatan Hari Juang Kartika, Jumat (15/12/2017), Dandim 1605/Belu, Letkol (Czi) I Gusti Putu Dwika mengatakan TNI terus manunggal dengan rakyat untuk membangun daerah, khususnya di daerah perbatasan RI-RDTL.

Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan tanggung jawab bersama semua elemen baik itu tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, pemerintah dan semua instansi termasuk TNI dan Polri.

Khusus untuk prajurit TNI, Letkol I Gusti Putu Dwika mengatakan bahwa TNI perlu merasa enjoy dalam melaksanakan tugas dan membangun kebersamaan dengan masyarakat untuk menjaga kedaulatan negara.

"Tanah sejengkal pun tidak boleh diambil. TNI adalah kekuatan pertahanan negara. TNI manunggal dengan rakyat, karena TNI dan rakyat tidak dapat dipisahkan satu sama lain," tandasnya.(*)

Penulis: Frederikus Riyanto Bau
Editor: Alfons Nedabang
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help