Minggu, 10 Mei 2026

Gereja SMS

Solidaritas terjadi bila orang beralih dari cara hidup duniawi menuju gaya hidup baru yang diresapi oleh nilai injili (pertobatan).

Tayang:
Editor: Benny Dasman

Sinode III meyakini bahwa solidaritas demikian menuntut transformasi (pembaharuan) kehidupan Gereja Keuskupan Ruteng (cahir a'ti pa'ti na'i; retus ata we'run, dolong ata kop'n, pola ata momang; indang ata di'an). Hal ini mencakupi tiga unsur. Pertama, pembaharuan diri yang meliputi pola pikir dan perilaku yang dituntun oleh Rohkudus.

Solidaritas terjadi bila orang beralih dari cara hidup duniawi menuju gaya hidup baru yang diresapi oleh nilai injili (pertobatan). Kedua, pembaharuan hidup gerejawi yang meliputi baik gaya pastoral maupun struktur yang kondusif. Gereja Keuskupan Ruteng mesti keluar dari 'keong emas' kemapanan struktural, kekakuan norma dan kenyamanan kehidupan dan menjadi Gereja 'pintu terbuka' yang menjadi kanal yang mengalirkan rahmat Allah yang berlimpah ruah di bumi Nucalale. Ketiga, pembaharuan kehidupan masyarakat. Gereja berkewajiban terlibat dalam perjuangan mewujudkan masyarakat Manggarai Raya yang adil, sejahtera, damai dan bersolider.

Dalam konteks zaman yang semakin materialistis, konsumeristis, hedonistis dan individualistis, Gereja Keuskupan Ruteng mesti menjadi sebuah komunitas alternatif (kontras). Dalam komunitas ini yang menjadi prinsip dasar bukanlah perhitungan untung rugi tetapi solidaritas, yang menjadi sumber sukacita bukanlah kenikmatan materiil tetapi kerelaan berbagi rahmat Allah serta yang menjadi tujuan kehidupan bukanlah kelimpahan duniawi tetapi kepenuhan surgawi.*

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved