Rabu, 10 Juni 2026

(Tidak) Ada Preman di Kampus

ini terbelalak, dada ini berdetak kencang manakala tatapan mata

Tayang:
Editor: PosKupang
POS KUPANG.COM, MATA ini terbelalak, dada ini berdetak kencang manakala tatapan mata tertuju pada judul provokatif pemberitaan media lokal soal kasus pemukulan di kampus fakultas Teologi (FTh) awal bulan ini. Rasanya tidak percaya bahwa di ‘kampus anggur’ ini masih ada preman kecil yang sok main ‘angkat tangan’ dan menjadikan yuniornya menjadi sasaran empuk bogem mentah sang Senior. Tahun lalu kampus tercinta itu menjadi sorotan manakala sejumlah mahasiswa melakukan aksi protes ke kantor Sinode akibat menuntut penyelesaian konflik intern dalam kampus antara fakultas dan yayasan, kali ini kasus baru mencuat yang bikin hati tambah miris dengan pemberitaan koran lokal.

Sebelas tahun lalu ketika masuk Fakultas Theologia/Teologi saya nyaris tidak percaya bahwa pola pembinaan selama mengikuti masa Orientasi Pendidikan (Ordik) dan Masa Bimbingan (Mabim)  harus dihadapkan pada keadaan yang seperti “di dunia” lain karena kami menjalani masa pengenalan kampus yang ibaratnya semi militer.

Beberapa teman cewek/cowok pun dibuat terganggu secara psikologis pada masa ini. Ketika di kampus barulah kami tahu bahwa pola seperti itu sudah biasa dialami oleh setiap mahasiswa baru sejak zaman senior-senior terdahulu tetapi hal itu dianggap lazim sebagai bagian persiapan diri dan mental menjadi calon pelayan Tuhan. Saya tidak berani mengatakan bahwa itu adalah suatu budaya di kampus kami sebab tidak semua pihak yang setuju/sejiwa dengan “budaya” tersebut.

Pada kesempatan ini saya secara pribadi tidak bisa menghakimi senior yang dituduhkan sebagai pelaku pemukulan terhadap yuniornya karena belum mengetahui sebab musabab dan motivasi pemukulan tersebut maka sejatinya kita sebagai pihak-pihak dikampus/diluar kampus tidak boleh serta merta memberikan pernyataan sepihak yang mendiskreditkan pelaku dan kampus Teologi secara parsial. Saya berpikir kita mesti “mendengar lebih banyak” sehingga bisa memberikan pernyataan dengan lebih obyektif dan komprehensif serta bertanggung jawab. Saya percaya bahwa tidak semua senior di kampus Teologi berlaku sedemikian rupa dan juga kampus tidak pernah melegalkan praktik-praktik tadi terjadi di lingkungan kampus/asrama Teologi sehingga upaya untuk melakukan generalisasi pelaku dapat ditiadakan.

Sebagai seorang senior di kampus biasanya mereka merasa punya tanggung jawab moral untuk membimbing yunior mereka tentang keadaan di kampus dengan segala dinamikanya dan bagaimana menempatkan diri sebagai yunior yang baik terhadap para dosen, karyawan serta para senior. Berhadapan kenyataan pemukulan tersebut maka sepantasnya porsi senior untuk terlibat dalam proses pembimbingan mahasiswa baru agar ditinjau kembali sebab mengingat senior sering mengedepankan ego sebagai yang mesti ‘dituakan’ di kampus dan mengopti-malkan fungsi dan peranan chaplain (bapak/ibu asrama sebagai pembina asrama) guna meminimalisir konflik senior-yunior dimana asrama merupa-kan locus kekerasan acap kali terjadi.

Sebagai seorang alumni saya pun segan menyorot kasus pemukulan ini sebagai ibarat gunung es yang nampak di permukaan tetapi menyimpan se-jumlah masalah yang sudah terakumu-lasi dengan kasus-kasus sebelumnya.
Saya tidak menghendaki kampus tercinta itu diidentikkan dengan kampus STPDN/IPDN di Jatinangor yang menjadi bulan-bulanan media dan menjadi sorotan nasional atas perilaku senior disana. Catatan ini pula tidak sedang menjadikan saya sebagai seorang whistle blower (peniup peluit) atas pusaran masalah yang sedang mendera almamater kami tercinta. Bagi saya masalah ini mesti ditindaklanjuti secara serius oleh seluruh stakeholder civitas akademika Unkris Artha Wacana sebagai “teguran” atau “warning” dari Tuhan agar ke depan tidak lagi kita dengar kasus-kasus seperti ini mencuat dan menjadi aib terhadap kewibawaan, kemuliaan dan image ‘Kampus Anggur’.

Pesan saya/kami segenap alumni fakultas Teologi agar para dosen dalam waktu dekat memberikan pernyataan di media atau gereja bahwa ada upaya konstruktif yang di lakukan pihak fakultas untuk mengusut tuntas dan meng-clear-kan masalah ini dengan berlaku adil dan bijaksana. Kami percaya para pendeta di kampus Teologi dapat menjadi pastor/bapak yang tegas sekaligus adil dengan semangat kekeluargaan demi terwujudnya win-win solution bagi pelaku serta korban. Kami percaya bahwa dengan tuntunan Roh Kudus maka tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.

Pada akhirnya marilah kita menyikapi masalah ini sebagai “berkat tersamar” dari Allah agar melalui masalah ini fakultas Teologi dapat menemukan jati dirinya serta berbenah diri sebagai kampusnya calon-calon abdi Allah yang tidak saja cerdas, berkarakter, berkepribadian, beriman dalam spiritualitasnya, santun, bermoral dan beretika. Ingat bahwa ke depan dalam waktu dekat ini calon-calon mahasiswa baru akan menjalani test masuk Fakultas Teologi sehingga kasus ini tidak di blow up sedemikian rupa yang dapat memberi ekses negatif dan preseden buruk terhadap citra fakultas Teologi di masa depan.

Bahwa yang terlibat itu hanyalah oknum-oknum yang khilaf dengan tindakan uncontrol-nya. Semoga inipun menjadi efek jera bagi siapapun entah dia senior ataupun yunior sebab hanya “diri sendiri” (own self) yang mampu mengontol setiap pribadi. Kami tidak mau lagi mendengar ada masalah yang mencoreng-moreng,menjadi bopeng dan borok “wajah” ‘Kampus Anggur’ yang membuat kami malu! Demikian. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved