Rabu, 10 Juni 2026

Melihat Sisi Rapuh Ekonomi Indonesia

semester kedua tahun 2012, Indonesia dihadapkan dengan situasi ekonomi yang terancam melandai.

Tayang:
Editor: PosKupang
POS-KUPANG.COM, OPINI --- MEMASUKI semester kedua tahun 2012, Indonesia dihadapkan dengan situasi ekonomi yang terancam melandai. Pertama, krisis finansial Eropa yang terus melemahkan ekspor. Kedua, nilai tukar rupiah yang kian terdepresiasi. Minggu-minggu ini (Juni 2012), nilai tukar rupiah kita terjun bebas, hingga mendekati 9.600 per US$. Tingkat volatiltas pasar uang di Indonesia yang kian  tinggi,  membuat investor tak mau mengambil risiko. Investor lebih memilih melarikan uangnya ke kawasan ekonomi aman investasi (safety zone investment). Akibatnya nilai rupiah dan moneter kita goyah.

Dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) 2013, pemerintah begitu optimis, untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8-7,2 persen. Alasannya, konsumsi dalam negeri masih menjadi alas pijak yang baik untuk mendorong pertumbuhan. Dengan alasan ini, maka bukan berarti pemerintah menafikan sektor perdagangan (tradable) dan investasi yang semakin ke sini kian memburuk. Demikianpun variabel makro lainnya terancam krisis global.  

Kinerja ekonomi pemerintah belum begitu nampak pada tahun 2012. Pemerintah selalu berdalih, bahwa pertumbuhan ekonomi prospektif, karena  ditopang konsumsi domestik yang terdiri dari konsumsi masyarakat  dan konsumsi pemerintah. 

Dalam hemat kita, pemerintah perlu memilah lagi antara tingkat konsumsi masyarakat miskin dan kelas menengah ke atas. Selama ini, pertumbuhan ekonomi  lebih dikontribusi oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Persoalannya, berapa besar kontribusi konsumsi rakyat miskin terhadap konsumsi domestik? Demikian pun berapa besar kontribusi konsumsi pemerintah dalam hal belanja modal terhadap konsumsi domestik? Sampai saat ini belum ada data spesifik pemerintah terkait pertanyaan di atas.

Goncangan Ekspor Kita
Perlu juga kita risaukan saat ini adalah, laju impor lebih kencang dari pertumbuhan eskpor. Kondisi ini menyebabkan neraca perdagangan kita anjlok. Dari catatan BPS bulan ke-4 2012, neraca perdagangan kita pada April 2012 mencapai US$ 641,1 juta.

Jika dihitung, selama 4 bulan pertama 2012, neraca perdangan Indonesia memang masih mencatat surplus sebesar US$ 2,128 miliar. Tapi kalau dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu (2011), maka neraca perdagangan  kita melorot hingga 75% (Sumber: Samuel Sekuritas yang dirilis Senin 4 Juni 2012)

Di sisi lain, ekspor industri dan pertanian yang menjadi vital pertumbuhan dan daya tahan ekonomi, menurun drastis. Berdasarkan data BPS April 2012, ekspor hasil industri periode Januari-April 2012 turun sebesar 0,74 persen dibanding periode yang sama tahun 2011. Demikian juga ekspor hasil pertanian turun 2,97 persen.  Sebagai catatan, selama ini sektor industri dan pertanian memegang peran penting dalam ketahanan ekonomi nasional. Kedua sektor ini juga menyerap tenaga kerja jauh lebih besar.

Sektor industri misalnya, pada tahun 2011, mampu menyerap tenaga kerja sebesar 7,74 juta orang. Dan Sektor pertanian menyerap tenaga kerja pada tahun 2011 sebesar 39,3 juta orang, atau merupakan 33,51 % dari jumlah total angkatan kerja nasional. Kecenderungan menurunnya tren kedua sektor ini, harus menjadi catatan kritis bagi pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Dengan kondisi seperti ini, pemerintah harus memikirkan hilirisasi Industri dan pertanian. Dalam rangka bisa mengurangi ketergantungan pada barang dan modal serta bahan baku penolong dari luar negeri. Jika tidak, dalam jangka panjang arus impor barang modal dan barang setengah jadi akan terus masuk dan menguasai pasar dalam negeri.

Melambatnya sektor perdangan Indonesia ini, akan semakin diperparah oleh krisis global pada tahun 2013 kelak. Gambarannya adalah  selama ini untuk memenuhi kebutuhan industri, negara tujuan ekspor Indonesia seperti Cina mengimpor bahan baku, setengah jadi dan terutama batu bara dari Indonesia.
Dari ekspor bahan baku inilah, hasil industri Cina dapat diekspor ke Eropa dan tumbuh pesat. Ekspor China ke Eropa terhitung signifikan yaitu sebesar 16 persen dari keseluruhan kegiatan perdagangannya (LIPI 2012).

Namun ketika krisis Eropa semakin parah, maka pertumbuhan Ekspor Cina ke Eropa pun terancam melambat. Lambatnya ekspor Cina ke Eropa, otomatis menghambat ekpor bahan baku dan dan barang setengah jadi terutama batu bara dari Indonesia ke Cina.

Berdasarkan data BPS 2012, pasar ekspor terbesar Indonesia adalah China, Jepang dan AS. Pangsa pasar ketiga negara tersebut mencapai 34,35 persen dari total ekspor Indonesia. China dengan US$7,04 miliar dari total ekspor Indonesia tahun ini. Diperkirakan nilai ekspor ini akan terus tergerus seiring menurunnya ekspor Cina ke negara kawasan Eropa. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved