Senin, 13 April 2026

Sepatu yang Ditinggalkan

LIMA pasang sepatu tergetak pada tempatnya. Ada yang kumal ada juga yang bersih neces. Entah sudah berapa lama sepatu itu berada di situ.

Editor: Alfred Dama
zoom-inlihat foto Sepatu yang Ditinggalkan
Net
Ilustrasi

Cerpen Djho Izmail

LIMA pasang sepatu tergetak pada tempatnya. Ada yang kumal ada juga yang bersih neces. Entah sudah berapa lama sepatu-sepatu itu berada di situ. Sepatu-sepatu itu sendiri tidak mengingatnya lagi. Mereka lupa akan semuanya. Otak mereka telah hancur akibat terus diinjak tanpa belas kasihan. Mereka adalah sepatu-sepatu untuk manusia yang sering dipakai dan dicampakan setelahnya.

Sepasang sepatu kulit berwarna coklat dengan moncongnya yang meruncing ke depan sedikit bergeser ke tengah. Keempat pasang sepatu yang lainnya mengambil posisi masing-masing. Mereka melingkar. Layaknya ada konferensi dalam meja yang bundar. Bukan bulat, karena bentuk mereka boleh dibilang oval. Seperti telur ayam. Sepatu kulit coklat tadi mulai berdehem. Semua diam. Hening seketika. Mendengarkan kisahnya.

Aku dulu adalah sepatu yang bagus. Merek yang sering dicari orang. Lelaki kaya. Lelaki perlente. Bahkan para aktivis kampuspun ikut-ikutan mencari aku. Aku sangat digandrungi, karena modelku yang bagi mereka sangat sempurna. Aku menjadi ikon bagi kaki setiap lelaki.

Bagi para manusia yang berjenis kelamin lelaki itu, mereka akan sangat percaya diri apabila telah menggunakan aku. Bahkan aku menjadi salah satu bagian dari bentuk rayuan mereka secara tersirat. Kalian tahukan. Manusia yang berjenis kelamin wanita itu. Mereka sekarang pandai mengamalkan cinta.

Cinta yang dulu kebanyakan orang menganggap buta, karena tidak memandang berbagai status sosial, ras, agama maupun asal muasal sekarang telah membuka matanya. Cinta sudah buka mata. Sangat lebar.

Cinta yang dipraktekan oleh para wanita itu adalah cinta ada apanya. Bukan cinta ada apanya. Mereka akan sulit jatuh cinta hanya karena ada getaran hati. Itu suatu kebohongan. Bahwa cinta berasal dari getaran hati. Chemistry. Cinta bagi mereka adalah ketika mereka melihat. Melihat setiap lelaki yang kira-kira memiliki cukup barang fana. Bila melihat lelaki yang memakai aku, mereka tentu akan berdebar jantungnya.

Aku masih ingat waktu itu. Aku masih di tempat aku dipajangkan. Hilir mudik lelaki datang mangamati aku.

Memegang. Melihat-lihat. Saling bertukar pikiran dengan teman lelaki atau teman perempuan, mungkin juga pacarnya. Anehnya mereka segera minggat dari tempat aku dan kumpulan teman sejenisku. Kalian tahu mengapa mereka meninggalkan aku? Aku sendiri juga tidak tahu.

Mungkin karena ah, itu karena setelah mereka melihat label harga yang tergantung di kepalaku. Aku tak mengerti kenapa mereka begitu kaget bahkan seperti ketakutan melihat setan, begitu melihat label harga itu.

Mungkin label harga itu kurang menarik. Tidak cocok dipasangkan pada sepatu yang begitu bagus macam aku. Atau?

Aku masih ingat ketika suatu sore. Seperti biasa di tempat aku dipajang di toko sepatu itu. Sepasang manusia datang. Seorang lelaki yang berumur kira-kira tiga puluhan tahun menghampiriku. Memegangku. Membolak-balikanku. Melihatku dari berbagai sudut. Aku jadi malu waktu itu karena dilihat terus begitu. Tapi, aku diam saja, karena itu memang nasibku.

Seorang wanita yang tadi datang dengannya, menghampiri lelaki itu. Mereka lalu bercakap-cakap dalam bahasa manusia. Si wanita yang mungkin juga istri dari lelaki itu berbicara dengan suara agak meninggi. Ekspresinya juga tidak seperti ketika ia baru masuk toko itu. Tak ada senyum lagi ketika mereka sedang berbicara. Lelaki juga ikut-ikutan meninggikan suaranya.

Aku cuma diam melihat tingkah mereka. Mereka masih saja berbicara. Kali ini suara mereka sedikit diperkecil, karena tadi ketika mereka berbicara dengan suara tinggi semua pengunjung toko tempat aku dipajangkan melihat ke arah mereka. Aku masih tidak mengerti, karena aku memang tidak mengerti bahasa manusia.

Si wanita tadi semakin lembut suaranya. Ia berbicara sambil tangannya bergelayut manja di lengan lelaki tadi. Samar-samar aku bisa menangkap suara wanita itu, tapi tidak aku mengerti maksudnya.

Sayang, biarlah sudah. Toh, lain kali kalau kita ada rezeki lebih pasti kita akan ke sini lagi untuk membeli sepatu ini. Lihat saja harganya. Dengan harga begini, cukup untuk membeli sekarung beras lima puluh kilogram. Ingat, uang sekolah anak kita semester ini belum dibayar. Ingat juga susu Si Kecil belum kita beli.

Setelah berkata bergitu, lelaki tadi mengangguk pelan. Aku tak tahu apa artinya. Mereka kemudian berjalan ke tempat lain di toko itu. Sedikit melihat sepatu-sepatu jenis lain. Lalu aku tak memperhatikan mereka lagi, karena tampak tiga lelaki datang ke arahku sambil berguyon riang.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved