TTU Sentra Pembibitan Jagung
Hasilnya lumayan, mencapai empat ton sampai enam ton jagung per hektar.
Pada lahan percontohan atau demplot benih jagung unggul seluas 70 hektar yang tersebar di 70 desa ditanam jagung jenis komposit dan hybrida. Hasilnya lumayan, mencapai empat ton sampai enam ton jagung per hektar. Benih jagung yang dikembangkan pada lahan tersebut disumbangkan Kementerian Pertanian Tanaman Pangan.
Hasil pembenihan jagung unggul tersebut tentu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan benih jagung bagi para petani lahan kering di TTU pada masa-masa mendatang. Dengan demikian, petani tidak lagi mengeluh kekurangan atau ketiadaan benih jagung pada setiap kali musim tanam tiba. Tidak sekadar menjadi lahan percontohan, tetapi ke depannya TTU harus didorong menjadi daerah sentra pembibitan jagung unggul untuk memenuhi permintaan atau kebutuhan bibit para petani di daerah-daerah di NTT.
Jika harapan ini terwujud, kita yakin para petani jagung di NTT tidak akan kesulitan mendapatkan benih jagung pada musim tanam tahun-tahun mendatang. Sebab, pengalaman selama ini banyak petani lahan kering di sejumlah daerah saat musim tanam tiba selalu mengeluh kekurangan, bahkan ketiadaan bibit jagung. Keluhan ini selain memang tidak ada benih jagung, juga karena benih jagung yang disimpan petani sudah dikonsumsi akibat kekurangan bahan pangan yang dialami petani itu sendiri.
Kabupaten TTU perlu didorong menjadi sentra pembibitan jagung, juga bertujuan untuk mendukung program pengembangan jagung yang dicanangkan Pemerintah Propinsi NTT sejak awal kepemimpinan Drs. Frans Lebu Raya, dan Ir. Esthon L Foenay, M.Si, beberapa tahun lalu. Melalui program itu diharapkan bisa mendukung ketahanan pangan masyarakat NTT ke depan.
Kalaupun sampai saat ini belum diketahui realisasi produksi jagung secara keseluruhan di NTT dari program jagung tersebut, bukan berarti program itu tidak jalan. Mungkin pemerintah daerah belum mengevaluasi seberapa besar dampak ekonomi program itu terhadap persediaan bahan pangan bagi rakyat di daerah ini.*